Oleh:  Petrus H. Haryanto*

Raut mukanya terlihat muram. Senyumnya tak terlihat. Ogah-ogahan dia bangun dari tempat tidurnya setelah selesai cuci darah. Tiada semangat dan gairah.

Tidak seperti biasanya, anak muda ini periang. Kalau berbicara sangat ekspresif. Sehabis cuci darah, biasanya ia tak langsung pulang. Dia hampiri satu persatu temannya yang belum selesai cuci darah. Seringkali dia menggoda dan bercanda dengan teman-temannya. Para perawat juga tak luput dari kejailannya..

Sehabis menimbang berat badan kering, biasanya Tony Samosir hampiri dokter Risa. Ia adalah dokter HD (Hemodialisa) di klinik kami. Diajaknya dokter berparas mungil nan cantik itu berdiskusi. Mulai dari persoalan medis sampai dengan kebijakan publik.

Kali ini dia malas menyapa teman-temannya dan tak menghampiri dokter itu. Dia menghampiriku yang masih melakukan cuci darah.

“Pak Har, kayaknya aku tidak mungkin operasi cangkok ginjal. Pihak RSCM hanya berjanji saja tanpa realisasi. Nasib saya digantung sama mereka,” ujarnya dengan nada sedih.

“Kita harus berbuat sesuatu. Aku nanti akan hubungi Adi. Minta bantuan dia agar melobi anggota DPR. Kita libatkan anggota dewan untuk  menyelesaikan kasusmu,” kataku  menenangkannya.

“Iya lah Pak Har, hubungi mas Adi ya,” ujarnya  balik.

Kami berdua bergegas pulang. Dia menumpang Pak Ngadiman. Pak Ngadiman pasien cuci darah juga. Istrinya yang mengendarai mobil. Tony sudah dianggap seperti anaknya sendiri karena saking akrabnya. Bahkan Pak Amir sering menjuluki Tony anak angkat Pak Ngadiman.

Aku sendiri memilih naik Gojek. Sengaja tidak meminta dijemput istriku. Sore hari di hari Rabu jalanan macet. Aku takut membonceng motor istriku. Penyebabnya, ya berat badanku yang gede ini, membuat istriku tidak stabil mengendarai motor di jalanan yang macet.

Malam harinya aku hubungi Adi. Dia temanku di kantor. Dia staff ahli anggota DPR. Sudah 6 bulan aku tidak bertemu dengannya, karena aku cuti selama itu. Serangan stroke yang aku alami menyebabkan aku tak mampu bekerja.

Adi berjanji akan hubungi ibu Amelia Angraeni, anggota komisi IX dari Fraksi Nasdem.

 

Terjangkit Hepatitis

Minggu berikutnya, di media massa muncul isu penangkapan sindikat jual beli ginjal ilegal. Bahkan isunya mengarah ke RSCM.  Ditengarai ada oknum dokter yang terlibat di rumah sakit rujukan nasional itu. Bahkan, Bareskrim mengeledah rumah sakit itu untuk mencari barang bukti.

Di kepalaku langsung muncul ide agar KPCDI mengangkat kasus Tony juga. Dia langsung ku hubungi. Dia menyatakan setuju.

Ketika bertemu di JKC, tempat kami cuci darah, kami berdua membicarakannya panjang lebar. Kami berdua menyimpulkan kebijakan RSCM yang menggantung operasi Tony harus dilawan.

“Pak Hari yang membuat stetmennya ya,”.

“Ok, nanti akan kutulis waktu cuci darah,”.

Setelah dipanggil suster dan memulai proses cuci darah, pikiranku fokus merampungkan stetment. Kedua jempolku dengan lincahnya menari-nari di ponsel Balckberry ku. Alat inilah yang selalu menemaniku saat cuci darah. Dia juga andalanku untuk menulis.

Pikiranku juga melayang kepada kesedihan yang dialami Tony. Sangat wajar dia sedih dan terpukul. Sudah satu tahun ini dia mempersiapkan operasi cangkok ginjal itu. Puluhan juta melayang untuk pemeriksaan dan pengobatan pre cangkok ginjal.

Setahun lalu, ketika sudah dijadwalkan, harus molor karena dia terkena hepatitis c. Terlebih dahulu dia harus mengobati hepatitis C-nya itu.

“Setiap mendapat suntikkan emosiku meningkat. Muncul gangguan mental dan psikis. Dampak  lainnya  HB dan trombosit menurun, nafsu makan berkurang serta gangguan emosional. Setiap Minggu, saya harus mendapat suntikan peginterferon alfa-2a,” ujarnya saat itu kepadaku.

Membutuhkan waktu lebih dari satu tahun agar virus hepatitis C-nya menghilang dari tubuhnya.

Bukan hanya waktu dan tenaga yang terbuang. Puluhan juta rupiah sudah dia keluarkan. Pemeriksaan kesehatan istrinya sebagai pendonor dan dirinya telah menguras uang dari kantong pribadinya. BPJS Kesehatan hanya menanggung saat operasi sebesar 250 juta dan obat paska operasi.

Yang paling menyedihkan tentu impiannya untuk memperoleh ginjal ketiga bisa pupus. Dengan cangkok ginjal hidupnya akan berkualitas. Tidak perlu diet minum lagi. Siksaan dari rasa haus akan berakhir. HB-nya juga akan meningkat, yang berarti stamina meningkat. Dan yang penting dia sudah tidak perlu datang ke klinik cuci darah lagi. Seminggu tiga kali HD telah merampas waktunya, dan dia sudah jalani enam tahun lamanya.

 

Dugaan Komersialisasi Cangkok Ginjal Di RSCM

Menjelang tanggal tanggal 5 Januari 2016 dia dipanggil oleh Tim Transplantasi RSCM yang dipimpin Prof. Dr. dr. Endang Susalit SpPD-KGH. “Anda harus cost sharing. Di RSCM hanya tersedia kelas VVIP. Tidak ada kelas 3 untuk rawat inap untuk transplantasi ginjal,” ujarnya.

Saat itu Tony sangat terpukul. Dia adalah pemegang BPJS PBI (Penerima Bantuan Iuran). Kartu BPJS-nya setara dengan kelas 3. Untuk naik ke VVIP masih membutuhkan ratusan juta rupiah lagi.

“Kok ya tidak setahun lalu mereka katakan itu. Saya sudah banyak berbuat dan berharap banyak. Diunjung-ujung hari H kok seperti ini. Kalau ratusan juta cost sharingnya tentu aku tidak mampu. Aku hanya mengandalkan BPJS,” keluhnya saat itu.

Dari ceritanya, awal proses pengurusan cangkok ginjal tidak seperti itu. Pengguna BPJS PBI bisa melakukan cangkok Ginjal. Ketika menemui BPJS Pusat, mereka menyatakan BPJS akan mengcover maksimal 250 juta rupiah. Semuanya clear!

Akhirnya aku menemukan kata kunci dalam statmentku. RSCM melakukan komersialisasi. Sebagai rumah sakit pemerintah, seharusnya lebih mengutamakan pelayanan bagi orang miskin. Kebijakan meniadakan kelas non VVIP, menyebabkan pengguna BPJS tidak bisa operasi cangkok ginjal. Artinya, rumah sakit  hanya melayani orang berduit.

Tulisanku kukirim ke Tony via WhatsApp (WA). Setelah dia baca dia menyatakan setuju.

Rupanya dia kirim ke dokter Risa. Sehabis cuci darah Tony dinasehati dokter itu. “Kamu jangan menyerang RSCM. Justru nantinya akan menutup kesempatanmu operasi di sana. Sabar, tunggu aja dulu,” ujar dokter berwajah cantik itu.

Aku lihat Tony tidak menyetujui pendapat dokter tersebut. “Kirim aja Pak nanti malam ke media,” pintanya.

Sepanjang  perjalanan  pulang aku menghubungi teman-temanku untuk membantu  menyebarkan stetemet KPCDI ke media. Pertama ku hubungi Wiwin, mantan Pemimpin Redaksi sebuah majalah wanita. Aku juga hubungi Nezar anggota Dewan Pers. Tak lupa ku hubungi Ulin. Ulin sangat aktif di media sosial, dan dia pendiri portal Berita Satu.

Sehabis mandi, aku baca pesan di WA ku. Rupanya Tony ragu. Dia meminta jangan dikirim dulu ke media.

Aku memahami keputusannya. Memang situasinya sangat berat bagi Tony. Tony kuatir kalau melawan RSCM akan menutup kesempatannya melakukan cangkok ginjal. Baginya, cangkok ginjal adalah impiannya untuk bisa memperbaiki hidupnya.

Aku sendiri punya pemikiran lain. Justru kalau RSCM dilawan dalam situasi seperti sekarang akan memuluskan langkah Tony.

Malam ini aku tidak bisa tidur. Aku terus berpikir bagaimana caranya agar Tony dan kasus ini terkenal. Dia harus dikenal oleh publik dan akan membuat bargaining position dia meningkat dihadapan manajemen RSCM.

 

Perlawanan Dimulai

Hari ini, cuci darahku satu ruangan dengan Tony. Seperti biasanya suasana menjadi ramai. Apalagi ada Pak Amir, yang suka guyonan. Bagi kami, suasana di tempat cuci darah itu tidak boleh sepi. Harus bergembira dan happy. Kalau perlu bercanda sepanjang proses cuci darah. Selain membuat suasana hati riang gembira, waktu 5 (lima) jam rasanya menjadi sebentar.

Selain bercanda, aku juga gunakan berdiskusi dengan Tony. Tentu saja volume suara harus lebih ditinggikan, biar kami saling mendengar. Walau satu ruangan tapi satu tempat tidur dengan lainnya berjarak dua meteran.

“Kita harus tampil ke media. Masak tidak ada suara pasien cuci darah di kancah pemberitaan isu perdagangan ginjal ilegal?,” teriak ku kepadanya.

Kesimpulanku, pemberitaan itu sangat merugikan pasien cuci darah. Orang menjadi takut donor ginjal. Takut ditangkap polisi dan dipidanakan. Apalagi yang ditampilkan hanya sosok-sosok pendonor yang hidupnya menyedihkan paska menjual ginjalnya. Citra donor ginjal begitu buruk ditampilkan media.

Padahal secara medis, donor ginjal itu diperbolehkan. Banyak pendonor ginjal yang usianya panjang dan hidup dengan normal. Tentu saja, hidup dengan satu ginjal harus lebih berdisiplin dan mematuhi ketentuan medis.

Bagi penderita gagal ginjal tentu punya mimpi melakukan transplantasi ginjal. Harapan hidup lebih tinggi dan kualitas hidup lebih meningkat.

Suara-suara seperti ini tidak mendapat tempat di media massa.

Tony setuju. KPCDI harus ambil bagian. Komunitas ini sudah berdiri hampir satu tahun. Aku dan Tony pendirinya. Selain kegiatan saling suport sesama pasien dan keluarganya, komunitas juga aktif berjuang untuk perbaikan regulasi yang berimbas kepada nasib pasien.

Seperti biasanya, Tony menyerahkan aku untuk menuliskan stetment KPCDI. Aku mencoba menulis keesokan harinya. Hambatanku hanya soal kepalaku yang selalu  kesakitan bila menulis. Sejak terkena stroke yang menyerang di pusat otak keseimbangan, aku selalu kesakitan saat menulis.

Karena semangatku yang mengebu-ngebu aku paksakan menulis. Kadang kalau sudah menulis lupa sakitnya. Terlalu larut di dalamnya. Tetapi, setelah selesai aku harus menahan kesakitan. Kalau sudah begini, obat-obat-an akan masuk ke dalam tubuhku. Ada obat dari ahli saraf. Tapi kalau kehabisan aku meminum paracetamol.

Berkat jasa dan pertolongan temanku Nezar, Wiwin, Ulin, Ezky, Weby, Iyan siaran pers yang kutulis menyebar ke semua media. Hasilnya sungguh mencengangkan. Hampir setiap hari Tony, sang Ketua Umum KPCDI dihubungi wartawan. Ada juga wartawan cetak yang datang ke Klinik Cuci Darah untuk mewawancarai Tony.

Kegiatanku setiap hari mendampingi Tony diwawancarai media televisi. Awalnya dia masih belum percaya diri menghadapi media televisi.

Pertama kali televisi yang mewawancarai Tony adalah TV One. Kedua MNC TV. Bahkan kita mengantar MNC TV untuk mewawancarai keluarga seorang Pendeta. Sang Pendeta mendonorkan ginjalnya untuk sang istri. Pendeta itu sehat-sehat saja, bahkan masih melakukan fitnes.

Ketika dipanggil oleh Metro TV dalam program NSI, Tony mulai percaya diri. Bahkan dia mulai berani mengkritik RSCM dalam menangani cangkok ginjal, termasuk menghambat proses operasinya.

Setelahnya, Tony semakin berani mengkritik RSCM. Bahkan KPCDI mengeluarkan statement kalau RSCM melakukan komersialisasi karena tidak membuka ruang khusus non VVIP untuk transplantasi ginjal bagi orang miskin tanpa cost sharing.

Tak cukup berkampanye ke media, kami berdua menyurati anggota DPR RI. Kita juga mendatangi langsung anggota parlemen, yakni Amelia Angraeni dari Fraksi Nasdem. Kami menyampaikan perlunya pemerintah berbenah dalam menangani pasien gagal ginjal, termasuk komersialisasi yang dilakukan oleh RSCM.

 

Akhirnya Tiba 

Hari masih begitu pagi. Tapi Tony sudah mengirim pesan lewat WA. Aku yakin pesannya pasti penting. Pasti ada sesuatu yang harus segera dibicarakan.

“Pak Hari, aku mendapatkan nomor ponsel Dirut RSCM. Apa yang harus kulakukan? Saya hubungi dia ya pak?,” ujarnya via wa.

Tony mendapatkan nomor itu dari salah satu wartawan TV asing. Tony sendiri diwawancarai cukup lama. Wawancara itu disiarkan secara international. Konon, WHO, organisasi kesehatan PBB itu mendengar stetement Tony tentang kebenaran jual beli ginjal di Indonesia.

“Sebaiknya kita buat surat melalui pesan WA. Itu nomor WA-nya Dirut RSCM kan?,” tanyaku balik.

“Ia pak Har. Terus isinya apa?,”

“Kau jelaskan posisimu yang gagal operasi cangkok ginjal karena tidak ada kamar Non VVIP. Kau bilang saja kenapa RSCM komersial? Harusnya dia mengutamakan pengguna BPJS, bukannya hanya melayani orang kaya,” jelasku lagi.

“Oh satu lagi, kau katakan  juga kalau kita akan menemui Ketua Komisi IX. Biar Dirut dipanggil ke parlemen,” ujarku lagi.

Tony setuju, dan dia mengirimkan draf suratnya. Kini Tony sudah memahami semakin berani melawan membuat RSCM memperhitungkan dirinya. Berdiam diri dan hanya menunggu kebaikan RSCM adalah tindakan konyol.

Hari itu surat dikirim,  hari itu juga langsung ditanggapi. Memang yang menanggapi bukan Dirut tetapi bagian Humas. Menurut Humas, Dirut RSCM sedang berdukacita dan sudah membaca pesan tersebut.

“Pak Tony, RSCM akan menjadwalkan operasi awal bulan Maret ini,” ucap Tony membacakan WA Humas RSCM kepadaku.

Mendengar itu aku terharu sekali. Tak terasa mataku berlinang. Masa-masa kritis itu sudah berlalu. Sobatku akhirnya selangkah lagi dapat mewujudkan impiannya.

“Perjuangan KPCDI berhasil Ton. Kita juga harus berterimakasih kepada ibu Amelia Angraeni yang berhasil mendesak Menteri Kesehatan untuk mengakomodir tuntutan KPCDI. Aku salut buat kamu yang tak lelah berjuang,”

“Kamu adalah pelopor dan pendobrak. Atas usaha perjuanganmu itu, akan banyak lagi pasien Gagal Ginjal miskin bisa cangkok di sana,”.

Hari Kamis tanggal 3 Maret, Tony dipanggil Prof. Endang, Ketua Tim Transplantasi Ginjal dan hanya menegaskan bahwa Tony harus sudah masuk ke RSCM tanggal 10 Maret 2016.

Tanggal 6 Maret, KPCDI mengadakan Kopdar ke Puncak. Tony tidak mengurangi sedikitpun aktivitasnya. Dia tetap mengerjakan tugasnya sebagai panitia.

Aku tangkap malah Tony bersemangat sekali. Ia ingin menunjukan rasa bahagia dan gembiranya kepada sobat-sobatnya. Ia sadar bahwa semua ini karena bantuan teman-temannya juga,sehingga sebentar lagi dia akan transplantasi  ginjal. Piknik itu menjadi momen yang indah baginya sebelum memasuki hidup baru. Hidup dengan ginjal ketiganya.

*Penulis adalah Sekretaris Jenderal Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).

Bagikan :