Sejarah

Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) berdiri pada tanggal 15 maret 2015, bertepatan memperingati hari ginjal se-dunia (World Kidney Day)

Sebelum terbentuk menjadi sebuah komunitas, awalnya, adalah sebuah forum komunikasi sesama pasien cuci darah di Klinik Hemodialisa Jakarta Kidney Center (JKC). Sebuah forum untuk saling sharing dan berdiskusi karena menjalani nasib yang sama yaitu mengalami Gagal Ginjal Kronik yang harus melakukan tindakan cuci darah.

Dari forum di satu klinik Hemodialisa tersebut, kemudian berkembang luas ke berbagai kota di Indonesia. Dari kegiatan yang sifatnya internal kemudian berkembang ke persoalan publik. KPCDI mulai mengkritik dan memberi masukan kepada pemangku kebijakan publik. Baik lewat media sosial, mengeluarkan statment ke media massa dan juga melobi anggota parlemen.

Selain pengurus pusat, disetiap daerah akan dibentuk pengurus cabang, dan sampai ke pengurus tingkat unit hemodialisa. KPCDI akan mengembangkan dirinya sebagai organisasi yang membangun persaudaraan dan solidaritas diantara sesama pasien atau keluarga pasien cuci darah. KPCDI juga akan menjadi organisasi yang melakukan advokasi bagi setiap anggota yang mendapat perlakuan diskriminatif dan berjuang demi perbaikan regulasi yang berpihak kepada kepentingan pasien.

Saat ini, KPCDI telah diakui sebagai subjek dan entitas hukum yang sah. Pengesahan perkumpulan KPCDI yang berbadan hukum tersebut diberikan oleh Menteri Hukum dan HAM Republik Indonesia pada tanggal 29 Mei 2017 dan ditetapkan di Jakarta, dengan;

SK NOMOR: AHU-0008622.AH.01.07. TAHUN 2017

Nomor Akta/Tanggal : 18/22 Mei 2017

NPWP (Nomor Pokok Wajib Pajak) : 82.453.946.4-065.000

Dengan terbentuknya badan hukum, itu berarti KPCDI telah melahirkan entitas hukum di mata publik yang diakui negara dengan segala konsekuensinya.

 

Jakarta, 29 Mei 2017

 

Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI)