Begini Kondisi Terakhir Pak Asep, Pasien Cuci Darah yang Ditemukan di Pos Ronda Waktu Lalu

Pengurus Pusat Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) yang terdiri dari Tony Samosir, Aku dan Elfrinika beserta beberapa Pengurus Cabang DKI Jakarta kembali mengunjungi salah satu sahabat KPCDI, yaitu Pak Asep (Minggu, 29/04/2018). Kita ingin melihat langsung perkembangan kondisinya, dan menanyakan kebutuhan lain yang diperlukan.

Sebelumnya, Pak Asep ditemukan di sebuah pos ronda dalam keadaan memilukan. Selama berhari-hari, ia menginap diruang terbuka tepat didepan klinik dimana ia melakukan tindakan cuci darah.

Dibantu oleh Pengurus Cabang, Andri, saat itu juga Pak Asep langsung ditempatkan disebuah hotel sederhana untuk penampungan sementara, sambil menunggu mendapatkan kontrakan yang baru agar tidak jauh dari tempat dimana ia cuci darah setiap minggunya.

Dua hari kemudian, setelah kunjungan pertama kami, Pak Asep boleh bernafas lega. Saat ini, dia sudah mendapat kontrakan kamar (kost) di daerah Jakarta Barat. Dia tidak perlu lagi tidur di alam terbuka dan terkena angin serta tampias air hujan. Kini dia bisa tinggal di sebuah kamar sederhana. Walau sederhana, dia bisa tidur di kasur busa yang empuk, dan terhindar dari dinginnya cuaca malam. Bahkan, ia pun sudah bisa mencuci pakaiannya sendiri. Letaknya juga tidak jauh dari Klinik Hemodialisa Tidore dimana ia melakukan tindakan cuci darah yang setiap dua kali dalam seminggu. Dan yang paling penting, sudah memiliki teman ngobrol sesama penghuni kamar kost.

“Bagaimana kamar kost-nya Pak Asep?” Tanya Tony

“Agak Panas Pak,” jawabnya

Tak berselang lama, teman-teman Pengurus Cabang DKI langsung memberikan sebuah kipas angin untuk kebutuhan Pak Asep.

Kondisi Kamar Kost Pak Asep
Kondisi Kamar Kost Pak Asep

Beberapa waktu lalu, KPCDI juga telah memberikan kebutuhan untuk Pak Asep, dari sabun, perlengkapan alat mandi, keperluan mencuci dan kebutuhan pribadinya. Bahkan kita juga memberikan donasi untuk biaya membeli darah agar bisa segera transfusi dikarenakan hemoglobin-nya (HB) diangka enam serta pemeriksaan laboratorium. Dan ketika kita tanya apakah ada yang habis untuk kebutuhan sehari-hari, laki-laki yang terlihat lebih tua dari usianya itu lalu tersenyum dan menjawab masih cukup.

Sekjen KPCDI Petrus Hariyanto saat memberikan bantuan berupa perlengkapan alat mandi dan cuci

Aku menjelaskan dan menasehati Pak Asep untuk bangkit dari keterpurukan dan hidup semangat. “Diri Pak Asep sendiri yang dapat menolong Pak Asep. KPCDI hanya membantu yang sifatnya darurat. Untuk jangka panjang, Pak Asep harus bisa mandiri dan melakukan segala sesuatunya sendiri. Banyak pasien cuci darah yang masih tetap bekerja dan menghidupi dirinya sendiri, dan tanpa bantuan dari orang lain,” jelasku memberikan motivasi.

Aku juga menjelaskan ke dirinya bahwa KPCDI telah berkomunikasi dengen pihak keluarga Pak Asep, namun mereka sudah angkat tangan dan menolak untuk mengurusi dan menerima Pak Asep lagi. “Mereka mengatakan, semua ini terjadi karena andil Pak Asep, sehingga terpaksa harus berpisah dan keluar dari rumah. Mereka mengeluhkan atas tulisan sebelumnya karena ada kata-kata diusir oleh istri dan kakaknya,” tambahku menjelaskan.

KPCDI sedang memberikan semangat dan nasehat kepada Pak Asep

Bagi KPCDI, kami tidak ingin mencampuri urusan internal dalam keluarga. Posisi kami tidak membela salah satu pihak. Tapi, ketika ada salah seorang pasien cuci darah terlantar diluar sana dan tidak ada seorang pun yang mengurusinya, kami berkewajiban membantu dan menolong orang tersebut. Ini adalah bagian dari komitmen KPCDI dalam berkegiatan sosial.

Pak Asep juga mengerti jika KPCDI tidak bisa terus menerus membantunya dalam waktu jangka panjang. Dia juga setuju untuk diserahkan melalui Dinas Sosial untuk dirawat dan diberikan pelatihan agar menjadi mandiri. Dan KPCDI telah menunjuk Pak Hendra, Pengurus Cabang DKI Jakarta, untuk mendampingi Pak Asep, termasuk mengurusi sampai bertemu dengan Dinas Sosial DKI Jakarta.

Tiba-tiba Tony dan Ibu Elfrinika datang menghampiri kami untuk berdiskusi tentang kebutuhan makan Pak Asep sehari-hari. “KPCDI sudah membayar kebutuhan untuk makan Pak Asep selama satu bulan kedepan disebuah warung makan tepat disebelah kost Bapak. Tinggal datang dan langsung makan. Minumnya baik teh manis atau ingin es teh manis juga bisa dipesan disini. Jangan kebanyakan minum, biar tidak sesak napas. Bahkan kalau berangkat cuci darah, Bapak juga bisa bawa bekal makanan pagi dan siang hari untuk dibawa saat cuci darah. Kita juga sudah isi saldo GOPAY untuk alat transportasi ke klinik cuci darah menggunakan Gojek,” ujar Ketua Umum KPCDI.

FOTO: Pengurus Pusat, Pengurus Cabang DKI dan Pak Asep

Sebelum matahari terbenam lebih dalam lagi, kami pun pamit undur diri. Tak lupa kami meminta Pak Asep untuk segera mencukur rambut, biar terlihat rapi. Dan Pengurus Pusat juga mengucapkan terima kasih atas kerja sama baiknya kepada Cabang DKI Jakarta yang telah mendampingi Pak Asep sampai hari ini.

Pak Asep sedang cukur rambut

Ketika mobil kami melaju pulang, aku sangat bersyukur hari ini, karena ada dua agenda yang sudah dikerjakan. Siang hari kami berhasil rapat dengan Pengurus Cabang DKI Jakarta dimana banyak kesepakatan yang positif buat organisasi dimasa yang akan datang, serta menyelesaikan persoalan penanganan Pak Asep dan menunjuk orang yang bertanggungjawab langsung dalam mendampingi. Semoga niat baik ini dapat terwujud sesuai harapan bersama.

Kami juga mengucapkan banyak terima kasih kepada publik atas simpati dan dukungan berupa donasi melalui rekening KPCDI. Sungguh luar biasa solidaritas dari publik untuk membantu. Sekali lagi terima kasih telah mempercayakan KPCDI untuk menyalurkan bantuan ke Pak Asep.

Penulis: Petrus Hariyanto (Sekretaris Jenderal KPCDI)

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar