Pasien Cuci Darah Ini Memerlukan Uluran Tangan Kita

Bulan lalu, kami terkejut mendengar kabar kalau salah satu anggota KPCDI ada yang terlantar dijalanan, tidur sendirian di sebuah Pos Ronda. Dia diusir oleh keluarganya. Pertama kali ia diusir oleh istrinya, lalu yang kedua oleh kakak kandungnya sendiri.

Penderitaan bapak yang kami panggil Pak Asep itu bertambah parah karena Hemoglobin-nya (HB) drop, di angka 6. Kondisi fisiknya lemah, untuk berdiri dan berjalan saja sangat susah, apalagi mengurus cuci darah dan berobat.

Pengurus Pusat KPCDI segera bertindak untuk menyelamatkan nyawanya. Kami melakukan pertolongan yang sifatnya darurat. Beberapa orang menyumbang dan terkumpul uang cukup untuk transfusi darah dan membiayai makan beberapa hari saja. Harapannya, setelah HB-nya normal, Pak Asep bisa bekerja lagi sebagai driver ojek online.

Kemarin, berita sedih itu datang lagi. Kami dikirimi foto kalau dia diusir dari Pos Ronda, disaat kesehatannya belum pulih. Dalam foto itu, pak Asep tidur di gasebo kecil dan sederhana, tepat di depan Klinik Hemodialisa Tidore di mana dia cuci darah.

Pak Asep tidur di sebuah pos ronda sederhana setiap malam

Sore itu (23/4/2018), aku, Tony dan Bunda Ely langsung berkunjung ke sana. Di struktur Pengurus Pusat ada Departemen Sosial, salah satu tugasnya memberi pertolongan dan bantuan sosial kepada anggota yang membutuhkan. Bunda Ely menjadi ketua di Departemen itu.

Pecah tangis Pak Asep ketika tahu yang keluar dari mobil adalah Tony Samosir. “Aku diusir sama istriku. Aku sekarang seorang diri. Aku tidak bisa apa-apa,” ucapnya dengan tangis yang begitu memilukan.

Aku dan Bunda Ely tak bisa berkata apa-apa, mendengar tangis yang keluar dari laki-laki yang setahun lalu begitu gagah. Kami menemui tepat di pinggir jalan raya. Seorang diri duduk sambil minum teh. Kaki dan beberapa bagian tubuhnya terlihat bengkak. Wajahnya sayu, garis mukanya jelas menggambarkan kalau dirinya dalam keadaan tertekan dan depresi.

Ketika ku tanya bagaimana ia mandi? Bapak beranak empat ini menjawab di sebelah taman di mana gasebo yang dia tempati ada WC umum. “Apa nggak kedinginan dan masuk angin tidur di udara terbuka?” tanyaku.

“Kalau hujan tampias dan ada genteng yang bocor,” sambil menunjuk gasebo kecil tempat dia berteduh.

“Saya harus bagaimana Pak Tony? Pemiliknya sudah mengusir saya. Hari ini saya harus angkat kaki dari sini. Kakak saya sudah ditelpon untuk menengok. Istri saya juga sudah saya kirimi foto kondisi saya. Jawabnya sudah tidak bisa lagi menolong saya,” ucapnya dengan tangis yang semakin dalam.

“Begini Pak, kita ingin bantu Pak Asep untuk sewa kontrakan, paling tidak sebulan. Biar sakit bapak tidak semakin parah. Semoga ada penyelesaian untuk jangka panjang,” ucap Tony.

Karena fisik kami bertiga mulai melorot dan hari semakin larut, kami memanggil Andri, salah satu Pengurus Cabang DKI Jakarta. Segera dia datang, dan bertugas mencarikan kontrakan, karena pak Asep tidak kuat berjalan. Selain HB-nya rendah, dia juga terkena diare.

Aku menuliskan kisah ini untuk mengetuk hati siapa saja yang hatinya tergerak untuk membantu Pak Asep. Kami hanya mampu membantu sifatnya darurat. Jangka panjangnya perlu juga ada penyelesaiannya.

Kami bertiga memberi semangat agar Pak Asep segera melupakan deritanya. Kembali bergairah melanjutkan hidupnya, termasuk mau bekerja lagi kalau kondisi fisiknya membaik.

“Keahlian saya menyetir mobil. Saya pernah bekerja menjadi driver di sebuah rental mobil. Problem bekerja menjadi driver online karena harus kerja setiap hari. Hari Selasa dan Jumat saya harus cuci darah, jadi tidak setiap hari mampu bekerja. Kalau ada yang memperkerjakan saya dengan mendapat dispensasi, saya sangat bergembira,” janjinya kepada kami bertiga.

Sebelum pulang, kami memberi beberapa barang yang sangat dibutuhkan Pak Asep. Kutepuk punggungnya, dan kukatakan bahwa Pak Asep tidak sendirian, ada kami, dan dia harus bersemangat lagi.

Dalam perjalanan pulang aku melamun. Pernah aku utarakan ke pengurus lainnya bahwa aku punya ide suatu saat KPCDI bisa mengelola rumah singgah. Tempat itu bisa untuk menyelesaikan problem yang dihadapi pasien seperti Pak Asep. Banyak pasien cuci darah yang sebatang kara sudah tidak punya keluarga, atau mereka sudah ditelantarkan dan dibuang oleh keluarganya. Dalam rumah singgah itu ada orang-orang yang akan merawat mereka. Bagi yang sudah susah berdiri dan berjalan, mereka akan diantar bila berobat dan cuci darah. Semoga banyak tangan-tangan yang akan membantu mewujudkan mimpi itu.

AYO…..Mari bantu Pak Asep! Partisipasi dan kepedulian Anda dalam bentuk donasi akan sangat membantu meringankan beban hidupnya.

Donasi dapat dilkirimkan melalui:

No Rekening : 6220-41-4343
Bank BCA KCP Kemang Mansion
A.N Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia

 

*Ciganjur yang dingin setelah kemarin dan pagi ini diguyur hujan

Penulis: Peter Hari (Sekretaris Jenderal KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *