Loading...
Kisah Inspiratif

Nikahi Aku Sebelum Ajal Menjemputku

Pagi ini, kembali aku mendapat kabar lelayu. Teman sesama pasien cuci darah ada yang “berpulang” ke rumah Tuhan. Rasa sedih dan kehilangan, begitu sering ku alami, dan aku harus siap untuk itu.

Kembali Tony Samosir yang menyampaikan kabar duka itu. “Ayo Pak kita melayat Maggie. Rumah dukanya hanya sepuluh kilometer dari rumah Bapak,” ajaknya lewat telepon.

Seminggu yang lalu, dia juga mengajak aku menengok perempuan bernama lengkap Ester Margaretha Sinurat, yang sedang koma di ruangan ICU RSCM. Aku tidak bisa saat itu. Dalam postingan di akun facebook miliknya, Maggie mengatakan,” Penampakan wajah belum HD (hemodialisis) selama sembilan hari”.

Foto dirinya tampak bengkak di bagian wajah. Cairan begitu banyak menumpuk dalam tubuhnya, karena tidak dikeluarkan melalui proses dialisis (cuci darah) selama sembilan hari. Teman-teman Group WhatsApp KPCDI Cabang Banteng (Banten Tangerang) Raya di mana dia aktif bergabung, mengatakan, Maggie tidak HD karena akses cuci darahnya macet. Darah tidak bisa keluar dari tubuh menuju mesin cuci darah. Dan itu terjadi sebelum beberapa hari Maggie melangsungkan pesta pernikahannya.

Tak lama Tony tiba di rumah ku. Segera kami berdua bergegas ke Jalan Tipar, Cimanggis, Depok, karena jam satu siang ini aku harus cuci darah dan Tony pun harus kembali bekerja.

Belum juga posisi duduk ku sempurna di mobilnya, Tony sudah mengatakan sesuatu yang membuat dadaku bertambah sesak. “Waktu aku membesuknya dan bertemu dengan suaminya, sempat kami berbincang-bincang. Dia katakan kalau Maggie pada bulan November 2017 tahun lalu, meminta dirinya segera menikahinya sebelum ajal menjemputnya.

Waktu itu, sang suami tak menanggapi serius. Ketika istrinya mengalami koma selama seminggu setelah pesta perkawinannya, lantas dia tersadar apakah mungkin ini yang akan terjadi pada istriku? David Novianto Pasaribu mengatakan itu dengan meneteskan air mata. Merinding aku mendengarnya,” ujar Tony dengan wajah tegangnya.

Aku terdiam, Tony juga menghentikan ceritanya. Aku merasa saat ini permintaan Maggie ke mantan pacarnya terjadi. Mereka telah menjadi pasangan suami istri tepat 17 hari. Hari kemarin, Pukul 23.30 WIB Maggie sudah pergi untuk selamanya meninggalkan David dan kita semuanya, setelah koma selama 12 hari.

Tony mulai melanjutkan ceritanya. Berat rasanya dia berkata-kata. Katanya, dua hari sebelum pemberkatan di Gereja dan pesta adat pernikahannya, perempuan bertubuh subur itu gagal melakukan cuci darah. “CDL-nya macet. Tapi demi pesta pernikahannya tetap berlangsung dan undangan telah disebarkan, dia menunda untuk ke rumah sakit, dan biasanya, dia mengira, operasi tidak akan begitu lama, dan selalu berhasil. Ternyata sebaliknya, dia harus operasi berulang-ulang dan gagal” ujarnya.

Padahal,¬† acara pernikahan itu berlangsung seharian dan cukup menguras energi. “Tahu sendiri kan Pak, pesta adat nikah orang Batak? Belum lagi acara pemberkatan di Gereja, sampai acara adat. Tapi Maggie berhasil melewatinya. Aku salut,” ungkapnya

Pasangan suami istri ini, sudah saling mengenal dan berpacaran sejak tahun 2012. Maggie bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di Puskesmas Teluk Naga, Tangerang. Perempuan ceria ini adalah Seorang Sarjana Teknologi Pangan. Sedangkan suaminya seorang lulusan STM yang bekerja sebagai Satuan Pengamanan di TELKOM, Jakarta Barat.

Kisah percintaan mereka diuji oleh kenyataan hidup yang begitu getir. Pada bulan Mei 2013, sang perempuan divonis gagal ginjal dan harus melakukan cuci darah. Bagi David, ini adalah ujian berat dalam hidupnya. Ia sangat terpukul melihat realita sang kekasih yang hidupnya tergantung mesin dialisis.

Cinta sejati, mungkin kata yang tepat menggambarkan cinta David kepada Ester Margaretha Sinurat. Ia tidak meninggalkan sang kekasih. Bahkan menjadi penyemangat utama Maggie dalam menjalani hidup sebagai pasien cuci darah.

David tidak tergoyahkan cintanya, walau kelak bila menikah dengannya tidak mendapat keturunan sekalipun, ia tetap mencintainya. “Ketika Maggie meminta David menikah saja dengan orang lain, agar bahagia dan memperoleh keturunan, ia tetap teguh dengan cintanya. Bahkan David menawarkan, kita bisa mengangkat anak, dan tak peduli kalau anaknya kelak bukan darah dagingnya. Baginya, Maggie adalah segalanya, yang penting ia bisa sehat, itu saja sudah cukup buatnya,” ungkap Tony lagi dengan mata yang mulai basah.

Pernikahan tidak segera terjadi bukan karena David ragu akan cintanya. Baginya, harus ada persiapan materi. Mereka rajin bekerja dan menabung. Impian mereka lebih cepat terlaksana di tahun 2018 ini ¬†karena bisa memperoleh pinjaman dana dari sebuah Bank untuk melaksanakan pernikahan . “Ketika sang calon istri bertanya siapa yang akan mencicil pinjaman itu, David tanpa ragu menjawab saya yang akan membayarnya,” ujar Tony sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Prosesi pernikahan pun dilangsungkan di hari Sabtu, 17 Maret 2018. Sehari kemudian, tepat di hari Minggu, mereka berangkat ke menuju IGD RSCM, untuk memperbaiki akses cuci darah yang macet sebelumnya dan bisa HD. “Maggie minta mampir dulu ke Monas dan makan bubur di Cikini. Itu bulan madu mereka. Keadaan yang memaksa mereka hanya bisa bulan madu hanya beberapa jam saja. Kata David, Maggie bahagia dan senang walau tubuhnya saat itu sudah berat, karena beberapa hari belum HD,” ungkap Tony sambil matanya awas ke depan sambil menyetir mobil.

Sehari berikutnya, Maggie dapat kamar dan hari itu juga operasi untuk membuat CDL (Chateter Double Lumen) yang baru. “Tujuh kali operasi dilakukan untuk pencarian pembuluh vena, tapi gagal. Maggie tetap tak bisa HD. Tidak juga bisa melalui femoral karena ada kelainan pembuluh darah,”

Di hari Rabu kembali dilakukan tindakan operasi lagi, tetapi tetap gagal. “Kamisnya dia kejang dan tak sadarkan diri Pak. Dan saat itu David sempat melihat di monitor untuk detak jantung, grafiknya datar saja. David sempat mengabarkan kalau istrinya sudah meninggal. Dokter pun terus memompa jantung Maggie, dan akhirnya masih bisa terselamatkan,” ujarnya sambil mengusap matanya.

Saat itulah David menangis sejadi-jadinya. Dia baru meresapi perkataan istrinya di bulan November tahun lalu, yang meminta agar ia segera dinikahi sebelum ajal menjemputnya. Permintaan Maggie diucapkan berkali-kali, tapi David menganggap itu hanya bercanda,” ujar Tony sambil memakirkan mobilnya karena sudah tiba di rumah duka.

Di rumah yang cukup sederhana itulah jenazah Maggie disemayamkan. Pertemuan ku yang paling ku ingat saat dia menghadiri Seminar di Hotel Jusenny, setahun yang lalu. Perempuan yang ceria, mudah akrab kepada siapa saja.

Sungguh syok, ketika melihat Maggie tidur dengan tenang memakai pakaian pernikahannya kemarin. Foto pernikahannya hari ini begitu ramai di dinding facebooknya, ketika sahabat dan teman mengucapkan duka.

Tony pun sempat memberikan kata salam perpisahan kepada Maggie serta keluarganya. Dengan air mata yang menetes, Tony memberikan pelukkan hangat kepada orang tua serta suami Maggie tercinta. Aku pun kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan sepatah kata.

Ya Tuhan, rasanya semua keinginan Maggie sudah terpenuhi sekarang. Ia sudah menikah dengan pria pujaan hatinya, sebelum ajal menjemputnya. Tak kuasa aku berdiri memberi penghormatan terakhir untuknya. Dan aku akhirnya menangis.

Selamat jalan sobat. Lunas sudah tugasmu di dunia. Bahagia kamu di sana Ester Margaretha Sinurat. Dan kepada David Novianto Pasaribu, kamu sungguh luar biasa. Cinta mu sungguh tulus. Cinta yang akan abadi. Tuhan yang balas kebaikkan dan ketulusanmu.

 

*di ruangan Hemodialisis Siloam Asri dengan tekanan darah minimum rendah

Oleh: Petrus Hariyanto (Sekretaris Jenderal KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's choice
Skip to toolbar