Pria Ini Tetap Setia Mencintai Janda Penderita Gagal Ginjal

Sudah tiga hari pria ini menemaniku di rumah sakit. Mulai dari membantu mengurus jaminan BPJS, menemaniku operasi, sampai mengurus kepulanganku. Ia lakukan dengan ikhlas. Tak nampak muka mengeluh, dan selalu berkata apa yang bisa saya bantu pak Hari?

Yang kutahu namanya Nanang. Mungkin sudah tiga tahun ini aku kenal dia. Sering bertemu dengannya ketika mengantar Novi cuci darah atau ikut kegiatan Kopi Darat (KopDar) yang diadakan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).

Sekitar dua Tahun yang lalu, Nanang bertunangan dengan Novi. “Saya sudah mencintai Novi sejak dia masih gadis. Kami satu desa di Kota Tegal,” ungkapnya suatu hari kepadaku.

Sayang, saat itu cintanya bertepuk sebelah tangan. Sang gadis lebih memilih menikah dengan seorang anak band, bahkan sang gadis rela meninggalkan bangku kuliahnya yang saat itu masih duduk di semester lima.

Walau pernikahan gadis itu berakhir kandas, tidak lantas membuat langkah Nanang terbuka. Pujaannya itu pun memilih merantau ke Jakarta. Hidup di Jakarta merubah nasibnya. Sang janda pujaannya menikah lagi dengan seorang pria berkewarganegaraan India. Novi juga membuka konter Handphone (HP) di mall Ambasador, Jakarta Selatan yang terkenal ngetop itu. Ia juga tinggal di apartemen tak jauh dari konternya. Kini Novi menjadi perempuan dengan gaya hidup metropolis. Semakin pupus harapan pemuda desa yang lugu itu untuk mendapatkan gadis pujaan hatinya tersebut.

Nasib baik Novi ternyata hanya beberapa tahun saja. Cukup singkat. Bermula dari sakit gagal ginjal, hingga berujung kandasnya pernikahan untuk yang kedua kalinya. Setelah hampir satu tahun cuci darah, Novi ditinggal sang suami balik ke India.

Ia pun harus keluar dari apartemen karena bantuan keuangan dari suaminya berhenti, Novi harus rela tinggal dikontrakan biasa yang lebih sederhana. Seiring waktu, Novi sering drop, akibatnya konter HP-nya tak terurus. Tanpa pengawasan memadai darinya, membuat karyawannya khilaf. Usaha merugi dan harus ditutup. Membuat hidup Novi semakin terpuruk, baik dari kesehatan dan sisi ekonomi.

“Aku menangis melihat kondisi Novi ketika bertemu dengannya saat lebaran. Aku kaget mendengar ceritanya kalau dia pasien cuci darah. Aku juga sedih karena ia harus bercerai lagi. Meski begitu, aku tetap mencintainya,” ujarnya kepadaku.

Cintanya, membawa Nanang yang juga sudah lama merantau di Jakarta untuk mencari kontrakan Novi. Hatinya teriris-iris melihat Novi sebatang kara tinggal di Jakarta. Kata Novi, kakak dan adiknya yang semua laki-laki tinggal di Tegal.

“Mereka sudah tidak perduli kepadaku. Bila aku berkunjung, pandangan matanya seperti tak suka, curiga kalau aku akan minta duit lagi. Bahkan pernah salah satu saudaraku meminta aku menyerah saja dengan sakitku karena keluarga sudah tak mampu mengurusi ku lagi,” ujar Nanang menirukan ucapan Novi.

Pergi ke tempat cuci darah ia berangkat sendiri dengan mengendarai sepeda motor. Sebelum berangkat, pagi harinya dia sudah membuat kue-kue untuk dijual ke teman-teman Hemodialisa-nya (HD). Cuci darah seminggu tiga kali membuat Novi tidak ada waktu lagi untuk bekerja. Bila drop dan harus dirawat, dia lakukan sendiri tanpa ada sanak saudara yang mengantar. Hanya Ambulance DKI yang setia mengantar dia ke rumah sakit.

Sakitnya telah membukakan mata hati Novi. Kini dia tahu pria seperti apa yang mencintainya dengan tulus. Novi semakin paham mana emas? Mana loyang? Nanang adalah sosok pria yang tepat untuk dia terima cintanya. Mulailah mereka pacaran. Setiap Novi pergi ke rumah sakit, Nanang selalu ada disampingnya.

Kemudian mereka bertunangan di desa. Kami teman-temanya yang tahu kondisi Novi menjadi terharu. Dan salut kepada Nanang yang tetap gigih mengejar cintanya.

“Kami sedang menyiapkan pernikahan. Kami ingin mengumpulkan uang dulu. Saya melamar menjadi terapis pijat refleksi. Saya juga punya grobak untuk jualan kue khamir. Keponakan saya yang mengoperasikannya,” ujarnya.

Bangunan ekonomi baru saja mereka mulai. Di tengah jalan, kenyataan tak sama dengan rencana. Novi mulai sering drop lagi. “Tiba-tiba saya harus keluar dari pekerjaan karena tiga hari tidak masuk kerja, padahal baru sebulan diterima kerja di tempat itu. Aku lebih memilih mengurusi Novi daripada tetap bekerja,” ungkapnya kini dengan sedih.

Puncak menurunnya kesehatan Novi terjadi di pertengahan Tahun 2017. Ibu satu anak itu sama sekali tidak bisa bergerak. Bila bangun dari tidur ia akan berteriak kesakitan dan menangis. Ia hanya mampu tidur seharian. Nanang-lah yang harus seharian menjaganya. Menyuapin Novi, memandikan Novi. Bahkan buang air besar di tempat tidur, Nanang jugalah yang membersihkan. Ke tempat cuci darah hanya bisa dilakukan dengan mengendarai Ambulance DKI. Demikian juga ke RSCM, ketika suhu badannya tinggi karena infeksi di Chateter Double Lumen-nya (CDL= akses cuci darah). Nanang selalu disampingnya.

Ketika cuci darah bersamaan dengan ku, aku sering melihat Novi menangis meratapi nasibnya. “Tuhan beri kekuatan dan kesembuhan pada hambamu,” ucapnya dalam doa dengan terisak

Nanang tidak bekerja, berarti tak ada penghasilan. Grobak kue khamirnya juga terbengkalai. Praktis tak ada uang masuk. Pemilik rumah kontrakan mereka di daerah Pal Batu, Jakarta Selatan sudah mendesak agar mereka segera melunasi tunggakan sewa selama tiga bulan.

“Kami hanya diberi waktu tiga hari. Kalau tidak bisa melunasi kami berdua harus angkat kaki dari kontrakan itu. Kami mau tinggal di mana? Apalagi kondisinya Novi seperti itu, hanya bisa berbaring di tempat tidur dan sering demam tinggi. Mau pindah kemana? Pasti sewanya lebih mahal. Di sini sudah strategis, dekat tempat cuci darah dan RSCM, tak punya uang mana ada orang yang rumahnya mau dikontrakan? Apa kita harus tinggal di emper toko?” ujarnya kini dengan mata berlinang.

Adalah sobat-sobatnya di KPCDI, yang membuat Novi dan Nanang bernafas lega. Pengurus Pusat KPCDI tidak tega melihat nasib mereka yang tragis. Mereka berdua terancam tidak punya tempat berteduh. Teman-teman Pengurus Pusat juga ingin memberi dukungan kepada perjuangan Nanang yang begitu gigih dan ikhlas mendampingi Novi, yang sedang tidak berdaya.

Mereka mengumpulkan uang. Mereka bergotong-royong menyelamatkan Novi. “Uang ini adalah uang beberapa teman di Pengurus Pusat. Semoga bisa kalian gunakan. Dan juga semoga Novi cepat sembuh dan kamu bisa mencari uang lagi,” ujar Bunda Elly mewakili Pengurus Pusat kepada Nanang.

Mereka tidak jadi terusir dari rumah kontrakannya. Pengobatan Novi juga berjalan lancar. Rasa sakit di saraf tulang belakangnya berangsur sembuh. Dua bulan lalu dia datang sudah tidak dengan mobil ambulance. Cukup dibonceng Nanang. Nanang juga sudah bisa bekerja, karena tidak perlu menjaga tunangannya sepanjang hari.

“Grobak saya juga sudah dua bulan ini jualan lagi. Ponakan saya yang menjalankannya. Lumayan hasilnya. Ada uang masuk lagi. Donat yang bapak makan itu adalah dagangan saya kini,” ujarnya.

Kini orderan memijat refleksi sudah mulai jalan lagi. Dia bergabung ke salah satu ojeg online yang menerima pijat panggilan. Nanang juga melayani panggilan pijat refleksi tanpa aplikasi. Mulailah mereka kembali menyusun masa depan yang dulu sempat tertunda

Nanang adalah sosok pria yang gigih mengejar cintanya. Nanang juga sosok pria yang begitu tulus mencintai perempuan pujaannya. Kisah ini mengajarkan keikhlasan, kesetiaan dan ketulusan hati.

Tiba-tiba aku batuk dan sesak. Kuminta dia memasangkan selang oksigen di hidungku. Air mata ku mengalir deras. Nanang mencoba meredakan tangisku. Dia katakan agar aku tambah dalam menjalani sakit ini. Aku hanya menganggukan kepala. Aku meminta dia pulang karena hari sudah gelap. Aku juga katakan tak apa-apa aku sendiri bermalam di rumah sakit.

Aku menangis bukan karena dalam seminggu ini operasi dua kali dan sesak nafas. Aku menangis karena mendengar kisahnya. Begitu pria yang mencintai pasangan hidupnya, walau kini pasangan hidupnya seorang pasien cuci darah.

*Ciganjur di Hari Paskah

Oleh Petrus Hariyanto (Sekretaris Jenderal KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *