Ini Dia Pasien Cangkok Ginjal di Indonesia yang Bertahan Selama 37 Tahun

Oleh: Peter Hari (Sekjen Komunitas Pasien Cuci darah Indonesia)

Penyakit Ginjal Kronik (PGK), adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan secara medis, ketika sisa fungsi ginjal dibawah 20%. Tapi berbeda dengan Seorang Bapak yang tinggal dibilangan Jakarta ini, ia bisa pulih dari penyakit gagal ginjalnya. Meski ia seorang penyandang post transplantasi ginjal, tapi hidupnya sangat nomal, seperti orang sehat pada umumnya. Hidup dengan satu buah organ ginjal yang diberi oleh adik perempuannya, dan bertahan sampai 37 tahun. “Ketua Tim Transplantasi Ginjal saya saat ini sudah meninggal,” ujarnya saat mengenang (Alm) Prof. Dr. R.P Sidabutar pada seminar bertema “Transplantasi & Donor Ginjal. Siapa Takut?’ di Jakarta yang lalu.

Adalah Leo Setiadi, usia 64 tahun, yang melakukan transplantasi ginjal. “Saya lahir di tahun 1954. Pada usia 26 tahun, saya harus cuci darah. Saya dan dokter tidak tahu penyebabnya. Tiba-tiba badan tidak enak rasanya, mudah lelah, tidak nafsu makan dan selalu pusing-pusing,” ungkapnya.

Bapak dengan ciri khas bersuara lirih ini sangat beruntung. Hidup bergantung mesin hemodialisa hanya dijalani selama empat bulan. Seakan, dia tidak memiliki memori penderitaan masa itu sebagai pasien cuci darah, karena sebagian besar hidupnya menjadi orang sehat.

“Ketika bulan keempat tahu-tahu saya diajak keluarga untuk konsultasi ke dokter untuk program cangkok (transplantasi) ginjal. Di situ saya baru tahu kalau calon donornya adalah adik perempuan saya,” ungkapnya.

Sang adik, menurut penuturan Pak Leo masih sangat muda. “Ia masih duduk di SMA waktu itu. Usianya baru 16 tahun. Dokter saat itu meloloskannya. Dan ketika diperiksa, tingkat kecocokan ginjalnya dengan ginjal saya hampir mendekati sempurna. Sekitar 99 persen tingkat kecocokanya,” ujarnya kini dengan tersenyum.

Pada tahun 1980, Pak Leo pindah ke Rumah Sakit PGI Cikini. Di Indonesia, hanya RSCM dan Rumah Sakit tersebut yang mampu melakukan cangkok ginjal pada masa itu. “Di Indonesia saat itu, saya adalah orang ke-7 yang melakukan cangkok ginjal. Ketua Tim dokternya dipegang oleh dokter Sidabutar, dimana anggotanya ada dr. Endang Susalit dan dr. Bonar,” ujarnya.

Walau belum ada BPJS, Pak Leo sangat bersyukur kepada Tuhan. Ia dibebaskan dari biaya tindakan dokter masa itu, dan hanya dikenakan biaya perawatan dan obat. “Setelah operasi, kondisi saya normal-normal saja. Tidak ada hambatan dan keluhan. Langsung bisa kencing. Pusing-pusing juga hilang. Bekas jahitan dan luka operasi juga tidak nyeri. Kreatinin dan ureum semakin hari semakin normal sampai sekarang,” ungkapnya lagi.

Ketika ditanya bagaimana dengan kesehatan adiknya, Pak Leo dengan tersenyum menjawab adiknya sehat-sehat saja. “Selama 37 tahun hidup dengan satu ginjal tidak ada keluhan berarti. Dia menikah dan melahirkan satu anak. Itupun karena suaminya meninggal masih muda, sehingga anaknya hanya satu. Hidup sebagai single parent, tetap aktif bekerja dengan berjualan air mineral,” ujarnya dengan bangga.

Pada Tahun 2016, Pak Leo mendapat penghargaan Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia). “Penghargaan itu diberikan kepada saya karena menurut mereka saya adalah termasuk pasien transplantasi ginjal yang bertahan hidup paling lama di Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya kali ini dengan menunjukan piagam yang dikeluarkan MURI.

 

Piagam Rekor Muri
Piagam Penghargaan Rekor MURI Bpk. Leo Setiadi

 

Tepat diusianya yang ke-60 kemarin, seharusnya Pak Leo sudah pensiun menjadi seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta dibilangan Jakarta. Dan harusnya lagi dia sudah beristirahat, dan menikmati hari tuanya. Sudah tidak perlu bersusah payah bekerja. “Sudah empat tahun ini perusahaan di mana saya bekerja memperpanjang massa kerja saya. Saya masih kuat bekerja dan kesehatan saya baik-baik saja,” pungkasnya.

Pak Leo Setiadi adalah contoh pasien transplantasi ginjal yang berhasil. Adalah anugerah Tuhan bila ia diberi umur panjang. Tetapi, kita bisa belajar darinya. Seorang yang begitu disiplin menjalani hidup sebagai pasien post transplantasi ginjal. Orang yang sangat mencintai hidupnya. Tetap berkarya dan bekerja walau di usianya yang sudah menginjak 64 tahun. Teruslah menginspirasi banyak orang. Kami pasien gagal ginjal ini masih membutuhkan Leo Leo lainnya. Agar harapan kami untuk transplantasi ginjal tetap terjaga. Dan suatu saat Tuhan mengirimkan pertolonganNYA, dengan kehadiran sang pendonor itu.

 

*Dari Ciganjur yang dingin disertai hujan turun tak henti-hentinya

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *