Dianggap Tidak Mendidik, Tanyangan Sinetron Transplantasi Ginjal di Kritik!

Transplatasi Ginjal adalah terapi yang paling ideal bagi pasien gagal ginjal saat ini. Salah satu peserta dalam seminar yang diselenggarakan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) beberapa hari yang lalu (Minggu, 4/1/2018), menyatakan bahwa ada salah satu sinetron di sebuah stasiun swasta menanyangkan cerita bahwa hidup pendonor ginjal sangat menderita. “Bila sang penerima akan hidup sehat, maka sang pendonor setelahnya akan mati,” ujar Pratman Hakimin dengan nada kesal.

Lebih jauh lagi, pria yang juga pasien gagal ginjal itu mengecam sinetron yang tidak mendidik itu. Isi ceritanya tidak berdasarkan fakta, dan mempunyai dampak menakut-nakuti orang untuk mendonorkan ginjalnya. Bagi pasien gagal ginjal, transplantasi adalah solusi yang paling ideal.

“Saya meminta KPCDI untuk menyikapi hal ini. Kalau perlu mendesak KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) untuk menghentikan sinetron yang kurang mendidik itu,” kecamnya.

Apa yang disampaikan Pak Pratman, menurut KPCDI sangat masuk akal. Ditengah situasi negara yang tidak hadir dalam menyelesaikan minimnya pendonor ginjal, masih ada sekelompok masyarakat justru menambah masalah.

Dalam seminar kali ini yang bertema “Transplantasi Ginjal & Donor Ginjal? Siapa Takut”, seakan membantah isi dari sinetron yang disebut oleh Pak Pratman.

Wakil Ketua Tim Transplantasi Ginjal RSCM, Dr. M Bonar H. Marbun, SpPD-KGH, menyatakan bahwa pendonor ginjal hidupnya akan sehat-sehat saja. “Bila ditemui ada yang sakit hanya seputar psikologi, merasa menyesal telah mendonorkan. Ada juga tensinya meningkat sedikit, dan tidak mengkuatirkan,” jelasnya.

Bahkan, dalam sesi kesaksian, Pak Leo yang berumur 64 tahun bahkan mengatakan adiknya bisa melahirkan seorang anak. “Adik saya menjadi pendonor ginjal bagi saya. Sudah 37 tahun saya bertahan hidup dari pemberian ginjal adik ku. Kini dia masih hidup walau sudah 37 tahun hidup dengan hanya satu ginjal,” ungkapnya.

Senada dengan Pak Leo, Ibu Neneng Nursada juga mengatakan demikian. “Hidup saya normal-normal saja. Sudah empat tahun ginjal saya yang satu, kuberikan ke adik ku. Saya tetap bekerja di Event Wedding Organizer. Kreatinin dan Ureum saya normal-normal saja,” ujar kakak dari dokter Dewi yang tinggal di Bandung ini. (Peter)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar