Catur, Malaikat yang Tuhan Kirimkan untuk Atok

Oleh: Peter Hari (Sekretaris Jenderal KPCDI)

Masih muda dan terkena gagal ginjal, bisa dibilang sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah terkena musibah, musibah lain pun datang.

Mungkin ini bisa berlaku bagi pasien cuci darah, terutama yang masih jomblo. Mencari pasangan hidup bukan perkara mudah. Orang akan berpikir seribu kali untuk membangun rumah tangga dengan pasien cuci darah. Seringkali alasannya karena sakit, si pasangan dianggap tidak mampu membahagiakan pasangannya kelak.

Tapi tidak dengan M Atok Irrohman, pemuda hitam manis yang tinggal di Semarang ini, akhir Desember tahun 2017 yang lalu, ia sudah meninggalkan masa lajangnya. “Ia bagai malaikat dalam hidup ku. Ketika aku lemah karena vonis cuci darah,  justru dia mendekati ku. Aku jatuh cinta kepadanya sejak pandangan pertama,” ujarnya kepada ku saat aku cuci darah bersamanya di Semarang dua Minggu lalu.

Perempuan yang dimaksud Atok adalah Catur Widjayanti, seorang mahasiswi di Universitas Islam Negeri Yogyakarta, Jurusan Bimbingan Konseling Islam, “Waktu itu kami sama-sama mahasiswa, dan tergabung dalam organisasi yang sama sebagai penerima beasiswa dari Pemerintah,” ujar Catur sambil menemani Atok cuci darah saat itu.

Mereka berdua sebagai pendatang, dan kuliah di Yogyakarta. “Awal aku kenal Mas Atok saat dia sakit, dan dinyatakan harus cuci darah. Saat itu aku tergerak untuk memberi motivasi kepadanya. Disitulah awal perkenalanku,” ucapnya.

Bagi perempuan manis berkacamata ini, cuci darah adalah suatu hal yang mengerikan. Pengalaman waktu masih kecil, tetangganya meninggal tak berapa lama setelah cuci darah. Catur hanya tahu bahwa hidup pasien cuci darah hanyalah sebentar. “Aku ingin memberi kebahagian kepada Mas Atok disisa hidupnya. Aku kasihan kepadanya,” ungkapnya diawal pertemuan.

Mulailah Catur memberi perhatian kepada Atok. Ia sering mengirim pesan singkat lewat SMS untuk memotivasi mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijogo, jurusan Hukum Perdata Islam itu. Hal inilah membuat Atok membatalkan cuti kuliahnya. “Saya datang kembali ke Yogyakarta, padahal saya sudah berada di Tuban untuk cuti yang panjang,” ujarnya dengan tersipu.

“Mas Atok dengan pedenya menyatakan cintanya kepadaku. Padahal itu awal-awal kami bertemu. Aku tidak lantas mengiyakan, karena takut dengan perasaan ku sendiri. Aku mencintainya atau hanya kasihan atas kondisinya. Berkali-kali dia menyatakan cinta, berkali-kali aku menolaknya,” ujarnya.

Walau Catur tidak menerima cinta Atok, tapi ia sangat perhatian dengannya. Catur selalu mendampingi pria berkacamata ini melakukan cuci darah. Ia selalu di samping Atok ketika dirinya drop. Bahkan ketika drop di tengah malam. Catur yang membantu mencarikan rumah sakit. Mendampinginya dan selalu ada kata-kata untuk membangkitkan semangatnya. Padahal, awal cuci darah, Atok berkali-kali mengalami drop, dan harus dirawat di rumah sakit.

Enam bulan berikutnya, hati Catur luluh. Ia menyadari kalau hatinya mencintai Atok. “Perasaanku, tidak rela kalau Atok dekat dengan perempuan lain. Aku sangat ingin memiliki dirinya seutuhnya,” ujarnya kini dengan wajah memerah.

Kisah Tony Samosir, Ketua Umum KPCDI dan Istrinya Eva Tampubolon sangat menginspirasi Catur. “Dia pasien cuci darah yang berhasil mempunyai pasangan hidup. Mereka berdua telah dikarunia anak yang begitu manis. Bahkan Eva telah merelakan satu ginjalnya buat sang suami. Atok berhak bahagia. Dan kami yakin bisa meraih kebahagian itu,” ucapnya dengan terharu.

Setelah Atok menyelesaikan kuliahnya, Februari 2017 tahun lalu, ia meminta agar Catur berterus terang kepada orang-tuanya, tentang kondisi yang sebenarnya atas diri Atok. Orang tua Atok pun lantas ingin bertemu dengan orang tua Catur. “Saat itu aku menangis mengutarakan keinginan ku untuk sehidup semati dengan Mas Atok. Aku mengatakan dengan jujur kalau calon pendamping hidup ku adalah pasien cuci darah,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Orang tua Catur tidak keberatan anaknya dipersunting seorang pria yang ginjalnya sudah tidak berfungsi lagi. “Orang tua saya hanya meminta dua syarat. Syarat pertama aku harus benar-benar mencintainya, bukan karena alasan kasihan. Syarat keduanya, aku harus berani menanggung konsekuensi atas pilihan hidup ku ini,” ungkapnya.

Pasangan yang sudah berpacaran hampir tiga tahun itu akhirnya bertunangan pada 17 April tahun yang lalu. Di bulan Desember tanggal 21 di tahun 2017 yang lalu, mereka melangsungkan ijab kabul di Yogyakarta.

Catur yakin dengan pilihannya. Baginya, Atok adalah suami yang dapat membahagiakan dirinya. Ia akan menjadi imam yang baik dalam keluarganya. Dalam akun facebook-nya ia tuliskan kalau Atok adalah darahnya dan juga nadinya. Atok adalah nafasnya dan juga jantungnya. Atok adalah hatinya dan jiwanya. Sedangkan bagi Atok, Catur adalah malaikat yang sengaja diturunkan Tuhan untuknya. (01/18)

 

*Ruang Perawatan Rumah Sakit Siloam Nomor 301

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar