Isye Aisyah, Seorang Istri yang Setia Mendampingi Suaminya Cuci Darah Selama 21 Tahun

Apa yang Anda bayangkan bila melakukan cuci darah pada tahun 1997? Pasti akan banyak yang mengatakan saat itu waktu yang tidak tepat untuk orang terkena gagal ginjal. Kalau si pasien bukan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Penyakit Gagal Ginjal (PGK) adalah penyakit yang mematikan. Tidak punya Askes (Asuransi Kesehatan), berarti harus keluar uang pribadi untuk membiayai tindakan cuci darahnya. Banyak pasien saat itu yang hanya bertahan beberapa saat, setelah itu meninggal karena tidak ada lagi harta yang tersisa untuk ongkos cuci darah.

Kalau pun orang tersebut bekerja sebagai seorang PNS, mendapat jaminan kesehatan dari Askes (Asuransi Kesehatan), belum tentu bisa berkesinambungan. Pada Tahun 1998, Indonesia mengalami krisis moneter, nilai rupiah menjadi anjlok. Dampaknya, biaya cuci darah membengkak tajam, karena komponen dari tindakan hemodialisa menggunakan barang import. Kata seorang dokter senior  KGH (Konsulen Ginjal dan Hipertensi) di Bandung, lebih dari setengah populasi pasien cuci darah saat itu meninggal dunia.

Adalah Yanuar Hasan berhasil melalui masa sulit itu. Seperti diceritakan oleh istrinya, Isye Aisyah, yang mulai cuci darah tahun 1997. “Saat itu belum ada BPJS. Untungnya, perusahaan suamiku, Hotel Sultan, mau mengcover biaya cuci darah. Tapi, tahun 2010, suamiku di-PHK. Selain dapat uang pesangon, selama enam bulan biaya cuci darahnya masih dibantu oleh kantor,” ungkapnya.

Ketika suaminya mulai cuci darah, anaknya sudah dua orang. Satu perempuan berusia 3 tahun dan satu laki-laki berusia 1,5 tahun. “Alhamdulilah, sehabis itu, aku dikarunia dua anak lagi, semuanya laki-laki,” ujarnya.

Tahun 2011 musibah itu datang menghampiri keluarganya. Anak perempuannya, yang saat itu berusia 17 tahun meninggal dunia. “Ia tertabrak mobil ranger di daerah Sumarecon Tangerang. Padahal, baru saja suamiku kena musibah kecelakaan di Jalan Surabaya. Kepalanya ada pendarahan,” ujarnya dengan sedih.

Alm. Fani (Anak Perempuan Isye)
Alm. Fani (Anak Perempuan Isye)

Kematian putrinya, membuat hati ibu ini hancur. Kesedihannya berlangsung cukup lama. Belum hilang rasa duka atas kematian anaknya, musibah yang lain datang. Bermula dari uang pesagon suaminya diinvestasikan di Koperasi Langit Biru. Harapannya, masih akan ada uang untuk biaya cuci darahnya, yang sudah tidak ditanggung oleh Kantor lamanya. Awalnya, pembayaran keuntungan berjalan lancar. Tapi, kemudian sama sekali tidak ada kejelasan. Ternyata, itu merupakan investasi bodong. “ Raib semua uang pesangon suamiku yang jumlahnya puluhan juta,” ucapnya dengan pilu.

Sebelum musibah itu, Isye dan keluarganya tinggal di Perumahan Bumi Indah Tangerang. “Itu rumah aku sendiri. Dan kami masih mempunyai beberapa rumah lainnya, walau tidak mewah,” ungkapnya lagi.

Biaya hidup bukan hanya cuci darah saja, ia dan suaminya harus menghidupi tiga anaknya, membiayai sekolah mereka. “Suamiku juga sering opname. Kalau opname tidak pernah sebentar, bahkan pernah sampai 40 hari lamanya. Terpaksa kita ngutang. Bayarnya dengan cara menjual mobil dan rumah. Lama kelamaan kami sudah tidak mempunyai tempat tinggal sendiri,” ungkapnya kini dengan nada lirih.

Untuk melupakan kenangan sedih akan putrinya yang meninggal dan beban keuangan, keluarga mereka berpindah-pindah tempat. Sudah tiga kali mereka berpindah rumah dengan cara mengontrak. Pernah tinggal bersama dengan saudara, yang katanya rumahnya tidak layak huni. Berganti-ganti usaha kecil-kecilan, seperti buka warnet dan isi ulang pulsa.

Kini, keluarga mereka balik lagi ke Tangerang, dengan mengontrak sebuah rumah kecil. Untuk mencari nafkah, ibu isye menjadi seorang baby sister. “Saya bekerja di rumah saudara sendiri. Suamiku juga ikut bekerja disana. Anak ku pertama dan kedua juga sudah bekerja,” ungkapnya.

Anak pertamanya bernama M Faldi Yanuariansyah sudah berusia 21 tahun. Katanya, ia menjadi tulang punggung ekonomi keluarganya. Ibu itu bersyukur, mempunyai anak semuanya mau mengerti keadaan keluarganya yang serba kekurangan.

Ketika ku tanya apa yang membuat dia kuat mendampingi cuci darah suaminya sampai 21 tahun ini, ia menjawab karena ia sangat mencintai keluarganya. “Aku takut kehilangan orang yang saya cintai. Harta bukan segalanya. Susah senang kita jalani bersama,” Ucapnya kini dengan nada haru.

Ibu itu sekarang sudah melupakan semua kesedihan yang pernah ia alami. Ia ingin menatap ke depan. Ia ingin berada di samping suaminya selama mungkin. Ia tetap bahagia walau harus mendampingi suaminya cuci darah seumur hidupnya. Sebuah kisah tentang kesetian dan kecintaan yang tiada pernah habis.

 

*Gedung Nusantara I, ditemani hujan dari siang sampai sore hari

Penulis : Peter Hari (Sekjen KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *