Niko, Dokter Spesialis Berjiwa Sosial

Hari Minggu tanggal 31 Desember 2017, sebagian besar penduduk di bumi ini sedang disibukkan dengan persiapan menyambut perayaan tahun baru. Sebagian pergi keluar kota, sebagian pergi ke pusat keramaian, sebagian menginap dihotel untuk menggelar acara perayaan pergantian tahun tersebut.

Tapi tidak dengan pasien gagal ginjal kronik di Kota Kembang ini, mereka justru berkumpul untuk mengadakan kopdar (kopi darat). “Selain ingin bersilahturahmi, kami juga ingin menimba ilmu. Kami ingin mendengar ceramah dari dr Niko Azhari Hidayat, SpBTKV dan konsultasi AVshunt,” ujar Ratih Damayanti sang Ketua Panitia.

Ide acara ini bermula dari info akan datangnya dokter Niko ke Kota Bandung. Kata Ratih, dokter sub-spesialis bedah toraks kardiovaskuler itu ingin berlibur beberapa hari di Kota Bandung. Bahkan, malam perayaan tahun barunya sekalian di kota yang terkenal dengan kota taman tematik itu.

“Apakah aku bisa melakukan Kopdar dengan pasien cuci darah? Aku membuka kesempatan untuk konsultasi cimino, karena aku juga membawa alat USG,” pinta dokter berwajah ganteng itu ke Ratih.

Pengurus KPCDI Cabang Bandung meresponnya dengan positif. Segera mereka menyatakan kesanggupan untuk menyiapkan teknis acara tersebut. KPCDI Cabang Bandung sangat respek kepada dokter Niko. Walau kedatangannya ke Bandung untuk berlibur bersama keluarga, tapi masih memikirkan para pasien cuci darah.

Ini bukanlah yang pertama kali dokter Niko hadir diacara KPCDI. Tahun 2016, di Bandung dan di Jakarta juga beliau hadir dalam kopdar KPCDI. Bahkan seminar awam di Yogyakarta tahun 2017 lalu, beliau manjadi pembicara dan melakukan pemeriksaan Cemino atau AVShunt (akses cuci darah) kepada hampir 100 pasien yang hadir secara gratis bahkan ia datang dari Surabaya. “Saya mempunyai kisah mendalam kepada pasien cuci darah. Ayah saya adalah seorang pasien gagal ginjal. Waktu saya SMU, Ayah di cuci darah. Saya menemaninya setiap waktu. Dan, kalian mengingatkan saya kepada sosok ayah yang saya cintai. Untuk itu, saya mengabdikan diri saya untuk pasien cuci darah,” ujar dokter Niko saat memberikan kata sambutan di Yogyakarta tahun lalu.

Bertempat di Kapulaga Resto, Dago, acara itu digelar. Diawali dengan sambutan Ketua KPCDI Cabang Bandung, Chiendy Setiawan, mengatakan ini sebuah kehormatan bagi kami, dimana dokter Niko bersedia Kopdar dan membuka konsultasi cemino secara gratis kepada para pasien cuci darah di Bandung. Kepada para pasien gagal ginjal kronik yang hadir saat itu, Chiendy mengajak untuk bergabung ke KPCDI lewat Facebook baik group maupun Fanspage serta group WhatsApp.

Bukan hanya berceramah tentang cemino yang baik dan bermasalah, dokter lulusan dari Belanda itu juga memeriksa satu persatu cemino para pasien. Setahun yang lalu, ketika Kopdar di Lembang, dokter Niko membawa alat USG dengan layar besar. Kini dia membawa alat USG dengan layar sebesar smartphone.

Adalah Bu Neneng Ely, pasien cuci darah di Rumah Sakit Al Islam Bandung. Ibu ini akses cuci darahnya menggunakan femoral. “Beberapa kali saya operasi AV Shunt, tetapi gagal. Saya trauma sekali. Saya ingin bertemu dengan dokter Niko,” ujarnya dalam pembicaraan di WhatsApp Group KPCDI Bandung.

Cita-cita ibu itu tercapai dengan mengikuti kopdar. Ketika dokter Niko memeriksa pembuluh darahnya, ternyata masih ada harapan dibuat cemino. Bukan main senangnya Bu Neneng Ely, bahkan sebulan lagi sudah membuat jadwal untuk operasi di Surabaya dengan dokter Niko.

Acara diakhiri dengan makan siang. Mereka ngobrol santai, dan saling bercanda. Ini adalah Kopdar pertama bagi Bandung, setelah berdiri KPCDI Cabang Bandung. Tidak saja sebagai sarana edukasi bagi pasien cuci darah, Kopdar ini juga bisa dijadikan ajang untuk saling mengenal, sharing, dan saling menguatkan.

Di akhir acara, dokter Niko memberitahu Ratih kalau sebentar lagi akan ada aplikasi AV Shunt di smartphone dan lagi tahap pengembangan. Alat USG canggih untuk memeriksa kesehatan cemino pasien. Semoga kabar baik ini segera terealisir.

KPCDI sangat terkesan dengan sosok dokter Niko. Bisa dihitung dengan jari dokter yang berjiwa sosial, mau peduli dan berempati kepada pasien. Dokter Niko adakah salah satu dokter yang berjiwa sosial. Teruskan perjuanganmu untuk membantu pasien. Sukses selalu buat dokter Niko dan keluarga.

*Oleh: Peter Hari (Sekretaris jenderal KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar