Kegagalan yang Menguatkan

Tubuhnya kecil dan mungil. Bahkan pernah berbobot hanya 28 kg paska cangkok ginjal di akhir tahun 2004. Tapi, perempuan yang berjilbab ini, jangan pernah meragukan semangat dan mimpi-mimpinya. Seorang Ibu, yang juga pasien cuci darah ini, sungguh energik dan lincah. Dan mempunyai jiwa kepemimpinan dalam organisasi.

Setahun yang lalu, dalam sebuah kopdar (kopi darat) di Jakarta yang diselenggarakan oleh Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), adalah saat pertama kali aku bertemu dengannya. Dia datang jauh-jauh dari Yogyakarta, dengan menumpang kereta api serta diantar oleh suami tercintanya. Dalam akhir acara, aku sempat berdiskusi dengannya. “Bentuklah cabang di Yogyakarta ya Mbak Hani. Kamu pasti bisa,” kataku ke dia.

Perempuan kelahiran tahun 1977 ini, saat itu menjawab dengan ragu-ragu. “Aku belum ada patner di sana. Pengurus Pusat mohon membantu ya,” katanya saat itu.

Keraguan jawabannya hanyalah ekspresi untuk tidak menyombongkan diri. Dari sorot matanya, aku bisa membaca dia ingin bertekad untuk mewujudkannya.

Beberapa bulan berikutnya, perempuan pemilik nama lengkap Sihani ini, bersama dengan Obaja dan lainnya mendirikan Cabang KPCDI DIY-Jateng. Sihani menjabat sebagai Bendahara, sementara Obaja sebagai Ketua, dan sekretaris dipercayakan kepada Tika Musfita.

Bahkan, tak berapa lama mereka mampu mengadakan Kopdar di Rumah Bunda Ely di Pojok Benteng Wetan, Yogyakarta. Hampir dihadiri seratus orang dengan mengundang pembicara dr. Niko Azhari Hidayat, SpBTKV, Spesialisasi Bedah Thoraks dan Kardiovaskular.

Kepercayaan diri dari istri Pak Turut Raharjo (49 tahun) ini pun meningkat. Ketika Tony Samosir, Umum KPCDI, datang ke Yogyakarta dan menawari seminar besar, Hani dan Tika pun menyanggupinya. Seminar itupun akhirnya terlaksana, dengan jumlah peserta yang mencapai 150 orang lebih. Bahkan teman-teman dari luar daerah Yogyakarta juga ikut serta di seminar tersebut.

Seminar awam dalam memperingati Hari Kesehatan Nasional 2017 tersebut diketuai oleh Hani, ketika sang ketua Obaja Hanur sedang terbaring di rumah sakit karena gangguan jantung. Dan ketika Pengurus Pusat berdiskusi tentang perkembangan organisasi, terlontar kalimat yang menggembirakan, “Kami sudah mempunyai kepercayaan diri untuk membentuk Cabang DIY, dan lepas dari Cabang DIY-Jateng. Agar kami bisa mandiri dan bekerja maksimal.” ucapnya dengan pandangan mata tajamnya.

Akhirnya, usulan itu diterima, dan terbentuklah cabang DIY, di mana Hani ditunjuk menjadi Ketua Cabang.

Aku pun penasaran dengan Ibu rumah tangga yang sudah menikah selama 20 tahun ini, kenapa begitu bersemangat sekali untuk memajukan KPCDI. Ketika malam terakhir Pengurus Pusat bersama Hani dan Tika dalam satu mobil, aku pun ngobrol ke dia agar lebih saling kenal dan akrab. Sungguh kaget ketika dia mengatakan sudah lama menjadi pasien cuci darah. Sudah hampir 15 tahun.

“Saya cuci darah pertama kali tahun 2003. Tidak ada tanda sakit yang serius, hanya pusing. Saya cek up ke Rumah Sakit Panti Rapih, saat itu ketika baru pulang dari Lampung. Ternyata, kreatinin sudah 20 dan ureum pada angka diatas 200. Aku pun langsung cuci darah” ungkapnya.

Setahun berikutnya, sekitar tahun 2004, Hani melakukan transplantasi ginjal. Dengan dibiayai oleh perusahaan tempat suaminya bekerja, di Tambak Udang Bratasena (CPB), Lampung. Ia mendapat donor ginjal dari kakak laki-lakinya. Operasi tersebut dilakukan di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta.

Paska operasi, ginjal ketiganya ternyata tidak berfungsi. Katanya, sama sekali tidak bisa buang air kecil. “Tapi dokter meminta agar aku tidak cuci darah dulu, sampai menunggu ginjalnya dapat berfungsi. Aku hanya boleh minum air sebanyak 300 ml sehari. Dan selama dua minggu timbunan cairanku mencapai 12 kg. Padahal, sebelum dan sesaat cangkok berat badanku 35 kg. Karena sudah tidak mau makan, stres memikirkan semua ini, beratku menjadi 28 kg,” ungkapnya mengingat masa itu.

“Tanggal 15 desember 2004 saat anakku, M Iyank Nuranindito R, berulang tahun ke-6, ginjal milik kakak ku ditanam di tubuhku. Dan, pada tanggal 11 Januari 2005, saat aku berulang tahun ke-28, ginjal ketigaku harus diambil lagi dari tubuhku. Saat itu aku begitu sedih dan menangis,” ucapnya dengan lirih.

Cobaan tidak berhenti di sini, saat ginjal ketiganya diambil, Hani memohon kepada dokter agar dilakukan operasi untuk memasang alat CAPD segera. Setelah alat CAPD terpasang, ternyata tidak bisa bertahan lama, dikarenakan ada masalah cairan masuk dan keluar yang tidak lancar dan seimbang. “Bahkan cairannya keluar lewat bekas luka operasi cangkok ginjal,” ungkapnya dengan sedih.

Tuhan sangat sayang kepada Hani. Ia disadarkan oleh peristiwa bencana Tsunami di Aceh pada desember 2004. “Ternyata aku bukan orang paling menderita di dunia. Nasibku masih lebih baik dibanding saudara-saudaraku di Aceh yang banyak meninggal karena bencana itu. Saat itu aku sangat iklas mendapatkan semua ini. Dan modal berharga untuk tetap melanjutkan kehidupanku,” ungkapnya lagi.

Baginya pula, cinta kepada suaminya adalah hal yang terpenting kenapa Ibu dari satu anak, yang bulan depan genap berusia 19 tahun, tetap bertahan hidup dan semangat menjalani kehidupan. “Saya tidak tega ketika suami mengatakan belum siap menerima kepergianku. Dia sangat mendukung saya, sampai bolak-balik ke Yogyakarta karena HD (Hemodialisa) saya di kota ini. Perusahaannya juga mengcover biaya HD saya sepenuhnya. Banyak orang membantu saya, kenapa saya harus sia-sia kan? Saya harus punya semangat,” ucapnya dengan mantap.

Sang suami harus bolak balik ke Yogyakarta karena di Lampung fasilitas HD saat itu belum memadai. Untungnya, saat anaknya duduk dibangku SMP, sang suami dimutasi ke Cirebon. Jaraknya tidak sejauh sebelumnya. Sang suami sangat mendukung Hani untuk aktif di KPCDI. Pada saat seminar, sang suami sangat setia mendampingi bahkan membantu tugas-tugas panitia.

“Dua kali saya suruh dia menikah lagi, tapi dia tidak mau. Dia katakan, tidak ada yang kurang dan berbeda pada diriku dari sebelumnya. Kalau ada perbedaan hanyalah karena saya harus meluangkan waktu untuk cuci darah. Toh, katanya saya masih bisa menjadi ibu rumah tangga, ngurus anak dan suami. Jadi tidak ada alasan baginya untuk menikah lagi,” ucapnya dengan wajah merah merona.

Ketika kutanya kenapa ingin bergabung dan membesarkan KPCDI, dia jawab karena KPCDI sangat peduli kepada nasib pasien. Saat awal-awal cuci darah, dia banyak berhadapan dengan kejadian yang memilukan. “Teman saya meninggal karena surat Jamkesmasnya dianggap sudah tidak berlaku lagi. Dan banyak kejadian seperti itu. Ketika membaca berita di media online bahwa KPCDI berani memperjuangkan nasib pasien, saya mulai tertarik. Semakin tertarik lagi, ternyata kegiatannya tidak hanya protes saja , tetapi juga melakukan edukasi,” ungkapnya.

Dan mobil kami telah sampai di dekat rumahnya. Kita semua harus berpisah. Aku, Tony, Donny pun berpamitan, karena esok hari kami sudah kembali ke Jakarta bersama dengan Pak Lutfi. Dari pertemuan-pertemuan dan diskusi yang kami lalui bersama Hani, aku bisa menangkap mimpi-mimpinya. Setelah seminar ini, Hani semakin percaya diri. Semoga mimpi-mimpinya agar pasien cuci darah mendapat fasilitas terapi cuci darah yang memadai dapat terwujud.

Selamat berkiprah dan bertugas menjadi Ketua Cabang KPCDI Yogyakarta!

*Ciganjur yang sedang tidak berawan

Oleh: Peter Hari (Sekretaris Jenderal KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *