Loading...
Kisah Inspiratif

Pergorbanan untuk si Buah Hati

Pernahkah Anda mendengar kisah perjuangan ikan salmon untuk dapat bertelur, menetas, dan melahirkan generasi baru? Bagi yang tahu kisahnya, tentu akan berkomentar ikan salmon adalah ikan yang sungguh luar biasa. Mereka berani menantang maut, tak kenal putus asa, dan tidak kenal lelah, agar dapat bertelur di hulu sungai, di mana dulu dia dilahirkan. Padahal dia datang dari laut lepas.

Seperti dalam sebuah film dokumenter yang menceritakan kisah perjuangan mereka menuju hulu sungai Fraser, British Columbia, Canada. Padahal sebelum sampai hilir sungai Fraser mereka telah menempuh perjalanan dari samudra atlantik, yang jaraknya sepanjang 4000 mil. Ketika menuju hulu sungai mereka harus melawan derasnya alur sungai. Kadang mereka harus melompati air terjun yang sangat curam. Selama perjalanan mereka akan dihadang oleh beruang. Dan di sinilah, nyawa sang ikan salmon sering melayang karena dimakan sang predator bertubuh besar ini. Bila mereka selamat sampai ke hulu, mereka akan bertelur. Setelah itu mereka mati. Sebuah perjuangan luar biasa untuk dapat melahirkan keturunan.

Adalah Dona, seorang pasien cuci darah, teman akrab Umi Kulsum. Mereka sama-sama hemodialisa di RSCM. “Dona ini mawar dan Umi melatinya,” ucap seorang suster kepadaku.

Artinya, mereka adalah bunga yang saling melengkapi. Perkawanan mereka begitu kental, dan mereka menjadi kembang desa di RSCM.

Sore, di hari Kamis itu, aku menjenguk Umi, yang sedang cuci darah. Lalu aku dikenalkannya dengan Dona.

“Pak Peter, Dona ini kisahnya hebat lho, “ ujar Umi sambil mengangkat jempolnya.

Dari cerita Umi yang sekilas itu, aku langsung teringat kisah sang ikan salmon. Sungguh luar biasa keinginan Dona untuk punya anak. Dia rela menempuh resiko yang membahayakan keselamatan dirinya, bahkan nyawanya.

“Saya menikah di tahun 2007. Malam hari, sehabis acara resepsi pernikahan saya langsung tumbang dan dilarikan ke rumah sakit. Sehari berikutnya aku dinyatakan mengalami radang ginjal. Kreatininku sudah di atas 3, ureum 250, asam urat 15,” ujarnya ke aku mengawali kisah hidupnya.

Perempuan yang baru sehari mengakhiri masa lajangnya itu sudah divonis gagal ginjal akut. Katanya, penyebabnya karena gaya hidup. Wanita berparas ayu ini tidak suka minum air putih. “Aku suka minum teh kemasan. Setiap sakit kepala selalu diselesaikan dengan minum obat pereda nyeri,” katanya.

Mulailah dia menjalani gaya hidup sehat. Bahkan, dia menjalani terapi sinshe. Kreatininnya, sedikit demi sedikit turun, bahkan mencapai angka satu. Dokternya mengatakan kalau Dona menjalani pola hidup sehat ginjalnya akan bisa dipertahankan. Kalaupun kedepannya cuci darah, butuh waktu yang lama sekali.

Ditahun 2009, dokter memberi kabar bahwa dalam rahimnya bersemayam jabang bayi. “Ibu harus menggugurkannya. Kalau tidak, janinnya bisa keguguran. Selama proses kehamilan, ibu beresiko cuci darah. Kalau mujur, kemungkinan besar cuci darah ibu tidak lama lagi setelah melahirkan,” ucap dokter kepadaku.

Kata dokter, kalau Dona menggagalkan proses kehamilannya, dia akan sehat-sehat saja. Dengan adanya jabang bayi di tubuhnya, kerja ginjalnya semakin berat. “Janin bayiku kan ngikut aku untuk buang racunnya. Itulah mengapa ginjalku semakin berat bekerja. Tapi, aku mengatakan kepada dokter, kalau aku akan tetap mempertahankan calon anak ku itu. Aku berani menempuh resiko itu. Toh, kalau aku nantinya harus cuci darah, aku akan iklas,” ucapnya dengan mata berkaca.

Bagi perempuan lulusan Sekolah Tinggi Pariwisata di Bandung ini, anak adalah segalanya. “Dia bagaikan belahan jiwaku. Tujuan aku menikah ya ingin punya keturunan, dan itu anak ku sendiri. Aku sangat berkeinginan mempunyai anak,” ucapnya lagi dengan nada bergetar.

Banyak perempuan bila menghadapi seperti Dona, akan memilih menggugurkan kandungannya. Kata cuci darah adalah vonis yang sangat menakutkan. Sebisa mungkin orang menghindarinya. Belum lagi, maut bisa menjemput, baik si calon bayi atau ibunya, bahkan keduanya. Sebuah kehamilan berisiko tinggi. Dan jarang dijumpai kasus seperti ini. Ada beberapa, tapi berbeda. Sang ibu sudah cuci darah dan hamil. Ada yang melanjutkan, walau sangat sedikit yang berhasil melahirkan anak.

Awal proses kehamilannya, kreatininnya sudah di angka 5. Pada bulan ketiga dia mengalami pendarahan. Doktermemberi suntikan obat penguat kandungan. Yang terpenting, perempuan kelahiran tahun 1978 ini harus bed rest, istirahat total dan tidak boleh melakukan kegiatan fhisik. Makanannya pun harus diatur sedemikian ketat. Bagi ibu hamil normal sangat dianjurkan minum susu untuk asupan protein dan mineral bagi sang bayi. “Aku hamil minum susunya dibatasi, sehari hanya satu gelas kecil. Aku tidak boleh memakan makanan yang mengandung lemak. Kalau makan ayam dan ikan tidak boleh digoreng, harus direbus atau diungkep. Ya ampun rasanya, dan aku harus kuat menjalani ini,” ucapnya sambil mengenang saat-saat hidupnya yang begitu berat.

Ketika bulan ke-empat, Dona mengalami perndarahan lebih hebat lagi. Dia semakin disiplin menjalani bed rest. Hanya ke kamar mandi dia bangun, selebihnya dia berbaring dalam posisi tiduran. Aku tentu bisa merasakan penderitaannya berbulan-bulan tiduran sepanjang hari, dan menyantap makanan yang rasanya bisa mendorong orang untuk muntah. Tapi keinginan kerasnya untuk mempunyai momongan mengalahkan semuanya.

“Ya Tuhan…jikalau engkau yang berkehendak, maka rejeki itu akan datang. Hadirkanlah keluarga baru dalam keluargaku. Aku iklas menjalani semua ini,” ucapnya ketika menirukan doa yang pernah dia panjatkan setiap hari waktu dulu.

Bulan kedelapan, tepatnya tanggal 24 November 2009, sang bayi berjenis kelamin laki-laki lahir. “Aku menangis terharu. Sekaligus kuatir bayi itu akan cacat karena proses kehamilanku yang tidak normal. Ketika suster dan mama ku mengatakan bayi itu sehat, air mataku jatuh berlinang. Itu adalah momen terindah dalam hidupku,” ucapnya dengan lirih.

Kalau Dona bahagia, tidak dengan tim dokter. Mereka sangat kuatir dengan keselamatan nyawa sang ibu. Dona langsung dibawa ke HCU (High care unit). Kondisinya dijaga selama 24 jam penuh. Lima hari berikutnya dia boleh pulang ke rumah. Dua minggu berikutnya, tubuhnya bengkak, dan susah bernafas. Hemoglobinnya di angka empat. Dona masih menolak cuci darah, karena berharap pengobatan alternatif. Karena sang sinshe mengatakan bahwa ia sudah tidak dapat disembuhkan, akhirnya Dona menyerah. Tanggal 24 Desember 2009, dia menjalani hemodialisa untuk pertama-kalinya. Ia menjadi pasien cuci darah saat itu.

Waktu lahir bayinya mempunyai bobot 2,3 kg, dan tinggi badan 43 cm. Kini sudah delapan tahun berlalu, dan anak-nya yang diberi nama Dafin Zhacrie sudah tumbuh menjadi anak laki-laki yang sehat dan tampan. Bagi ibu bernama lengkap Indria Dona, Dafin adalah belahan hatinya. Walau kini dia menjadi pasien cuci darah, Dona sangat bahagia menjalani hidup dengan suami dan Dafin.

Aku terharu mendengar cerita kisahnya. Sebuah pengorbanan seorang ibu yang ingin melihat kehadiran anaknya di dunia ini. Semoga kisah ini memberi inspirasi kita semua.

*Di gedung Nusantara I yang dingin dan ditemani alunan musik kecapi sunda

Penulis: Peter Hari (Sekretris Jenderal KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's choice
Skip to toolbar