Loading...
Kisah Inspiratif

Sang Kupu-Kupu Itu Telah Pergi

Air mata ini menetes, ketika Tony memberi kabar melalui telpon  kalau kang Irwin baru saja meninggal dunia. Sungguh terkejut dan terpukul atas berita kematiaannya. Apalagi, saat itu aku sedang melakukan cuci darah. Ditambah ponsel ku baru saja hilang. Aku tak bisa berbuat apa-apa, walau itu hanya sekedar mencari informasi tentang kepergiannya.

Bagiku, sebuah proses cuci darah yang berat dan menyiksa. Lamunan ku tertuju ke kang Irwin. Sesekali aku menghapus mata ku dengan tisu karena sudah begitu banyak air mata yang keluar. Nafas ku begitu berat setiap mengenang saat-saat bersamanya.

“Ya Tuhan, bagaimana kondisi istrinya? Pasti berat kehilangan suami tercinta.”

“Bapak gimana kondisinya sekarang? Kuat nggak kalau malam ini kita layat Kang Irwin? Agar aku jemput langsung ke Rumah Sakit” ucap Tony via telepon.

Ajakan Tony langsung ku-iya-kan. Saat itu, aku merasa dalam kondisi fit, tidak ada rasa pusing dan muntah-muntah lagi, meski cuci darah masih tersisa dua jam lagi. Berbeda dengan beberapa minggu lalu, cuci darah menjadi arena menyiksa tubuh ku. Di jam terakhir biasanya aku mual bahkan muntah-muntah. Rasanya sakit sekali dan tersiksa. Penyebabnya, karena sakit maag yang menyerang. Aku bahkan sering takut datang ke tempat hemodialisa, karena hanya menyerahkan tubuh ku untuk disiksa.

Lalu bagaimana dengan kang Irwin? Dia menjalani cuci darah sudah lebih dari 18 tahun, sejak usianya 19 tahun. Sebuah usia yang masih muda, padahal baru saja ia masuk menjadi mahasiswa Trisakti. Tentu saja sebuah perjalanan hidup yang luar biasa. Dia sendiri pernah berkata sudah tidak ingat lagi berapa kali masuk ICU? UGD mana saja yang pernah dia singgahi? Dan mungkin puluhan rumah sakit pernah dia tiduri karena kondisi fisiknya sedang lemah. Dan semua pasien gagal ginjal pernah mengalaminya.

Apalagi dia semakin tidak ingat seberapa banyak air matanya yang tertumpah di bumi karena harus menangis, meratapi kesedihan menjalani hidup. Awal-awal cuci darah, adalah tahun-tahun di mana belum ada sistim jaminan kesehatan seperti BPJS saat ini. Dia harus membiayai cuci darahnya sendiri. “Harta orang tua ku berupa mobil dan rumah terjual habis untuk biaya cuci darahku,” ucapnya suatu hari saat dia ku bezuk di rumah sakit.

Saat itu, awal dia cuci darah, situasinya sungguh berat. Harga dolar di atas sepuluh ribu rupiah. Padahal, tahun sebelum, 1998 masih berkisar di angka dua ribuan rupiah. Menjadi lima kali lebih mahal harga dolar. Dan ongkos cuci darah menjadi semahal itu, karena semua komponen hemodialisa adalah barang impor. Konon, setengah lebih populasi pasien cuci darah meninggal karena tidak bisa melanjutkan hemodialisa secara rutin.

Sarjana Manajemen Transportasi ini mampu melewati semua itu. Baginya, bangkit dan bersemangat adalah jiwa yang harus dimiliki setiap pasien gagal ginjal. Kisahnya ini telah menginspirasi banyak pasien cuci darah.  Bahkan oleh Baxter Indonesia, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang alat kesehatan, dengan bekerjasama dengan KPCDI, telah membuat kisah Irwin yang sangat mengispiratif.

Dan, saat ini aku begitu  kangen kepadanya. Ku tonton lagi film itu, yang sama saja menyerahkan air mataku untuk tumpah ke bumi.

 

Penghormatan Terakhir.

Pukul delapan malam aku dan Tony melayat ke rumah almarhum Irwin. Perjalanan kami sangat lancar dari Jakarta Selatan menuju Bekasi. Setibanya disana sudah ada Ibu Alfrida, Bunda Elfrinika dan Dian Septi. Kami mewakili Pengurus Pusat KPCDI untuk datang melayat dan memberi semangat buat Dian, dimana sang istri yang sedang dirundung kesedihan. Kang Irwin adalah salah satu pimpinan KPCDI. Kami ingin memberi penghormatan terakhir bagi pejuang gagal ginjal ini.

Jasadnya diletakan di ruang tamu yang cukup luas. Terbungkus oleh kain jarik. Tubuh yang selama ini gesit, terbujur kaku tak bergerak. Di sisi kirinya, sang istri duduk di lantai menemani jasad sang suami. Beberapa orang melantunkan ayat-ayat Alquran. Beberapa tamu menyalami Dian, dan sesudahnya tumpah air matanya. Sang istri sungguh terpukul atas kepergian sang suami.

Tahun lalu aku pernah bertanya ke kang Irwin, apa rahasia sehingga bisa bertahan selama 17 tahun lebih? Jawabannya adalah karena dukungan yang tulus dan luar biasa dari istrinya, Hanas Trividian. “TUHAN memberi anugerah istri kepadaku ketika aku sudah gagal ginjal. Dia adalah teman kecil ku. Suatu hari, aku pernah memberi dia hiasan kupu-kupu saat masih tinggal di Kuningan. Ku katakan kepadanya kalau aku akan kembali lagi kepadamu suatu saat nanti. Dan sepuluh tahun berikutnya perusahaan di mana aku bekerja, bermitra dengan perusahaan di mana dia bekerja. Kami bertemu dan aku menyatakan cintaku,” ucapnya  dengan wajahnya  memerah.

Hanas Trividian
Hanas Trividian (Istri Irwin)

Ketika Dian melihat kami datang, dia bangkit berdiri dan menghampiri kami. Tangisnya kembali pecah. Tony yang pertama menyalami Dian. Ia menepuk pundak Dian agar jangan bersedih. “Relakan ya Dian, harus iklas. Suami mu sudah sembuh. Dia tidak perlu mengalami sakit lagi,” ucap Tony dengan tangis yang coba ditahan.

“Dua bulan lalu Mas bilang bila dia meninggal agar dikebumikan di Kuningan (kampung halamannya). Beberapa minggu ini, dia seperti kehilangan semangat. Dia sudah malas membuka ponselnya, bahkan ponselnya suruh aku yang pegang. Sore tadi (Sabtu, 23/09/17) ia mengeluh matanya silau banget dan merasakan drop. Ku beri minuman manis, ia kejang. Gula darahnya merosot tajam. Sempat membaik kondisinya, dan gula darah meningkat, dan tidak berapa lama lagi drop. Dia kejang lagi. Dan mas Irwin meninggal,” ucapnya dengan bergetar dan tangisnya yang pecah lagi.

Kami diperbolehkan melihat wajah Irwin. Wajahnya terdiam. Aku melihat wajah yang tenang dan damai. Ia telah pergi dengan damai dan  tenang. Dalam hatiku aku berucap, “bahagia ya kang. Kamu sudah lulus. Tuhan sayang kamu. Kamu tidak perlu mengalami kesakitan lagi”

Kang Irwin jasadnya telah pergi. Hari ini (Minggu,24/09/17) jenazahnya dikebumikan di Kuningan, di Kampung Halamannya. Dia akan berbaring di tanah Kuningan selamanya. Dan dia telah pergi meninggalkan sobatnya selamanya. Tapi kisah hidupnya, kisah kegigihan perjuangannya, kisah keberhasilan membangun rumah tangganya, kisah keberhasilan membangun ekonomi keluarganya, akan tetap ada bersama kita. Dan akan menjadi kisah yang menginspirasi banyak pasien cuci darah. Irwin adalah semangat hidup. Selamat jalan sobat! Terima kasih atas apa yang telah kau berikan kepada kami semua. Aku dan teman-teman mengangkat topi atas kepergiannmu karena kamu pejuang.

 

*Ciganjur dalam siang yang mendung semendung hatiku saat ini.

0leh: Peter Hari (Sekretaris Jenderal KPCDI)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's choice
Skip to toolbar