26 Tahun Cuci Darah, Tidak Membuat Rian Andini Putus Asa

Gagal Ginjal adalah salah satu penyakit kronis dari menurunnya fungsi ginjal secara perlahan dan progresif. Menurut data dari Sample Registration Survey tahun 2014 oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan, hipertensi disebut sebagai penyakit penyebab kematian nomor lima tertinggi di Indonesia.

Bahkan, dari data Indonesian Renal Registry (IRR) pada tahun 2016 yang dimiliki oleh Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI) ini menyebutkan, lebih dari 70% penyakit hipertensi dan diabetes penyebab terbanyak terjadinya gagal ginjal serta disusul oleh penyakit glomerulopati primer termasuk didalamnya Sindrom Nefrotik.

Kurangnya kesadaran akan risiko penyakit inilah yang membuat angka pasien baru yang melakukan tindakan cuci darah terus bertambah dari tahun ke tahun. Untuk tahun 2015 saja, jumlah pasien baru mencapai 20.000 ribuan orang (data IRR tahun 2016), dimana tahun sebelumnya hanya 17.000 ribuan orang. Oleh karena itu, banyak pejuang gagal ginjal yang selalu mengkampanyekan fase preventif untuk menyadarkan setiap orang peduli akan pola hidupnya.

Salah satu pejuang gagal ginjal itu adalah Rian Andini (34 tahun) asal Surabaya. Saat itu Rian divonis mengalami gagal ginjal pada usia 9 tahun. “Saat itu usiaku baru 9 tahun, aku sudah harus menjalani cuci darah untuk pertama kalinya. Aku masih ingat itu tanggal 9 desember 1991,” kata wanita kelahiran 12 November 1982 tersebut.

Sejak menginjak usia 7 tahun, Rian telah di diagnosa mengalami penyakit Sindrom Nefrotik.

Sindrom Nefrotik adalah gangguan ginjal dimana ginjal mengeluarkan protein dalam urin yang terlalu banyak. Ginjal sehat harus menyimpan protein di dalam darah, bukan di urin. Biasanya penyakit ini banyak di derita oleh anak-anak.

Setelah mengetahui dirinya cuci darah, Rian sempat takut menjalaninya. “Yang aku pikirkan saat itu gak ada. Belum ngerti apa-apa soalnya. Aku hanya disuruh berobat biar cepat sembuh sama Mama dan Papa. Tapi, kalau udah liat mesin dan jarum yang besar itu, aku lari sambil menangis memeluk mama. Aku takut melihat alat-alat itu semua. Mama dan Papa merayu ku agar aku mau disuntik untuk cuci darah,” ungkapnya mengingat masa-masa sulit itu.

Selain cuci darah melalui mesin, Rian juga pernah mencoba terapi penganti ginjal yang lain yaitu melakukan cangkok ginjal. “Tahun 1996 aku pernah melakukan cangkok ginjal di Guangzhou, China. Namun, ginjal itu cuma bertahan satu minggu dan aku pun harus kembali cuci darah,” ujarnya dengan lirih.

Usia Rian kini telah menginjak 34 tahun, selama 26 tahun ia mampu melewati masa-masa sulit yang kini dianggapnya menjadi sahabat dan rutinitas sehari-hari. “Mesin itu adalah sahabatku,” tegasnya.

Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan Rian untuk melanjutkan kehidupan dan pendidikan. Ia tetap bersekolah. “Meski aku sakit, aku tetap mampu menyelesaikan pendidikan sampai dengan gelar sarjana,” kata wanita lulusan tata busana di Universitas PGRI Adibuana Surabaya tersebut.

Setelah lulus kuliah, dirinya juga membuat bisnis yang ia kelola sendiri. “Aku menamainya Tera Handycraft. Disana aku membuat tas dari tali kur untuk dijual dan berharap dapat memenuhi kebutuhan ku. Paling tidak obat-obatan dan biaya perawatan bisa aku tanggung sendiri,” ucapnya bangga.

Rian juga mengungkapkan bahwa saat ini dirinya sudah tidak bisa berjalan dengan normal, harus dibantu dengan menggunakan kursi roda atau tongkat kalau berjalan, dikarenakan empat tahun lalu ia mengalami kecelakaan jatuh dari sepeda motor. “Tulang dibagian panggul ku patah, aku jatuh dari motor”, ungkapnya sedih.

Bagi pasien gagal ginjal, kata Rian, tulang gampang rapuh. Gangguan tulang pasti akan dialami setiap pasien gagal ginjal. Ketidakseimbangan kalsium fosfor penyebabnya. Untuk itu, pasien gagal ginjal jangan sampai jatuh.

Sudah lebih dari satu tahun Rian bergabung di KPCDI (Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia). Pengalaman yang panjang menjadi pejuang cuci darah telah menginspirasi banyak orang. Semangat dan perjuangan yang gigih patut di contoh oleh setiap pasien lainnya.

Baginya, memberi semangat dan informasi kepada pasien gagal ginjal adalah hal yang paling penting dalam hidupnya. Ia berpesan agar selalu semangat dan tidak putus asa dalam menghadapi penyakit ini. “Jangan lupa terus berdoa dan berpikir positif, yang paling penting atur pola makan dan minum. Batasi cairan yang di konsumsi, termasuk batasan buah-buahan. Rajin minum obat, terutama obat pengikat fosfor, agar tidak mengalami gangguan tulang,” pesan wanita mungil yang baru kehilangan mama tercinta pada bulan mei 2017 yang lalu. (Tony Samosir/Ketua Umum KPCDI)

*Untuk teman yang ingin membeli produk tas tersebut dan membantu meringankan beban saudara kita, dapat menghubungi Rian di nomor WhatsApp: 0882-1762-7420.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *