Sebuah Hadiah Organ Ginjal Dari Sang Istri

“Inilah calon donor ginjalku, Ibu Karla Marini, wanita kelahiran Bandung, 46 tahun yang lalu, istriku sekaligus ibu yang telah melahirkan anak-anak kami. Dua putri dan satu putra yang sudah besar-besar. Besok pagi (7/11/2017), tepatnya pukul 07.00 WIB, wanita hebat itu akan “memberikan” salah satu dari ginjalnya, yaitu ginjal kirinya untuk “dipasang” menjadi ginjal ketiga untukku. Walaupun jujur aku tidak pernah meminta untuk dia menjadi donor bagiku. Keputusan untuk menjadi donor adalah murni keputusan hatinya sendiri, yang tentu saja digerakan oleh Zat Yang Maha Besar, Allah SWT, dengan dasar cinta dan keiklasan hati,” Kalimat di atas adalah status terakhir yang dikirim Pak Hasan di halaman facebook-nya, sebelum ia menjalani operasi transplantasi ginjal, hari ini (7/11/2017), di RSCM Jakarta. Pesan itu dikirim sekitar pukul 11.26 WIB, 19,5 jam sebelum dia memasuki ruang operasi.

Aku begitu terharu dan bahagia membacanya. Dalam hatiku, sebentar lagi satu sahabat akan menjalani hidup baru. Hidup dengan ginjal ketiganya, dan akan menjalani kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Setiap hari Pak Hasan rajin mengirim status di facebook-nya, tentang persiapan menuju operasi cangkok ginjalnya. Tanggal 5 Juli dia sudah opname di ruang rawat inap RSCM. Segala tahapan yang ia jalani, kami sebagai temannya bisa mengetahuinya. Dari catatannya itu, kami bisa menilai bahwa Pak Hasan sangat bersemangat dengan program cangkok ginjalnya. Tapi pagi ini, 11 Juli 2017, bertepatan dengan Hari Donor Darah Sedunia, tak ada secuil katapun yang menempel di dindingnya. Dia tidak menceritakan, detik-detik menuju meja operasi.

Dari pengalaman sebelumnya, sore ini pasti pak Hasan sudah mendapat ginjalnya ketiganya. Ginjal istrinya sudah berpindah ke tubuhnya. Pak Hasan dan istrinya, belum sadar dari obat bius yang disuntikan ke dalam tubuh mereka. Dan kami semua teman-temannya, sedang berdoa semoga operasi ini berjalan lancar.

Pak Hasan Yang aku kenal setahun yang lalu, pria dengan bobot 90 kg ini, pernah mengatakan kepada ku kalau dia berkeinginan membangun rumah singgah sekaligus menjadi Kantor Cabang KPCDI di Kalimantan Barat. “Rumah itu sudah jadi pak Hari. Kapan Pengurus Pusat datang untuk meresmikan. Biaya transport dan akomodasi akan kami tanggung,” ujarnya ke aku ketika kami rapat Pengurus Pusat di Hotel Jusenny, Blok S bulan kemarin.

Pak Hasan sendiri adalah pasien cuci darah. Pria berdarah Melayu itu mulai cuci darah sejak April 2016. Dia adalah pegawai Pemda Kabupaten Ketapang. “Saya menjabat sebagai Kasubag Keuangan. Walau saya mempunyai 14 anak buah, tetapi tetap harus menjalankan aktivitas harian,” ungkapnya.

Setiap hari Bapak dengan tiga anak ini bekerja secara normal seperti karyawan lainnya. Bahkan bila jadwal laporan bulanan, semesteran bahkan tahunan telah tiba, dia harus lembur sampai malam hari. “Kalau BPK melakukan pemeriksaan keuangan, ya, saya harus lembur sampai dini hari,” ungkapnya lagi.

Pria yang mempunyai hobi makan ini, menolak mengajukan dispensasi. Ia ingin menunjukan walau ia cuci darah, tetap masih mampu menjalankan aktivitas dengan normal. “Banyak teman-temanku sering terkaget-kaget kalau ternyata saya sudah cuci darah. Masyarakat Ketapang memandang kalau sudah cuci darah sebentar lagi akan ‘lewat’, ” tuturnya.

Seperti saat ini, Pak Hasan berada di Jakarta. Dia mendamping Sekda Kabupaten Ketapang memenuhi panggilan Mendagri. Atau hari yang lain mendampingi Bupati karena dipanggil Menteri Keuangan. “Dalam satu bulan saya rata-rata tiga kali terbang ke Jakarta,” ucapnya dengan kalem.

Pria yang penuh semangat ini ternyata jam kerjanya dimulai pukul lima pagi. “Pagi-pagi saya sudah mengkoordinir karyawan saya. Mengecek keperluan mereka. Saya juga mempunyai usaha kontrakan. Lumayan banyaklah. Apabila nanti aku sudah tidak menjadi pegawai negeri, usaha itu mampu menghidupi keluargaku,” ucapnya kali ini dengan penuh semangat.

Pak Hasan sudah terlatih sejak mudanya. Sewaktu dia kuliah menyelesaikan studi diploma dan kemudian jenjang Sarjana, dia berjualan tiket pesawat terbang. “Seminggu sekali saya pulang dari Yogyakarta ke Ketapang. Saya selalu membawa Batik. Saya jual di kampung dan lumayan labanya,” ucapnya kini dengan tertawa lepas mengenang perjuangannya di masa muda.

Bahkan keterusan sampai menjadi pegawai negeri. Bila ada tugas ke Jakarta pulangnya membawa pakaian dari Pasar Tanah Abang. “Sekali ke Jakarta, kami berempat. Tiga teman saya pulang tidak membawa apa-apa sehingga bagasinya saya manfaatkan,” ucapnya penuh gelak tawa.

Sungguh pria itu energik. Semangatnya luar biasa. Gagal ginjal tidak membuat berdiam diri dan termenung. Masih banyak cara untuk mengisi kehidupan dan dapat berguna bagi orang lain.

Kami sahabat-sahabatmu, saat ini sedang berdoa demi suksesnya operasi itu. Kami berharap Pak Hasan menjadi orang yang lebih sehat lagi. Dengan begitu akan semakin dapat membahagaiakan keluarga, saudara, dan dapat lebih luas lagi membantu para pasien cuci darah di daerah Kalimantan Barat.

 

*Penulis: Peter Hari (Sekretaris Jenderal KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *