Cuci Darah yang Nyaman & Target Adekuasi Tercapai Adalah Pilihan Paling Baik Bagi Setiap Pasien

Seperti kebanyakan pasien cuci darah pada umumnya, sangatlah sulit berpindah tempat hemodialisa (HD). Entah karena sudah terlalu nyaman dengan lingkungan atau karena malas urus pindah untuk yang baru.

Banyak juga pasien yang sudah menyadari bahwa tempat dimana mereka cuci darah sekarang kurang memenuhi standarisasi dalam pelayanan dan tindakan. Walau demikian, mereka enggan untuk pindah tempat cuci darah. Alasan yang paling utama karena suasana sudah begitu nyaman, teman-teman dan tenaga medis yang sudah sangat akrab. Susah untuk ditinggalkan.

Seperti Pak Lutfi Ibrahim, bapak lima anak ini mengeluh atas pelayanan hemodialisa sebuah rumah sakit di Jakarta. “Beberapa kali saya dan  teman-teman sering mengigil. Saya tahu itu karena SOP (Standart Operating Procedure) dalam penggunaan air RO (Reverse Osmosis) sangat buruk. Tapi ya gimana, para suster dan dokter begitu baik kepada saya. Mereka sudah seperti keluarga sendiri. Rasanya, berat sekali meninggalkan mereka,” ungkapnya.

Ketika mendengar Rumah Sakit Siloam Asri membuka unit cuci darah dengan jaminan BPJS Kesehatan, ia menjadi penasaran. “Masa sih, Siloam yang terkenal sebagai rumah sakit golongan orang mampu dan pelayanannya prima itu mau bekerjasama dengan BPJS Kesehatan,” ungkap dia di status Facebook-nya.

Pak Lutfi bertambah heran, ketika bagian marketing rumah sakit itu mengatakan kepadanya kalau fasiltas hemodialisa di sana mendapat Hormon Epo untuk meningkatkan sel darah merah bagi pasien HD, sebanyak empat kali dalam sebulan. “Wah mantap nih, tabung dializernya reuse-nya hanya maksimal 4 kali. Apalagi mesinnya dialisisnya menggunakan B-Braun,” tambahnya.

Keputusan pun langsung diambil oleh Pak Lutfi. Ketika ditemui di sana, pada cuci darahnya yang ke-empat kalinya, dan ia langsung menyatakan puas. “Susternya baik, profesional dan peduli sama kita. Pasien di sini juga baik. Kekuatiran ku tentang suasana baru membuat tak nyaman sirna sudah,” ujarnya sambil melanjutkan makan nasi goreng yang disediakan khusus oleh RS Siloam Asri bagi setiap pasien HD disana.

Ketika ku tanya kemana Novi?, dia menjawab dia drop, langsung dibawa ke ruangan UGD (Unit Gawat Darurat) tadi. “Katanya di lantai satu, tak jauh dari sini. Tadi dua perawat dari UGD membawanya ke ruang UGD langsung. Novi hari ini nggak ada yang nunggu,” ujarnya.

Kulihat Pak Lutfi sedang menonton film di gadget-nya. Ketika ku tanya apakah tidak boros paket internetnya. Dengan tersenyum dia menjawab, “di sini juga ada layanan wifi, gratis Pak. Khusus Pasien HD”.

Tanpa ragu aku pun ikut mendaftar ke Siloam Asri. Pada cuci darah yang keempat, berat kering ku menjadi 90 kg. Padahal sebelumnya selalu pulang HD dengan timbangan 94 kg. “Ya Tuhan, ternyata selama satu tahun ini aku kesana kemari membawa air seberat 4 kg,” keluh ku.

Dan hari selanjutnya, tensiku mulai turun dan tidur nyenyak. Teringat perkataan dr. Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH, tensi naik karena cairan, dan bila diberi obat tensi tetap masih “bandel” berarti itu hemodialisanya tidak adekuasi.

Bagi teman-teman yang ingin mendaftar bisa langsung menghubungi Rumah Sakit Siloam Asri di;

Alamat: Jl. Duren Tiga No. 20 Mampang, Jakarta Selatan.
Nomor telepon: (021) 2783 7900

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *