Tika Musfita, Perempuan Yang Dilahirkan Kembali

Banyak orang tak percaya kalau perempuan ini adalah penari handal. Ketika aku bertemu dengannya, akhir Februari ini, mukanya masih ditutup masker. Tubuhnya masih terlihat belum fit sepenuhnya. Baru lima minggu yang lalu Tika melakukan transplantansi ginjal di RSCM Jakarta.

“Aku masih banyak melakukan aktivitas di dalam rumah. Kalau keluar begini saya harus memakai masker. Aku masih tetap berkomunikasi dengan teman-teman bisnisku. Aku tetap menjalankan aktivitas kerjaku,” ujarnya.

Tika Musfita, begitu nama lengkapnya. Perempuan kecil mungil ini lulusan Fakultas Budaya, Jurusan Sastra Asia Barat (Sastra Arab), tahun 2013. Semasa kuliah, Tika aktif di sanggar tari kampusnya. Tari yang ditekuninya adalah Tari Aceh. Ketekunan dan kecintaannya terhadap seni tari, membawanya terbang ke Eropa. “Saya berkesempatan mengikuti festival tari internasional di Belgia. Program yang dikoordinir UNESCO ini, membuat saya juga berkesempatan melakukan pertukaran budaya selama dua minggu,” kenangnya dengan bangga.

Sungguh malang, penyakit gagal ginjal yang dialaminya telah memupuskan harapannya untuk terus menjadi penari handal.  Perempuan muda yang fasih berbicara Bahasa Arab ini harus cuci darah seminggui dua kali. “Tahun 2013 saya lulus, dan pulang ke Bengkulu. Setahun kemudian, cobaan itu datang ketika menunggu beasiswa S2 ke luar negeri,” ujarnya kini dengan nada sedih.

Setahun Tika cuci darah di Bengkulu. Langkah selanjutnya mengantarkan perempuan yang pada tanggal 10 Maret 2017 ini telah berusia 25 tahun, kembali lagi ke Yogyakarta. Di sana ia melakukan perubahan dialisis dengan cara CAPD. “Dengan CAPD kondisi badan saya lebih baik. Tidak lagi mengalami drop,” ungkapnya.

Tika mulai merintis bisnis. Bersama dua temannya dia mendirikan usaha yang bergerak dibidang kreatifitas. Ia menekuni bidang tari kembali. Bidang yang telah menorehkan prestasi baginya. Tika pernah mendapat penghargaan The Best International of Performance pada Festival Tari Internasional di Malaysia.

Perusahaan Tika dan teman-temannya menjadi konsultan dan pendamping sangar-sanggar tari di Yogyakarta yang ingin anggotanya mengikuti festival Tari Internasional. “Kami mendampingi mulai dari latihan, membuatkan proposal, pencarian dana, dan menjadi manager delegasi yang  mengikuti festival tari di luar negeri,” ungkapnya dengan sorot mata sumringah.

Tika dan teman-temannya boleh bangga, karena mulai tahun ini setiap bulan akan ada agenda ke luar negeri. Bulan depan katanya, ada yang  akan terbang ke Amsterdam.

Sungguh aku kagum terhadap perempuan yang gesit ini. Sebagai pasien gagal ginjal dia tidak mau berdiam diri. Dia tetap mengejar mimpinya. Kesehariannya disibukan membina  sangar tari satu ke sanggar tari lainnya. Bahkan tahun lalu dia masih sempat mengorganisir rangkaian acara “World Kidney Day”. Acaranya begitu meriah dan sukses. Apa yang dia kerjakan melampaui apa yang dilakukan orang sehat. Dia juga penggagas web “Donor Organ”. Baik kegiatan bisnis dan sosial berjalan berbarengan. Tiada kata lelah baginya.

Pada tahun 2016, dia mempunyai kesempatan transplantasi ginjal. Adalah anak muda yang menawarkan ginjalnya diberikan secara sukarela ke Tika. “Tentu saja aku tidak langsung percaya. Ketika kutanya alasan, cowok berusia 22 tahun itu karena selalu ingat temannya yang meninggal karena membenturkan kepala di tembok. Temannya itu frustasi,  tidak bisa cuci darah karena tidak punya uang,” ungkapnya dengan sendu.

Sayang, pada tahap pra transplantasi, sang donor dinyatakan tidak memenuhi syarat. Riwayat hidupnya selama ini sebagai perokok membuat kondisi kesehatan tubuhnya tidak layak menjadi donor. Tapi, justru membuat sang ayah yang saat itu ikut mengantar, memutuskan untuk menjadi pendonor kedua. Padahal, perempuan berjilbab ini sudah kehilangan harapan karena ayahnya sudah berusia 55 tahun.

Harapan Tika mulai tumbuh lagi. Segala persiapan pra sudah dijalaninya. Kita sebagai teman-temannya sangat bergembira karena sebentar lagi Tika akan mendapatkan ginjalnya yang ketiga. Sehari menjelang pelaksanaan operasi ternyata ditemukan virus hepatitis B di tubuh ayahnya. Operasi dibatalkan. “Aku tak bisa berkata-kata. Aku kuatir Tika down,” ujar Tony Samosir ke aku via WhantsApp.

Rasanya, Tika mempunyai banyak kesempatan memperoleh donor. Ketika dokter menanyakan golongan darah ibunya, ternyata bisa menjadi donor buat Tika. Tika sendiri AB dan bisa menerima donor dari ibunya yang golongan darahnya B.

Tanggal 17 Januari 2017 kemarin operasi berlangsung dengan sukses. Kami semua teman-temannya memperoleh foto Tika dan ibunya sebelum memasuki ruang operasi. Senyumnya penuh optimis, mengambarkan dia yakin kali ini akan berhasil.

Ketika kutanya rasanya setelah siuman dari operasi yang maha penting itu, Tika mengatakan dengan penuh semangat. “Rasanya aku dilahirkan kembali. Selama ini aku sudah pasrah setiap hari harus melakukan empat kali ganti cairan seumur hidup. Ketika aku tidak lagi melakukan itu, ya Allah, sungguh aku diberi kesempatan hidup kembali,” ucapnya dengan mata berkaca.

Jangan pernah takut untuk transplantasi ginjal, akhirnya keluar juga dari mulutnya untuk kita semua. “Apalagi sekarang sudah di tanggung BPJS, dan bisa mengcover sampai 90 persen. Dan jangan takut menjadi pendonor juga. Harusnya, satu keluarga sakit semuanya ikut sakit. Dan sudah terbukti pendonor hidupnya normal-normal saja,” tandasnya.

Suara panggilan dokter ginjal hipertensi kepadaku akhirnya membubarkan pertemuan kami. Aku mohon pamit, dan semoga bisa bersua dengannya kembali. Dengan Tika, ini adalah pertemuan kedua. Pertemuan pertama terjadi di awal tahun 2016, saat aku sedang cuci darah di PKU Muhamadiyah di Yogyakarta.

Bertemu dengannya selalu  membawa kesan tersendiri. Dia perempuan yang tak mau menyerah kepada keadaannya kini yang serba terbatas. Dia perempuan yang gigih mengejar mimpinya. Dan aku mengucap syukur karena oleh yang Maha Kuasa di dunia ini dia “dilahirkan kembali”. Selamat menjalani hidup yang diberikanNya.

*Ciganjur di siang yang panas tanpa tiupan angin.


Oleh: PH. Hariyanto (Sekretaris Jenderal KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *