Dia Adalah Hero Bagi Nathan

Pukul tiga pagi ini aku terbangun. Seperti biasa bila sehabis cuci darah di sore hari, malamnya akan sulit untuk tidur nyenyak. Seperti sekarang terbangun sangat awal. Seperti biasanya aku refleks mengambil Ponsel ku. Kubuka halaman facebook ku. Paling awal yang muncul status Gladys Elizabeth Mokoagouw, kakak kandung Nathan. Aku pun langsung membacanya.

Gladys bercerita kalau malam kemarin dia bisa masuk ke ruang ICU di mana Nathan dirawat dan bisa bertatap muka langsung. “Aku cium tangannya, dia gerak, walau matanya terus terpejam. Baby, sabar jangan meronta sayang nanti kamu kesakitan. Kakak di sini. Nathan genggam tanganku kuat-kuat pakai tangan kirinya, lalu dia mengerakkan bibirnya tapi tidak ada suara. Aku menangkap dia mengatakan kakak sakit…..udah….udah…. pulang,” tulis Gladys dalam status di akun facebooknya.

Tak terasa air mataku menetes. Aku larut dalam kesedihan yang dirasa oleh Gladys atas penderitaan Nathan, sang adik tercinta. Dua hari yang lalu aku, Tony, dan Donny sempat mengunjungi mereka. Kami bertiga hanya bisa melihat dari balik kaca, Nathan terbaring lemas di ruang ICU RSCM itu. Ventilator dan alat-alat lainnya terpasang pada tubuhnya yang tak berdaya. Sesekali kakinya digerak-gerakan tanda dia gelisah dalam komanya.

“Sudah seminggu Nathan terbaring koma di ruang ICU,” ucapnya ketika menjawab pertanyaanku.

Menurut ceritannya sebelum di ruang ICU, adiknya sudah dirawat di RSCM selama dua minggu. “Awalnya demam karena infeksi di CDL-nya (Chateter Double Lumen). Sempat diobati tapi tidak jadi dicabut CDL, sempat juga membaik, tetapi kemudian kembali demam. Lalu dilakukan pemeriksaan darah yang hasilnya baru selesai 5 hari lagi dikarenakan pemeriksaan khusus. Dan selama itu hanya diberi obat paracetamol untuk menurunkan demam. Sebelum hasil tes darah keluar Nathan sudah tidak kuat. Dia sesak hebat dan kejang serta kesadarannya sudah begitu rendah. Untung bisa segera masuk ke ruang ICU,” ucapnya dengan nada penyesalan.

Gladys menunggui adiknya selama 24 jam. Selama seminggu ini, perempuan berkacamata ini tidak pernah pulang ke rumah. Dia tidur di ruang dekat ICU. Kulihat ruangannya tidak ber-AC, hanya kipas angin yang menolong ruangan itu dari udara panas. Dia juga harus berbagi dengan keluarga pasien lainnya. Tidur berhimpitan. “Kalau baju, terpaksa kita serahkan kepada laundry tidak perlu mencuci,” ucapnya dengan tawa ringannya.

Sosok kakak yang begitu mencintai dan menyanyangi adiknya. Mereka berdua sebatang kara. Kedua orang-tua mereka sudah meninggal dunia. Ketika terkena gagal ginjal, usia Nathan masih 15 tahun. Sekarang usia Nathan 19 tahun. Sudah 4 tahun dia cuci darah, dan selama itu pula kakaknya setia mendampinginya. Bisa dikatakan Gladys mencurahkan seluruh hidupnya untuk Nathan. Tidak mudah bagi pasien cuci darah anak-anak menjalani proses hemodialisa. “Teman Nathan yang seusia dia sudah banyak yang “pergi”. Nathan salah satu-satunya pasien yang mampu bertahan,” ucap Gladys sewaktu kami bertemu pertama kali setahun yang lalu.

Bila kita membaca dan mengikuti status di facebooknya, terlihat bahwa Gladys selalu hadir dan menjagai Nathan dalam saat-saat dia mengalami drop atau sakit. Begitu telaten dan lembut merawat Nathan. Rasanya dia tak pernah mengeluh, walau Nathan sering mendapat cobaan. Ia selalu punya semangat kalau Nathan selalu bisa melewatinya. Dia begitu percaya kalau Tuhan selalu menyertainya. “Aku percaya Nathan akan pulih seperti sedia kala, aku kangen dengar suaranya, pasti Tuhan Yesus selalu menyertai Nathan”, ungkap Gladys dengan yakin dan percaya.

Melihat sosok Gladys, kita belajar tentang apa itu cinta yang tulus. Dari sosok perempuan ini kita belajar apa itu kesetian. Dari sosok seorang kakak kepada adiknya kita belajar tentang hati yang mau berkorban. Dia adalah hero bagi Nathan. Dan ia juga hero bagi semua pasien cuci darah karena kisahnya menginspirasi banyak orang untuk mau peduli dan empati kepada keluarga dan teman, atau sahabat yang menderita gagal ginjal kronik.

*Dalam sendiri di sebuah sore di ruang 503

Oleh: Petrus Hariyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *