RIP: Mengenang Dian Masayu

Pertama kali bertemu denganmu saat Pengurus Pusat bertemu dengan Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) dan BPJS Kesehatan untuk kedua kalinya. Saat itu kamu datang bersama dengan Helsa. Kau kenalkan namamu Dian Masayu. Aku langsung paham, kalau kamu adalah pasien di Royal Progres. Tony Samosir-lah yang membuat group WhatsApp Royal Progres. Selain dirimu di situ ada Bu Alfrida, Helsa, Thomas dan yang lainnya. Berminggu-minggu mendiskusikan persoalan reuse tabung dialyzer di Royal Progres yang angkanya menohok akal sehat kita. Kamu termasuk yang aktif memberikan data dalam group itu.

Pada tanggal 23 Desember 2016, menjelang Natal, aku berkesempatan membezuk kamu di ruang 305 RSCM. “Aku orang Batak Pak Har. Tapi namaku Dian Masayu. Kayak bukan orang Batak ya namaku. Kakak ku namanya Dewi. Nama kami seperti nama orang Jawa,” ucapnya kepadaku.

Rupanya, Dian baru pindah ke ruang VIP. Sebelumnya, dua minggu dia ada di ruang kelas 3. Kamar yang besar. Bahkan dia menghiasinya dengan pohon Natal. Harusnya, dia berkumpul bersama keluaganya untuk merayakan Natal. Tapi, sakit kelainan katub jantungnya membuat dia terbaring lemah di rumah sakit. “Rasanya sesak sekali Pak Hari. Kupikir cairan. Tenyata kelainan katub jantung. Aku sedang menunggu operasi pemasangan katub jantung buatan,” ucapnya dengan suara yang begitu lemah.

WhatsApp Image 2017-01-14 at 17.33.46Hari ini ia ditemani suaminya dan kakaknya. Bahkan kedua anaknya yang masih kecil berhasil dibawa masuk “Pihak keamanan RSCM mengijinkan anak kami masuk walau hanya sebentar saja,” ucap suaminya kepadaku sambil memperkenalkan diri.

Langsung saja, Dian mendapat pelukan dan ciuman dari kedua anaknya. Ranjang yang tidak terlalu besar itu menjadi peraduan anak dan ibu yang saling melepas kangen. Walau tubuh Dian masih ringkih tapi dia tak perduli menciumi kedua anaknya dan memeluknya dengan begitu hangat.

“Saya kakaknya Dian. Saya juga baru datang dari Bali. Setelah mendapat kabar dia sakit kuputuskan ke sini,” ucap perempuan seumurku itu memperkenalkan diri.

Lantas kami ngobrol panjang lebar dengan kakaknya. Ternyata kami dulu sama-sama kuliah di Fakultas Sastra. Kalau aku di Universitas Dipenogoro (UNDIP) dan dia kuliah di Universitas Indonesia (UI). Kebetulan aku tahu nama anak-anak Sastra UI angkatannya. Maka ngobrol kami semakin nyabung dan asyik.

Sudah dua jam aku membezuknya. Aku bertahan tidak pulang karena menunggu Pak Jimi yang juga mau membezuk. Waktu selama itu, membuat aku lebih mengenal Dian dan keluarganya.

Tanggal 9 Januari 2017, aku membezuknya lagi. Kali ini bersama Hendra. Kebetulan aku juga membezuk Pak Jimi yang keesokan harinya akan operasi transplantasi ginjal. Kamar mereka bersebelahan. Pak Jimmy kamar 304, Dian di kamar 305.

“Doakan Pak Hari, besok aku operasi. Aku begitu takut menghadapinya,” ucapnya dengan mata sayu.

Aku tak kuat memandang sorot matanya yang sudah tidak bersemangat itu. Aku berusaha memberi dukungan kepadanya. Teringat akan kedua anaknya yang masih kecil dan sangat membutuhkannya. “Kamu harus semangat ya. Demi anak-anak mu Dian,” ucapku dengan mantap.

Responnya datar saja. Dia tidak membalas hanya mendengar aku berbicara. Dan lama-kelamaan dia tertidur. Karena sudah Magrib aku pamit ke suaminya. Suaminya membangunkan Dian yang tertidur. Aku pegang telapak tangannya sejenak, ketika melepas ada perasaan kehilangan dia. Dalam hatiku semoga tidak ada apa-apa dengannya.

Ketika keluar kamar, kakaknya yang bernama Dewi memanggilku. Dia berbicara sangat serius kepadaku. “Dia sudah tidak punya semangat. Kasihan anak-anaknya. Dia sudah capek. Dia ingin bertemu dengan ibu dan Opungnya. Ayo mas, kamu dan teman-teman sesama pasien cuci darah tentu bisa memberi semangat Dian untuk bertahan hidup,” pintanya kepadaku.

“Ya Mbak, itu sudah tugasku dan komunitas. Nanti akan kami ajak teman-teman yang lain untuk membantu membangkitkan semangatnya,” jawabku kepadanya.

Pada hari Kamis, sehari setelah Dian operasi, aku bertanya kepada kakaknya lewat pesan WhatsApp.  Aku merasa kuatir, dan ingin memastikan Dian baik-baik saja. Lewat pesan itu kakaknya mengatakan bahwa operasi sudah dilakukan, tapi belum bisa disadarkan karena masih banyak alat yang terpasang di tubuhnya. Masih dalam pembiuasan total. Setelah keadaan membaik baru bisa disadarkan. Proses bedah mengalami kendala karena pendarahan yang cukup banyak. Operasinya mempunyai 7 resiko mulai dari pendarahan sampai pada kematian.

Walau aku tidak sepenuhnya memahami apa yang dikatakan kakaknya, tetapi perasaanku mengatakan bahwa Dian kondisinya kritis.

Kemarin, aku sungguh terkejut mendapat berita Dian sudah meninggalkan kita semua.

WhatsApp Image 2017-01-15 at 14.10.25Teringat permintaan kakaknya, belum sempat kujalani tapi Dian sudah pergi. Walau aku tidak begitu dekat dengannya tetapi kepergiannya sungguh membuat aku sedih. Kita semua telah kehilangan sosok anggota KPCDI yang berani berjuang memperjuangkan hak-hak pasien cuci darah. Kalau saat ini pasien di Rumah Sakit Royal Progres bisa menikmati reuse 8 kali, dan tidak 30 kali lagi, itu salah satunya karena jasanya. Mari kita lepas kepergiannya dengan mengangkat topi karena Dian adalah pejuang bagi pasien cuci darah.

Selamat jalan sobat. Purna sudah tugasmu di dunia. Semoga kau bahagia di sana.

*Ciganjur di sebuah sore ditemani mendung yang begitu tebal

Oleh: Petrus Hariyanto (Sekretaris Jenderal KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *