“Bertarung” di Jalanan Dengan Orang Yang Sehat

Oleh: Petrus Hariyanto

Pukul sembilan pagi ini KRL Jabodetabek masih padat. Terlihat penumpangnya berjubel sampai ke pintu. Kuberanikan diri untuk naik. Aku takut kesiangan sampai di RSCM. Akibatnya, aku mendapat tempat berdempetan dengan pintu. Aku hanya berdiri dengan sokongan tongkat ditangan kanan ku. Sementara tangan kiriku kusandarkan di pintu.

Sesampai di stasiun Pasar Minggu, beberapa penumpang turun. Aku jadi bisa bergerak lebih mudah lagi ke dalam. Dengan begitu, aku berharap ada penumpang yang duduk melihat aku dan menawarkan kursinya. Ternyata tidak ada yang melihat aku, atau pura-pura tidur.

Aku hanya pasrah saja. Aku tak pernah menuntut diberi tempat duduk. Kalau ada yang nawarin ya besyukur. Selama aku menggunakan KRL, lebih banyak berdiri dari pada diberi tempat duduk. Hati mereka apa buta ya, melihat seseorang pakai tongkat dibiarkan berdiri di kereta.

Secara medis serangan stroke ku di pusat keseimbangan otak tidak bisa disembuhkan. Dia meninggalkan cacat bawaan. Keseimbangan ku terganggu. Kalau jalan maunya terjatuh. Ditambah telapak kakiku sakit karena tumbuh tulang muda karena keseimbangan kalsium ku terganggu. Buat berdiri lebih sepuluh menit tak kuat. Menderita sekali bila naik kereta yang penuh dan tidak dapat tempat duduk. Pernah kesakitan sekali, setiap dua stasiun aku turun dulu dan mencari tempat duduk untuk mengurangi rasa sakit di telapak kaki ku ini.

Belum lagi bila kereta mau memasuki stasiun Manggarai. Biasanya menunggu cukup lama, tidak langsung masuk, karena padat. Pada saat ini aku sudah tidak kuat berdiri rasanya ingin duduk di lantai.

Setibanya di stasiun Manggarai aku bergegas mencari tempat duduk. Sialnya sudah tidak ada kursi yang kosong. Terpaksa duduk di tangga. Sudah siap berjalan lagi tiba-tiba kereta di jalur lima datang. Tentu saja kami tidak bisa menyeberang. Stasiun Manggarai memang palingjadul. Tidak ada jalan lewat bawah atau atas. Setiap penumpang harus menyeberangi rel kereta. Kalau Satpam lalai mengatur pergerakan penumpang, bisa tertabrak kereta. Entah kapan  selesainya jalur bawah tanah untuk pergerakan penumpang. Mungin sudah satu setengah tahun ini tak jadi-jadi.

Ketika sudah bisa menyebrang di jalur lima, ternyata jalur tiga sudah ditutup kereta yang lain. Bisa menyebrang asal mau menaiki tangga buatan dari besi berwarna oranye. Sungguh  siksaan bagiku. Baik naik atau turun rasanya mau terjatuh. Mujur kalau bertemu dengan Satpam, mereka mau membantu dengan memegang tangan saya. Dan celakanya kalau kereta tiba-tiba berangkat. Membuat saya panik untuk segera menyelesaikan penyeberangan.

Dengan susah payah aku berhasil berjalan keluar dari stasiun Manggarai. Kini gilian berganti bemo. Dia paling murah ongkosnya. Bajaj ongkosnya dua puluh ribu. Gojek 7 ribu, sementera bemo 4 ribu saja. Tapi resikonya dengkul kita harus saling beradu, apalagi dengan badanku yang gede ini.

Dan pukul 10 pagi aku sudah sampai di RSCM sebuah kunjungan yang terlalu siang. Dapat nomornya gede sekali. Sore hari baru akan dilayani. Kalau ingin dapat obat, jangan ditanya kapan akan selesainya. Biasanya aku tinggal, dan pada keesokan harinya aku ambil. Dan tentunya menjalani lagi perjalanan seperti yang saya ceritakan di atas.

Menjelang malam di Gedung Nusaantara I

Oleh: Petrus Hariyanto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *