Semangatnya Yang Menolong Nyawa Suaminya

Oleh: Petrus Hariyanto

Usianya sudah kepala tujuh. Sebuah usia yang sudah senja. Sang bapak ini sudah payah berjalan, harus dengan bantuan kursi roda. Setengah gigi depannya sudah ompong. Kalau diajak bicara sering tidak nyambung. Sudah menjalani dialisis kurang lebih dua setengah tahun.

Istrinya setia menemaninya berangkat cuci darah. Menungguinya, karena sang bapak sudah tidak bisa menjalani aktivitas apapun secara mandiri. Sesekali sang istri membawa peyek untuk di jual kepada pasien lainnya. “Lumayan buat tambah ongkos transport,” ujarnya.

Sang bapak hanya bisa menggunakan taksi untuk transport pulang pergi ke tempat hd. Transportasi umum memang tidak ramah buat pasien cuci darah. “Pernah naik angkot, malah membuat bapak hampir terjatuh, “ keluh sang istri.

Setengah tahun ini, sang istri mengeluh kalau suaminya sering melanggar pantangan minum air terlalu banyak. “Bapak sukanya nyuri-nyuri minum. Sudah saya sembunyikan dan marahin, tapi tetap nekad mencuri minum. Bahkan minum kopi,” keluh sang istri.

Dampaknya, sang suami perutnya gendut (Ascites). Setiap cuci darah tidak bisa ketarik semua. Timbunan air ditubuhnya semakin mengunung. Tubuhnya kurus tapi perutnya gendut. Kalau cuci darah tidak bisa dalam posisi tidur karena sesak. Dalam posisi duduk saja nafasnya berat. “Berkali-kali masuk Rumah Sakit Fatmawati, tapi bapak tetap bandel,” ungkap sang istri.

Kesabaran sang istri lama-kelamaan habis. Sang istri sudah patah arang. “Masa bodo. Biar aja sesak napas,” keluhnya semakin dalam kepadaku.

Ketika aku bilang bapak harus disedot (pungsi) cairan dalam perutnya, sang istri menolak membawa sang suami ke rumah sakit. “Percuma saja, nanti minumnya juga banyak lagi,” ujarnya dengan nada teramat putus asa.

Kami teman-temannya berusaha memberi semangat kepada sang istri. Kami teringat kematian Pak Jimmi dan Om Bernard. Kedua teman kami itu meninggal karena kelebihan cairan ditubuhnya. Kami sudah berusaha memberi semangat agar mereka mau cuci darah seminggu tiga kali. Putus asa mungkin sebuah kata yang tepat penyebab kematian mereka berdua. Ada jalan keluar, tapi mereka sudah tak memiliki semangat lagi.

Sebagai teman, saat itu kami gagal memberi semangat. Kami sudah berusaha sekuat tenaga. Kami mempunyai tradisi saling membantu sesama pasien cuci darah. Yang sedang lemah kita kuatkan. Yang sedang sedih kita hibur. Bergembira bersama, piknik bareng, karoke bareng, buka puasa bersama. Dan kami tumbuh sebagai komunitas. Seperti kami mempunyai keluarga baru.

Kami tidak ingin sang istri putus asa. Bapak itu bisa ditolong kalau semangat sang istri bangkit lagi. Kukatakan kepadanya kalau itu bukan untuk suaminya. “Abaikan dia bu. Ibu anggap ini hanya untuk kepentingan ibu nanti di dunia fana. Jika Ibu perlu membawa bekal amal setelah tidak di dunia ini maka selamatkan bapak sekarang Bu,” mohonku sambil bergetar.

Tiga hari kemudian sang bapak itu tidak berangkat hemodialisis (HD). “Apakah ada apa-apa?,” tanyaku dalam hati.

Setengah bulan berikutnya, dia berangkat HD kembali. “Cairan di perutku sudah berhasil disedot 20 kg,” ujarnya sambil tersenyum.

Aku gembira sekali sang bapak sudah sehat. Perutnya sudah kempes. Senyumnya mengembang terus walau setengah giginya sudah ompong. Ibu itu berhasil bangkit lagi. Suaminya sudah tertolong.

Aku juga ikut bahagia. Semoga kami di sini tetap mempunyai semangat untuk saling menolong. Semoga kisah ini bisa memberi inspirasi teman-teman untuk membangun komunitas di tempat HD-nya masing-masing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *