Pejuang Hemodialisis Dari Kota Khatulistiwa

Oleh: Petrus Hariyanto

Pada bulan Agustus yang lalu, di Fan Page KPCDI pernah memuat kisah Emerita Lusia, seorang perempuan yang berkeinginan mendonorkan ginjalnya buat suami yang sangat dicintainya, Jimmy Halim Wijaya. Kisah itu dikutip dari liputan media online, tribun pontianak.

Kini, pasangan suami itu sedang berjuang agar cita-cita mulia mereka terealisir. Mereka berdua sedang menjalani rangkaian pemeriksaan medis di RSCM Kencana dan RSCM Pusat, Jakarta.

“Puji Tuhan, tingkat kecocokan saya dengan istri sangat tinggi. Padahal golongan darah kami berbeda,” ujar Pak Jimmy ketika kami bertemu di Poli Ginjal Hipertensi RSCM.

“Tinggal satu lagi bagian tubuh saya yang perlu diperiksa. Saya sedang mencari rekomendasi KGH di RSCM agar bisa USG pembuluh darah ginjal,” ungkapnya.

Kadang ke Kencana kadang ke RSCM Pusat, Ketika kutanyakan kepadanya kok harus begitu, dia jawab untuk menghemat anggaran.”Awalnya saya di Kencana. Pemeriksaan pra transplantasi adanya di Kencana. Di sini BPJS tidak berlaku. Sekali konsul harus keluar uang Rp 350 ribu. Apalagi kalau pemeriksaan fungsi organ tubuh saya menggunakan alat canggih, bisa puluhan juta uang aku keluarkan,” keluhnya.

Lama kelamaan saya diberitahu kalau periksa jantung, paru-paru bisa di RSCM Pusat. Ya begini, kita harus daftar ke Poli Ginjal Hipertensi. Dari sini kita baru dapat rekomendasi untuk periksa USG pembuluh darah di ginjal,” ungkapnya lagi.

Sayang, menurut pak Jimmy pemeriksaan untuk istrinya tidak bisa menggunakan BPJS. “Kami kemarin sempat pulang ke Pontianak untuk urus rujukan buat sang. Saya kecewa karena tidak bisa digunakan. Baik konsul dan pemeriksaan harus di RSCM Kencana. Puluhan juta harus kami keluarkan,” keluhnya lebih dalam lagi.

Demi program cangkok ginjalnya, Pak Jimmy dan sang istri rela meninggalkan kampung halamannya di Pontianak, Kalimantan Barat. “Saya sudah di Jakarta sejak tanggal 16 Agustus. Saya berdua kos di daerah Kramat Sentiong. Biar murah dan ngirit,” akunya.

Awalnya datang ke Jakarta dia menginap di hotel. Setelah diberitahu bahwa pemeriksaannya memakan waktu berbulan-bulan, akhirnya Pak Jimmy memutuskan mencari kos. “Kami hanya mampu dua hari tinggal di Hotel,” ujarnya dengan tertawa.

Selain bolak-balik periksa ke rumah sakit, hari lainnya tetap disibukan dengan kegiatan cuci darah. Bahkan sekarang dia harus cuci darah seminggu tiga kali. Dia melakukannya di Klinik Tidore.

Sore hari, setelah kami selesai konsul di Poli Ginjal Hipertensi, lantas diajaknya aku ke daerah Jembatan Lima. “Ini makanan asli Kalimantan. Nasi Campur. Bisa naikan Hemogelobil (Hb),” ujarnya dengan nanda bercanda.

Dan kami semakin larut dalam obrolan. Seakan kami bertiga seperti sahabat yang sudah lama kenal.

“Kami rindu anak-anak kami di kampung. Kami juga meninggalkan bisnis kami di kampung. Tak ada kerja tak ada uang. Tapi kami harus tetap melangkah maju. Transplaantasi ini akan merubah nasib kami kelak. Semua demi empat anak kami,” ujar Emerita Lusia.

Begitu tegarnya perempuan asli suku Dayak ini. Dia adalah perempuan ketiga yang kutemui. Perempuan hebat. Perempuan berhati malaikat, yang berkorban untuk orang-orang yang dikasihi dan dicintai.

Mari kita dukung perjuangan mereka berdua. Mereka adalah pejuang-pejuang hari depan lebih baik dan indah. (RSCM, 07 Oktober 2016)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *