Pejuang Dialisis: Tika pilih terapi CAPD pada awal divonis gagal ginjal

 

Pejuang Dialisis: Tika Andriani
Usia: 28 tahun
Dialisis sejak: September 2009
Lama dialisis: 7 tahun

Bagi para penderita gagal ginjal stadium akhir (CKD stage V), pengobatan dengan dialisis adalah suatu keharusan. Dialisis adalah metode untuk menyaring limbah dari darah yang menggantikan fungsi ginjal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Selain hemodialisis, terapi penganti ginjal lainnya adalah dengan CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis).

Cara ini yang telah dipilih Tika Andriani sejak 7 tahun yang lalu, dimana Tika telah divonis mengalami gagal ginjal pada usia yang sangat muda. “Aku divonis gagal ginjal pada usia 21 tahun. Sejak usia 13 tahun, aku sudah mengalami sindrom nefrotik pada ginjal”. Kata wanita yang berprofesi sebagai PNS di UPT dinas kesehatan Provinsi Jateng tersebut.

Sejak mengalami gangguan ginjal pada usia 13 tahun, kata Tika, seluruh badannya terjadi pembengkakan dan mudah lelah. “Saat itu aku merasa down, kok masih kecil udah kayak gini sakitnya. Aku minder sama teman-teman seusia ku. Aku juga sering ijin tidak masuk sekolah hanya untuk kontrol dan cek darah ke Rumah Sakit. Hampir 3 bulan tidak masuk sekolah, waktu itu kelas 3 SMP. Aku hampir tidak lulus, pada akhirnya sekolah mengijinkan aku untuk melaksanakan ujian di rumah”. Ujarnya.

Di awal tahun 2009, akhirnya Tika divonis mengalami gagal ginjal kronik stadium akhir dan harus melakukan tindakan dialisis. “Aku tidak disiplin minum obat. Kalau badan sudah enak, aku abaikan obatnya. Kalau badan sudah bengkak, nanti dikasih obat diuretik, lalu kempes lagi. Padahal obat itu tidak boleh berhenti, harus teratur jika sudah mengalami sindrom nefrotik”. Jelasnya.

Hingga pada suatu saat, Tika mengalami kondisi dimana hemoglobin-nya (HB) terus menurun dan tiap 3 bulan harus menjalani transfusi darah sepanjang tahun. “Dokter sudah menjelaskan bahwa aku harus siap menjalani cuci darah. Aku hanya bisa pasrah. ini sudah tadirku”. Tutur wanita yang pernah kuliah di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta tersebut.

“Pada saat itu Dokter memberikan pilihan terapi, gak tau kenapa aku pilih CAPD. Menjelang operasi aku sempat ragu. Takut gak bisa mengganti cairan. Sampai dokter menyuruh aku pulang ke rumah karena ragu dengan pilihanku. Dan akhirnya aku mantab melanjutkan operasi tersebut”. Lanjutnya.

Tika juga menjelaskan bahwa kendala terapi dengan CAPD hampir tidak ada. “Bahkan selama 7 tahun aku tampak seperti orang sehat. Tidak pernah drop, apalagi sampai opname. Kadang sesekali cairan macet karena tersumbat oleh fibrin/protein. Kadang juga tarikan cairan juga kurang bagus”. Ujar wanita 28 tahun ini.

Sekarang Tika harus menjalani terapi penganti yang lain, yaitu dengan hemodialisa (HD). Hal ini diakibatkan oleh infeksi, dan CAPD Tika sudah tidak bisa dipertahankan lagi.

Meski harus berpindah terapi ke HD, namun Tika tidak merasa menyesal telah menggunakan CAPD. Justru, kata wanita yang berparas manis tersebut, CAPD memiliki kualitas hidup lebih baik, asal menerapkan pola hidup bersih apalagi saat menganti cairan, bukan steril.

“Saya menyarankan bagi pasien gagal ginjal untuk mempertimbangkan terapi dengan CAPD. Kualitas hidup juga jauh lebih baik dibanding HD. Makan minum lebih bebas, tubuh terasa lebih enak karena sehari bisa kecuci 4 kali. Mantabkan hati dengan pilihan, susuaikan dengan kebutuhan tiap pasien. Pelajari dan jangan pernah takut ataupun ragu. Jika harus gagal dengan terapi CAPD, masih ada terapi lainnya diantaranya hemodialisis ataupun transplantasi ginjal” pesan Tika melalui KPCDI. (Magelang, 26 September 2016)

Oleh: Tony Samosir ( Ketua Umum KPCDI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *