Loading...
Kisah Inspiratif

Pemuda Pendiam itu Telah Berpulang (Tulisan ke 10)

Oleh: Petrus H. Hariyanto*

Tepat Pukul 17.30. WIB mesin hemodialisa ku  berbunyi. Bunyinya khas, berupa alunan lagu  klasik yang dibuat dengan instrumen musik sederhana. Itu pertanda aku sudah menjalani lima jam cuci darah. Isyarat bagi suster untuk segera menghentikan putaran mesin. Setelahnya, suster akan  memasukan darah yang masih ada di selang dan tabung dializer agar  ke tubuhku.

Perlahan-lahan darah yang tersisa di tabung dializer dan selang itu masuk kembali ke tubuhku. Sebelum darah benar-benar masuk semua, suster telah menyuntikan tiga jenis cairan  ke dalam selang dan masuk ke tubuhku bersama darah. Cairan itu adalah vitamin c, micho balamin, danneorobion. Ketiganya berguna buat tubuhku, yang setelah cuci darah kehilangan seluruh zat yang diperlukan tubuh.

Selanjutnya, tabung dializer dan selang dilepas dari mesin hemodialisa. Kemudian diletakkan di ember besar. Selang akan dibuang, sekali pakai, sedangkan tabung dializer akan dibersihkan. Dipakai lagi (reuse) paling banyak delapan kali cuci darah. Pada cuci darah kedelapan diganti yang baru lagi.

Tabung dializer sendiri adalah komponen terpenting, tempat darah disaring untuk memisahkan racun.

Jika di RSCM, rumah sakit tipe A, tabung dializer hanya  sekali pakai, langsung dibuang. Tentu saja tingkat keberhasilan cuci darah di Klinik ku yang tipe D kalah jauh  dibandingan RSCM.

Sebelum double lumen ku yang terletak di dada kiri ditutup, suster itu membersih daerah di sekitar kateter  yang menancap di dadaku. Suster membersihkan lem hyfafix yang menempel di kulit dengan minyak kayu putih. Sedangkan daerah yang luka pertama-tama dibersihkan menggunakan betadin dan setelahnya menggunakan cairan NaCl (Natrium Chlorida)

Dua kateter double lumen ku sebelum ditutup diberi suntikan heparin dan dentamixin. Heparin berfungsi mencegah pembekuan darah, sementara dentamixin fungsinya mencegah  infeksi.

Terakhir, suster akan menutup  dengan kain kasa steril dan hyfafix, agar tidak terkontaminasi dengan udara yang penuh kuman.

Perlahan-lahan aku bangun dari tempat tidur. Terasa kepalaku agak pusing. Kalau tidak pusing sekali berarti tubuhku baik-baik saja. Dan itu membuat diriku berani berdiri. Setelah membereskan barang-barang yang kubawa selama  proses cuci darah, aku menuju ke tempat timbangan. Seluruh pasien sehabis cuci darah harus menimbang berat badannya.

Sebelum cuci darah pasien juga harus menimbang berat badannya. Selisih antara sebelum dan sesudah menunjukan indikator keberhasilan cuci darah. Salah satu fungsi cuci darah adalah mengeluarkan cairan yang menumpuk di tubuh pasien. Karena pasien cuci darah sudah tidak bisa kencing,  maka cairan yang masuk ketubuh akan menumpuk. Kalau kenaikan cairan tubuh 3 kg misalnya, dikatakan berhasil kalau berat badanya turun 3 kg sehabis cuci darah.

Seperti biasanya, aku tidak langsung pulang. Aku ingin duduk-duduk dulu di ruang tunggu lantai paling bawah. Hal itu berguna untuk mengumpulkan tenaga. Aku pulang dengan naik motor sendiri. Butuh  kondisi tubuh yang baik.

Belum juga badanku  benar-benar kurebahkan di kursi, tiba-tiba Kholis memanggilku. “Pak Hari ikut makan bareng nggak?  Aku, Toni dan Om Bernard mau makan Soto Lamongan di dekat perempatan Duren Tiga,” ajaknya ke aku.

“Siapa takut. Aku masih berani makan makanan  berkuah dan es teh,” jawabku.

Kondisiku saat itu masih mampu kencing. Sekitar 900  ml, atau sekitar satu setengah botol aqua 600 ml  selama 24 jam. Kalau hanya makan kuah soto tidak akan membuat kenaikan yang banyak.

Setelah acara makan bersama itu, Kholis menjadi dekat dan akrab denganku. Hampir setiap selesai cuci darah dia rajin mengajakku makan bareng.

“Dia suka makan di luar. Kalau dimasakin tetap memilih makan di luar,” ujar Tony

Kejadian itu sudah lebih  dari satu setengah tahun yang lalu. Sebelumnya kami berdua hanya bicara seperlunya, itupun kalau kami cuci darahnya satu ruangan. Bisa dibilang dia anak muda yang pendiam dan tidak mudah bergaul.

Kalau sedang cuci darah dia jarang bercanda. Dia larut dengan smart phonenya. “Kholis yang kukenal pertamakali adalah anak muda yang pemurung dan tak punya semangat hidup. Suka menyendiri,  dia sudah putus asa dengan kondisi penyakitnya,” ungkap Tony.

Toni juga menceritakan kalau Kholis sering masuk ICU. Sering mengalami drop. Bahkan pernah mengalami pendarahan dihidung tidak berhenti-henti. Pada bagian hidungnya harus dioperasi karena ada kelainan.

Kata Okvia, bagian kasir dan admin JKC (Jakarta Kidney Center) juga pernah bercerita kepadaku kalau pertama kali  Kholis cuci darah penyebabnya karena dari hidungnya keluar darah  tidak berhenti-henti.

“Terkena mimisan kok akhirnya  cuci darah. Aku sampai tak mengerti, apa hubungannya?” ujar Okvia menirukan ucapan Ibunda Kholis.

Okvia juga mengatakan kalau ternyata, Kholis mempunyai penyakit darah tinggi. Dia juga punya kebiasaan jelek meminum larutan penyegar setiap hari. Sering over dalam beraktivitas.  Ketika harus menyelesaikan skripsinya di Fakultas Teknik Universitas Tarumanegara, dia terlalu memforsir tenaganya selama tiga bulan.

“Saya baru bertemu muka dengan Kholis setelah tiga bulan dia cuci darah di sini. Setiap habis cuci darah ibunya yang datang ke kasir untuk membayar ongkos. Kesan yang kutangkap orangnya tertutup,” jelas Okvia lagi.

Seiring dia mulai terbuka dan mulai berteman dengan lainnya, kesehatannya semakin membaik. Aku bahkan tidak pernah melihat dia masuk ICU lagi.

Kholis yang kukenal justru sosok anak muda yang punya semangat untuk sehat. Dia rajin memeriksakan kesehatannya ke RSCM. Di Klinik kami,  sangat sedikit pasien yang rutin memeriksakan ke dokter spesialis ginjal hipertensi. Kalau sudah cuci darah ya sudah, tidak perlu repot-repot lagi memeriksakan perkembangan kesehatannya.

Sebulan sekali, aku kholis, Toni dan beberapa pasien rutin mengunjungi Poli Ginjal Hipertensi di RSCM. Sebulan sekali kami juga rutin cek darah  di laboratorium. Hampir semua indikator yang penting buat pasien cuci darah kami periksakan ke laboratorium. Kebetulan klinik JKC, tidak mengcover biaya pemeriksaan laboratorium  selengkap RSCM. Di JKC hanya mendapat tes Hemoglobin sebulan sekali. Tiga bulan sekali mendapat fasilitas tes laboratorium pre dan post hemodialisa untuk ureum dan kreatinin.

Bahkan, saya sering bertemu anak muda yang masihh lajang itu tidak hanya di Poli Ginjal hipertensi saja. Poli mata, Poli Hematologi pernah bertemu dengannya di sana.

“Saya mempunyai kelainan darah Pak Hari. Darah saya sulit membeku. Makanya kalau cuci darah saya  free heparin, hanya dibilas. Kalau memakai heparin sehabis jarum dicabut darah akan mengucur terus menerus. Terpaksa dilarikan ke UGD,” keluhnya kepadaku saat kami sama-sama berobat ke Poli Hematologi di RSCM.

Bagi anak muda berusia 31 tahun ini, walau harus repot dan antri di RSCM, dia jalani dengan semangat dan tanpa mengeluh.

“Yang penting aku nggak menghabiskan duit emak. Sakitku selama ini telah menghabiskan harta keluarga,” ujarnya ketika kutanya kenapa dia rajin periksa di RSCM.

Aku sendiri pernah mendengar dari bu Wati tentang keluhan Kholis itu. Bu Wati sering bersama Kholis cuci darah di ruang isolasi. Ruang isolasi hanya penamaan saja karena ruangnya kecil hanya memuat empat  pasien cuci darah.

“Tetangganya Kholis pernah memarahinya karena sering menghabiskan harta keluarga untuk masuk ICU. Bagi kholis itu menyakitkan. Ia juga sedih beberapa tanah keluarga dijual untuk berobat. Apalagi ayahnya terkena stroke, dan ibunya yang harus membanting tulang untuk menghidupi keluarga,” kata bu wati kepadaku suatu hari.

Selain tulang punggung keluarga, ibunda Kholis adalah sosok yang penting bagi kehidupan Kholis. Dia yang mengantar dan menjaga Kholis untuk cuci darah. Orangnya ramah, suka menyapa siapa saja. Kami memanggilnya Bu Haji. Justru Bu haji lah yang mempunyai kemampuan membangun human communicationdengan para pasien dan keluarganya.

Dengan Bu Haji justru kami lebih leluasa bisa berbicara tentang segala perkembangan kondisi Kholis. Dia sudah seperti juru bicara-nya kholis.

Bila menunggu Kholis cuci darah Bu Haji tidak hanya tinggal diam di sebelah anak kesayangannya itu. Ia selalu berkeliling dan mengajak ngobrol pasien dan para suster. Hampir semua pasien dan keluarganya kenal Bu haji.

Sakit Demam

Lampu-lampu di seluruh ruangan mulai dinyalakan, pertanda hari mulai sore. Sebentar lagi dipastikan ada beberapa pasien yang akan selesai cuci darah.

Ika Siregar si asisten perawat mulai membawa ember besar berwarna merah. sekitar lima buah dan dia letakan ke beberapa tempat. Ember itu berfungsi untuk menampung alat-alat yang habis dipakai untuk cuci darah. Satu ember untuk menampung limbah lima pasien.

Ia juga mulai menandai mesin mana yang duluan selesai. Tugas perempuan lajang asal Medan ini adalah segera mengambil tabung dializer dari pasien yang sudah rampung cuci darah. Tabung itu akan diserahkan ke bagian pencucian tabung dializer.

Yang bertugas membersihakan tabung itu adalah para suster yang ditugaskan secara bergilir. Kalau Ika lambat mengambil tabung itu, sudah pasti akan kena tegur karena memperlambat kerja si suster yang bertugas. Semakin lambat semakin tertunda kepulangan sang suster tersebut. Padahal sekitar Pukul 18.00, di klinik sudah sepi. Baik pasien dan suster sudah pulang semua. Tinggal menyisakan Satpam yang berjaga 24 jam.

Seperti biasanya, aku selesai Pukul 15.30. Aku selalu minta lima jam cuci darahnya. Bagi pasien lain kadang ada yang empat jam setengah, bahkan empat jam. Pihak klinik tidak melarang pemintaan si pasien.

Ketika mau menimbang berat badan, aku bertemu dengan Kholis. Wajahnya pucat. Dia memakai jaket dan diantar Ibunya.

“Sakit kah kau Kholis?!” Sapaku kepadanya.

“Saya demam pak. Besuk mau saya periksakan ke Poli Paru. Ada batuknya pak Hari,” jawabnya.

Pertemuanku dengan Kholis ini terjadi dua bulan yang lalu. Dalam pikiranku tak ada yang perlu dikuatirkan dengan kondisi kesehatannya. Justru saat itu aku sangat kuatir dengan kondisi Om Bernard.

Pertemuan berikutnya dia masih  demam. Ketika pulang kondisinya melemah. Bu Haji dengan telatennya mendampingi Kholis.

Sebulan kemudian aku sempat ngobrol cukup lama dengannya. Pasien yang ada   tinggal kami berdua. Saat itu Kholis beristirahat di ruang tunggu agar punya kekuatan untuk  dapat pulang. Bahkan untuk berjalan sampai ruang tunggu dia memerlukan istirahat dua kali.

Badannya semakin kurus. Kaca matanya terlihat kebesaran karena rahangnya semakin cekung.

“Aku belum ada diagnosanya Pak. Kalau dari hasil darah dan rotgen tidak ditemukan apa-apa. Ketika dahak mau diperiksa malah tidak bisa keluar,” ucapnya dengan lirih.

Aku hanya mengangguk saja. Aku bingung apa yang mau diomongkan. Melihat kondisinya aku tidak tega. Demam yang dia derita ternyata belum diobati karena belum  ada diagnosa. Dia hanya meminum paracetamol.

Aku bisa merasakan penderitaannya karena aku pernah mengalami betapa  tersiksanya saat cuci darah  tubuh kita terserang infeksi. Demam saat biasa dan saat cuci darah itu berbeda. Kalau kondisi kita masih kuat bisa diatasi dengan selimut tebal, kadang dirangkap. Atau juga bisa dengan  mematikan AC.

Kalau tubuh tidak kuat akan menggigil. Seperti tidur di balok es. Semakin lama semakin dingin dan  tidak akan  kuat  menahannya. Saking menggigilnya tempat tidurnya  ikut bergetar.

Kalau sudah begitu tubuh kita memerlukan suntikan obat anti mengiggil. Jika itupun tidak mengatasi terpaksa proses cuci darah dihentikan sampai tubuh kembali normal.

Aku semakin prihatin karena nafsu makannya berkurang dratis. Kholis terkena maag. Sering kali ia memuntahkan apa yang dia makan.

Bagi pasien cuci darah gairah  makan sangatlah penting. Beberapa teman kami meninggal seiring dengan berkurangnya nafsu makan secara drastis.

Tubuh Kholis terlihat semakin layu dan kurus. HB-nya juga semakin turun.

“Ayo Kholis, kamu harus makan yang banyak. Hanya makan banyak yang membuat tubuhmu kuat. Cepat sembuh ya. Kita nanti makan bersama lagi di warung  yang makanannya enak-enak seperti dulu lagi,” bisikku ditelingganya menjelang dia beranjak pulang.

Minggu berikutnya tidak ada perubahan bahkan kondisinya semakin parah. Aku semakin cemas. Aku kuatir Kholis akan seperti Om Bernard. Akhirnya meninggal setelah mengalami penurunan kondisi kesehatannya.

Pada tanggal 19 Januari 2016, Toni menghubungi aku. “Pak Hari, aku kuatir dengan kondisi Kholis. Apa yang bisa kita perbuat,” ujar Toni kepadaku pagi kemarin.

“Kita jenguk dia ya Ton. Aku kuatir dia sebentar lagi diambil Tuhan. Minggu besuk gimana?,” balasku.

“Ya, kita bicarakan hari Rabu di Klinik JKC ya Pak Har,” ujarnya.

Pagi, tanggal 20 januari 2016,  di ruang tunggu Klinik JKC, sambil menanti giliran cuci darah kami membicarakan kondisi Kholis yang semakin menurun. “Berat badannya terakhir tinggal 39 kg. Kakinya mengecil tetapi tangan kirinya membesar,” ujar Bu Ngadiman.

Di tengah-tengah pembicaraan itu,  tiba-tiba Ika masuk ke ruang tunggu. Tidak menjadi kebiasaannya dia kemari.  Ternyata dia memberi kabar duka cita kalau Kholis meninggal dunia pagi ini.

“Bu Haji baru saja menelpon dr. Asih. Sambil menangis beliau memberi kabar  kalau putranya Kholis baru saja meninggal dunia,” ujarnya dengan lirih.

Kami semua sangat terkejut. Pembicaraan langsung terhenti seketika. Kami saling berpandangan. Rasanya, kami tidak mempercayai berita duka yang disampaikan Ika.

“Sehabis kita cuci darah sore ini,  langsung saja kita melayat ke rumah duka ramai-ramai. Kita hibur Bu Haji,” ajak Pak Amir.

Sampai kami dipangil satu persatu untuk cuci darah tidak ada pembicaraan lagi. Diri kami terdiam dengan lamunan kami masing-masing. Berita itu sungguh memukul kami semua.

Cuci darah kali ini begitu berat bagiku. Lamunanku hanya tertuju ke anak muda yang kurang beruntung itu.

Selain sedih, aku juga kuatir dan cemas. Baru  kurang sebulan lalu kehilangan Om Bernad.

Keduanya sama. Perlahan-lahan kondisinya memburuk. Aku menyaksikan proses memburuknya kesehatan mereka berdua. Bahkan aku menduga tak lama lagi mereka  akan meninggal. Dan bayangan buruk itu terjadi.

Tiba-tiba aku langsung menoleh ke arah ruangan Pak Jimi. Kondisinya juga sama,  semakin hari semakin  memburuk. Seketika pula keluar keringat dinginku.  Ya Tuhan, bayangan buruk ku muncul begitu kuat  kalau dia juga akan menyusul Om Bernard dan Kholis. Tak lama lagi dia akan meninggal juga.

Bayangan buruk itu begitu kuat dan merasuki diriku. Sungguh aku ketakutan itu akan terjadi.

*Penulis adalah Sekretaris Jenderal Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).

Sumber: www.bergelora.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's choice
Skip to toolbar