Pasien Cuci Darah: Setia Menunggu Malaikat Pendonor Ginjal

Oleh: Petrus Hariyanto

JAKARTA – Hari masih gelap. Jalanan masih sepi, hanya satu dua mobil dan motor yang lewat. Aktivitas orang berangkat ke kantor belumlah dimulai. Sepagi ini aku sudah harus meninggallan rumah. Tepat pukul 04.30 WIB, aku menaiki taksi menuju ke RSCM Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Rumahku sendiri berada di Ciganjur.

Karena jalanan masih sepi, hanya butuh 30 menit untuk sampai RSCM. Sejak turun dari taksi dan menapakan kaki, sudah kutemui keramaian orang lalu- alang di rumah sakit milik Kementerian Kesehatan itu.

Ketika sampai ruangan pendaftaran jaminan ternyata sudah ramai pasien antri. Walau loket belum buka mereka antri dengan cara meletakan map atau tas mereke di lantai. Terlihat berjejer panjang sekali, mungkin sudah mencapai lima puluh meteran.

“Ya ampun, bisa dapat nomor berapa aku ini ?” gumamku.

Mapku kuletakan pada antrian paling belakang. Kata pengantri lainnya, loket baru dibuka Pukul 08.00 WIB. Masih tiga jam lagi. Segera aku mencari tempat duduk yang kosong untuk merebahkan tubuhku yang masih mengantuk.

“Saya datang kemari sejak pukul tiga pagi. Berharap mendapat nomor urut pertama. Percuma saja karena sudah banyak yang datang lebih awal dari saya,” keluh seorang bapak tua yang duduk di kursi roda.

Pemandangan seperti ini hal yang lumrah di RSCM Jakarta. Rumah sakit rujukan nasional ini selalu dipenuhi pasien. Mereka berlomba-lomba datang sepagi mungkin. Harapan mereka bisa selesai diperiksa dan mendapat obat di sore hari. Datang kesiangan akan berakibat pulang Magrib bahkan bisa malam hari. Rumah sakit ini sudah terlalu berat melayani pasien dari berbagai daerah di Indonesia. Kapasitasnya sudah tidak mencukupi. Usianya sudah hampir seabad, perlu ada pembenahan total.

Sudah tiga tahun aku berobat rutin di RSCM. Selain berobat ke Poli Ginjal Hipertensi, aku harus berobat juga ke Poli Hematologi, Poli Hepatologi, Poli Mata, Poli Bedah Vaskular dan Poli Jantung. Penyakit gagal ginjal kronik-ku telah melebar kemana-mana. Kalau ke rumah sakti umum daerah fasilitasnya tidak selengkap RSCM.

Sayangnya, aku tidak bisa cuci darah di RSCM. Tempatnya sudah penuh. Daftar tunggunya mencapai ratusan pasien. Pernah kutanyakan kepada petugas bagaimana cara bisa mendapat giliran cuci darah di sana?

Jawabannya sungguh menyesakan dada, “Ya tunggu diantara mereka ada yang meninggal. Yang meninggal dua berarti dua pasien baru boleh masuk,” jawab perawat tanpa beban.

Tetapi, jawaban perawat tersebut masuk akal juga. Sangat jarang ada pasien yang mau pindah. Kalau ada tempat kosong ya memang karena ada yang meninggal dunia. Fasilitas cuci darah di RSCM sangat baik sekali. BPJS membayar klaim per pasien sekitar Rp 2 juta, karena rumah sakit dengan tipe A.

Sedangkan aku saat ini melakukan tindakan hemodialisa (HD) di sebuah klinik swasta dengan tipe D. BPJS hanya membayar klaim per pasien sebesar Rp 812 ribu. Para pasien masih tunggang- langgang membiayai proses cuci darah yang tidak ditanggung BPJS. Seperti tranfusi darah harus merogoh kocek sebesar Rp 400 ribu per kantong darah.

“Pak Hari sudah lama antri?” Tiba-tiba aku disapa Tony. Ia adalah temanku sesama pasien cuci darah. Kami sama-sama menjalani terapi hemodialisa (HD) di Jakarta Kidney Center (JKC).

“Sedari pagi Ton, agaknya masih lama aku akan diperiksa dokter. Yang antri hari ini banyak sekali,” jawabku.

Bertemu dengan Tony membuatku lega. Paling tidak hari ini aku ada teman untuk ngobrol. Antri dengan berdiam diri tentu membosankan. Bisa tiga jam, empat jam, bahkan pernah sepuluh jam aku menunggu diperiksa dokter.

Kami berdua mulai larut dalam obrolan. Tony adalah teman diskusi yang menyenangkan. Dia gemar membaca. Teman-teman menjulukinya “perpustakaan berjalan”. Dia selalu mampu menjawab semua pertanyaan kami seputar persoalan terapi hemodialisa (HD).

“Kenapa dirimu sampai cuci darah Ton?,” tanyaku tiba-tiba.

Tony tidak langsung menjawab. Tiba-tiba raut mukanya berubah. Terlihat gelisah. Aku menduga dia enggan menjawab.

“Ya, sama seperti yang lain Pak Hari,” jawab Tony dengan tidak bersemangat.

Walau dengan terpaksa Tony mengisyaratkan ingin melanjutkan ceritanya.

“Pak Hari ingat Opung?” tanyanya tiba-tiba ke aku.

“Opung pensiunan Polisi itu ya? Dia sudah meninggal khan? Dia makan belimbing. Masuk ICU tapi tidak tertolong jiwanya ,” jawabku dengan sedih.

“Ya, Opung melanggar larangan makan belimbing. Buah itu bagi pasien gagal ginjal sangat berbahaya. Tidak boleh dimakan walau hanya sedikit,” terang Toni.

“Aku juga punya pengalaman buruk terhadap buah belimbing,” ungkapnya.

“Waktu itu, sekitar September 2009, ketika bekerja di kantor, aku memakan buah belimbing. Seharian aku cegukan. Karena tidak berhenti, aku putuskan ke Rumah Sakit PGI Cikini. Pada saat itu aku belum divonis dokter akan cuci darah atau punya penyakit ginjal, masih sehat,” jelasnya.

“Ya ampun, tensiku 230/130 mmHg. Langsung dimasukan ke HCU (High Care Unit). Selama ini aku tidak menyadari kalau menderita tekanan darah tinggi,” katanya.

“Empat hari aku berada di HCU. Setelah keluar dari HCU aku dipindahkan ke ruang perawatan. Di ruang itu dokter menjatuhkan diagnosa yang menakutkan. Aku divonis gagal ginjal,” lanjutnya.

“Aku harus cuci darah. Penyakit darah tinggiku itu penyebabnya,”

“Rasanya hari itu kiamat. Aku ketakutan,” Anak muda berdarah Batak itu pun lantas terdiam. Dia tidak melanjutkan ceritanya. Wajahnya tegang. Rupanya kenangan buruk itu memukul batinnya. Tony mencoba menguasai dirinya. Berkali-kali menarik nafas panjang. Sesekali kepalanya menengadah ke atas. Jari-jari tangan kanannya meremas-remas jari tangan kirinya. Aku menghentikan pertanyaanku. Kubiarkan suasana terdiam.

“Aku juga terpukul saat itu,” ujarku memecah kesunyian.

“Selama satahun aku menderita kecemasan dan ketakutan Aku divonis cuci darah tapi baru kujalani setahun setelahnya,” kataku.

“Sesudah melakukan cuci darah, rasa ketakutan itu sedikit demi sedikit menghilang. Rasanya plong, terbebas dari tekanan. Beban itu hilang dan lebih ringan menjalani hidup,” lanjutku.

“Yang paling berbahaya dari sakit kita ini adalah teror dan ketakutan yang kita ciptakan sendiri,” ujarku kepadanya agar Tony lebih santai dan rileks.

“Pak Hari, saat itu aku tak mau mengakui diagnosa dokter. Aku beranggapan itu salah,”.

“Aku pergi ke Penang Malaysia. Aku dirawat di Penang Adventis Hospital. Harapanku, dokter di sana punya diagnosa lain. Tapi percuma, sama saja, aku tetap divonis harus cuci darah.”

“Tiga bulan aku melakukan cuci darah di sana. Biaya yang harus aku keluarkan sungguh besar. Cuci darah aku lanjutkan di Rumah Sakit PGI Cikini,” tanpa disadarinya, kisahnya mengalir lancar dari mulutnya. Agaknya Tony sudah mampu menguasai dirinya.

Anak muda lulusan Geodesi UGM (Universitas Gajah Mada) ini memang dikenal sebagai anak yang pandai berbicara. Di tempat kami cuci darah dia selalu membuat suasana menjadi ramai, penuh sendau gurau. Dia ciptakan suasana penuh kehangatan. Sebelumnya sesama pasien asyik dengan dirinya sendiri. Menyapa hanya sekedarnya saja sesama pasien.

“Setelah cuci darah, dirimu masih bekerja Ton?,” tanyaku.

“Saya tetap bekerja. Saya bekerja di perusahaan asing yang bergerak dijasa teknologi pemetaan dengan Airborne Inter-ferometric Synthetic Aperture Radar (IFSAR). Intinya adalah pengolahan data mentah radar yang diambil dari sistem IFSAR sehingga menghasilkan Peta tiga dimensi.

“Sungguh strategis dan sangat penting perusahaan Amerika itu. Tapi satu tahun ini aku sudah tidak masuk bekerja. Mereka tidak memecatku dan masih rutin mengirimkan gajiku setiap bulannya,” ujar anak yang bernama lengkap Tony Richard Alexander Samosir.

“Wah hebat dong Ton. Itu karena keterampilan dirimu dipandang sangat penting oleh perusahaan, sehingga kau masih dipertahankan,” kataku.

“Mungkin atau mungkin kasihan, tapi aku tidak tahu dengan pasti,” candanya.

“Ya aku bersyukur. Kalau hanya mengandalkan gaji istri saja tentu tidakcukup.”

“Pak Hari kan mengalami sendiri. Sakit kita ini membutuhkan biaya tinggi. Cuci darah memang dicover BPJS. Cuma cucinya doang,” ia mengingatkan.

“Kita butuh terapi eritropoitien untuk menjaga Hemogelobin (HB) selalu stabil. Satu suntikan eritropoitien saja hampir dua ratus ribu. Kita juga butuh darah. Satu kantong darah empat ratus ribu. Mana cukup cuma sekantong,” keluh Tony.

Tony dan aku memang aktif berjuang agar segala keperluan pasien cuci darah dicover. Kita melakukan tindakan hemodialisa di klinik dengan tipe D.

BPJS membedakan jumlah klaim yang diberikan kepada tempat hemodialisa sesuai tipe besaran rumah sakit atau kliniknya. Seperti RSCM yang tipe A mendapat klaim tinggi sekali, sedangkan tipe di bawahnya lebih kecil.

Aku dan Tony ingin memberi perpekstif kepada pasien cuci darah bahwa hidup kita ini sangat tergantung kebijakan dan keputusan politik. Kita ingin membangun komunitas pasien cuci darah yang kuat agar bisa mempengaruhi proses kebijakan politik.

Malaikat Kehidupan

Menjalani hidup sebagai pasien cuci darah tidaklah mudah. Yang paling terlihat adalah stamina dan kebugaran tubuh, dimana stamina akan sering merosot. Mudah lelah bila melakukan kegiatan fisik yang berat. Hal ini. karena Hemogelobin (HB) sering turun. Penyakit ginjal kronik membuat tubuh kita mengalami penurunan fungsi dalam memproduksi sel darah merah.

Karena fungsi ginjal sudah terganggu, sehingga kemampuan menyaring zat dan toksin juga terganggu juga. Akhirnya dalam darah terkandung toksin, kelebihan zat dan mineral tertentu sesuai dengan apa yang dimakan. Akibatnya, banyak pantangan makanan yang harus dikonsumsi. Salah makan bisa berakibat fatal.

Karena ginjal terganggu fungsinya, si pasien sudah tidak bisa buang air kecil (BAK) atau BAK dalam jumlah yang sedikit sekali. Sehari minumnya dibatasi, sekitar 600 ml. Si pasien akan sering kehausan sepanjang hari. Kalau pasien melanggar takaran minum, tubuh akan kelebihan cairan. Cairan yang berlebihan dalam tubuh. Berakibat sesak nafas karena paru-paru tergenang air.

“Aku sudah merasakan semuanya. Yang paling traumatis adalah sesak karena kelebihan kalium,” kata Tony.

“Waktu itu aku kebanyakan makan buah mangga. Tahu sendiri, kandungan kalium dalam buah mangga tinggi sekali. Ketika serangan datang, celakanya mengendarai mobil sendiri. Saat itu macet, mobil langsung kutinggal di tengah kemacetan. Aku langsung minta tolong kepada seorang pemotor dijalan untuk dibawa ke UGD terdekat.”

“Gimana sih rasanya sesak karena kelebihan kalium?,” tanyaku.

“Nafas terasa pendek dan sesak sekali. Jantung berdebar kencangi. Lebih tepat rasanya seperti mau mati. Sampai hari ini aku masih trauma. Aku tidak mau mengulanginya.Sekarang ini, aku sangat hati-hati memakan buah-buahan.”

Usia Tony masih muda sekali. Ketika dinyatakan harus cuci darah baru menginjak usia 27 tahun. Walau secara karier menjanjikan tapi masih ada. yang mengganjal dalam hidupnya selain sakit yang dideritanya.

“Aku belum menikah saat itu. Aku sangat frustasi. Doaku tiap malam adalah memohon kepadaNya agar dikarunia pasangan hidup,” katanya.

“Coba Pak Hari bayangkan? mana ada perempuan mau denganku? Aku selalu minder menyatakan cinta kepada perempuan yang kucintai. Kondisi fisikku menghalangiku untuk mencari pacar,” jelasnya.

“Tapi kau sekarang sudah berkeluarga kan? Wah, gimana cara kau mendapatkannya?. Pasti dirimu jago merayu?” tanyaku dengan tersenyum.

Tony membalas pertanyaanku dengan tertawa keras. Orang-orang sejenak menoleh ke kami. Agaknya mereka terusik. Ruang tunggu memang suasananya sunyi walau pasien begitu banyak. Rata-rata mereka asyik dengan diri mereka sendiri. Sesekali ada yang protes ke suster kenapa sudah lama menunggu tapi belum mendapat giliran diperiksa oleh dokter.

“Teman SMA ku yang memperkenalkan dengan perempuan yang kucintai itu,” katanya.

“Pada tanggal 29 Juni tahun 2011 kami melangsungkan pernikahan di Medan,”

“Dia bagaikan malaikat yang dikirim Tuhan untukku. Istriku menerima cintaku. Perempuan itu menerima segala kekurangan yang ada padaku,” ujarnya sambil bergetar.

Matanya mulai terlihat basah. Suami dari Eva Tampubolon ini, menghentikan ceritanya. Agaknya, mulutnya terasa berat untuk berbicara lagi. Nafasnya agak tersengal-sengal. Dia terharu sekali.

“Tuhan terlalu baik kepadaku Pak Har,” ujarnya lagi dengan berat dan mata berlinang.

“Dua tahun kemudian kami dikaruniai anak yang lucu. Aku punya anak. Bagiku itu mujizat,” katanya.

Aku menjadi terharu mendengar ceritanya. Kupegang kedua tanggannya sebagai bentuk diriku juga turut bahagia. Tony masih terdiam dan mulai meneteskan air mata.

Kubiarkan dia dengan pikirannya sendiri. Aku tidak ingin menggangu keterharuan yang sedang menyelimutinya.

Cangkok Ginjal

Kebanyakan orang mengatakan harta paling berharga adalah keluarga. Diantara kebahagian yang dialami, kebahagian karena mempunyai anak, istri atau suami adalah kebahagian yang paling sempurna. Tony bertambah bahagia atas kehadiran putrinya yang bernama Feodora Aleva Gracelia Samosir yang usianya sekarang sudah dua tahun. Tumbuh sebagai anak yang lucu dan mengemaskan.

Putri semata wayang itu berkelimpahan kasih sayang dari ayahnya. Tony menyadari putrinya adalah berkah yang dikaruniakan Sang Pencinta kepadanya. Di tengah musibah sakitnya, masih ada kebahagian yang hadir dalam kehidupannya.

“Mereka berdua sangat berarti bagi hidupku.”

“Mereka berdua memberi energi yang luar biasa bagiku untuk tetap bertahan hidup.”

“Bahkan aku terobsesi untuk memperbaiki kualitas hidupku. hanya dengan itu aku bisa membahagiakan mereka berdua.”

Dr. Marihot Tambunan, SpPd-KGH di RS. PGI Cikini menasehati Tony agar melakukan transplantasi ginjal. Dia adalah dokter yang rutin memeriksa kesehatan Tony, setiap bulannya.

“Dokter apa boleh saya menjadi pendonor ginjal untuk suamiku,” ujar Eva kepada dokter Marihot.

“Boleh. Lebih baik karena ada kedekatan emosional dan psikologis,” jawab Dr Marihot.

Tony saat itu hanya menganggap istrinya bercanda. Tidak mungkin istrinya akan memberikan satu ginjalnya, dan hidup dengan hanya satu ginjal saja.

Tetapi, Tony salah, rupanya istrnya bersungguh-sungguh ingin mendonorkan ginjalnya. Ia bertanya dengan penuh semangat bagaimana prosedur dan tatalaksana menjadi donor ginjal?

“Malam itu aku menangis gembira bercampur sedih. Bahagia sekali karena istriku rela memberikan satu ginjalnya buatku. Sekaligus aku juga sedih, ibu dari anakku nantinya akan menjalani hidup dengan satu ginjal.”

Istri Tony selalu menyakinkan bahwa ini adalah jalan terbaik untuk meraih kebahagian bersama.

“Ini demi anak kita tercinta. Kalau papa sehat tentu akan mampu berbuat banyak dan berkarya. Aku tentu akan lebih bahagia,” Tony mengutip perkataan istrinya.

“Kita harus jalani suka dan duka secara bersama,” ujarnya melanjutkan perkataan istriya meyakinkan Tony.

Dalam proses berikutnya dokter memberi pengertian dan pemahaman kepada keluarga Tony bahwa hidup dengan satu ginjal tetaplah bisa berjalan dengan normal. Yang terpenting adalah berdisiplin menjalani pola hidup.

“Lantas kami berdua menjalani proses pemerikasaan. Golongan darah kami sama. Ginjal istri saya memenuhi syarat untuk didonorkan.”

“Akhirnya dokter memutuskan bahwa saya bisa melakukan transplatasi ginjal. Jadwal sudah ditetapkan. Operasi cangkok ginjal akan dilakukan oleh Tim Dokter Transplantasi RSCM. Biayanya akan ditanggung BPJS sesuai dengan aturan yang berlaku,” ungkapnya.

Ada satu lagi pemeriksaan yang perlu dilengkapi. Tony harus melakukan pemeriskasaan darah. Apakah darahnya bebas dari hepatitis B, hepatitis C dan virus HIV.

Ketika diserahkan ke dokter, hasilnya ternyata mengecewakan. Darah Tony terinfeksi virus. hepatitis C.

“Operasi cangkok ginjal tidak bisa dilakukan. Anda harus mengobati hepatitis C- nya terlebih dahulu,” ujar ketua tim transplantasi Dokter Prof. Endang Susalit, SpPd-KGH.

“Aku sangat terpukul. Sejengkal langkah lagi aku akan mempunyai ginjal baru. Hasil laboratorium itu menghentikan langkahku untuk sementara.”

“Aku sempat marah dan kecewa. Aku menyalahkan pendonor darah (transfusi) yang telah menyebabkan aku tertular hepatitis C.”

“Kalau mendonorkan darah yang tulus. Kalau terkena penyakit ya jangan donor darah atau Bank Darah sebagai penyedia darah harus melakukan screening yang ketat demi menghindari infeksi virus lain. Kasihan dong yang tertular,” tulisnya di medsos.

Butuh beberapa waktu untuk membuat hati Tony tenang dan bisa menerima situasi itu. Lambat laun Tony mengetahui kalau teman-temannya juga terkena hepatiti C

Tony menyimpulkan bahwa virus hepatitis c yang mampir ke tubuhnya bisa juga tertular selama proses hemodialisa atau alat kesehatan yang kurang steril, atau bisa dengan tranfusi darah. Semuanya memungkinkan terjadi.

“Rasa frustasi kini sudah hilang Pak Hari. Sudah tiga bulan ini aku berobat ke Poli Hepatologi. Mereka memberi suntikan setiap minggunya untuk menekan virus hepatitisku. Aku yakin tidak sampai setahun operasi cangkok ginjalku bisa terlaksana,” jelas.

Kelak bila sudah punya ginjal baru, Tony membayangkan akan dapat meminum air sepuasnya. Tubuhnya akan bugar karena HBnya akan normal karena sistem elektrolit tubuh bekerja dengan baik. Dapat makan buah dan sayuran kembali.

“Aku tidak perlu repot tiga kali datang ke rumah sakit untuk HD,” bisiknya ke aku.

Kutepuk pundaknya, “kau pemuda beruntung. Kau harus bangga punya istri seperti dia. Hati istrimu sangat mulia sekali. Tak banyak di dunia orang seperti dia,” ucapku kepadanya.

“Ok Pak Hari aku dulu ya, nomorku sudah dipanggil suster,”.

Kujawab dengan lambaian tangan. Kulihat langkah pemuda itu mantap menuju ruang dokter hepatologi. Aku yakin Tony akan melewati masa sulit ini. Aku teringat perkataannya beberapa waktu yang lalu bahwa perlu mengkampanyekan program cangkok ginjal. Aku membenarkan pendapat dia bahwa cangkok ginjal biayanya lebih murah dari pada membiayai cuci darah seumur hidup. Apalagi BPJS sudah mengcover biaya cangkok ginjal.

Aku sendiri juga punya mimpi sepereti mu. Setiap malam aku berdoa semoga ada orang yang berhati malaikat yang mau mendonorkan ginjalnya untuk diriku.

*Penulis adalah pasien cuci darah, Sekretaris Jenderal Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia

Sumber: www.bergelora.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *