Berbagi Ginjal Dengan Orang Tercinta (Tulisan ke 8)

Oleh: Petrus H. Hariyanto*

JAKARTA- Pagi itu, 14 Maret 2016, aku bangun lumayan pagi. Yang pertama ku lakukan adalah membuka hp ku. Kucoba mencari info di group WA (Whatsapp), apakah ada kabar dari Tony? Sesuai jadwal yang sudah ditentukan, hari ini dia operasi transplantasi ginjal.

Aku justru menemukan info itu di fb (facebook). Kutemukan   foto Tony dan istrinya. Mereka berdua  memakai baju operasi. Tampak mereka masing-masing  duduk di kursi roda. Kedua gambar itu menjelaskan kalau mereka berdua akan segera melakukan operasi maha penting di kamar bedah RSCM. Wajah mereka  tersenyum. Mungkin, mereka tertawa bahagia karena sebentar lagi  momen yang sangat berarti  dalam perjalanan hidup mereka akan terjadi.

Selain foto, tidak ada keterangan lain  yang kuperoleh, Sehari sebelumnya Tony mengatakan  akan dilakukan tindakan operasi di pagi hari. “Pukul tujuh Pak Har, aku sudah harus masuk kamar bedah,” sampainya kepadaku.

Dia sendiri sudah menjalani karantina di RSCM sejak tanggal 5 Maret 2016. Aku bersama Pak Amir, dr Riza dan dr. Jaka sempat menengoknya. Saat itu Tony masih bisa dikunjungi.

Dari wajahnya, aku bisa menerka kalau dia sangat siap. Wajahnya penuh optimis. Tidak ada rasa keraguan sekalipun. Tony mengumbar senyum lebar  kepada kami berempat.

Bahkan, di media soaial dia sangat aktif berinteraksi dengan teman-temannya di Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI). Bagi teman-temannya, dia adalah figur baru di dunia pasien gagal ginjal kronik. Karena keberanian dan kegigihan memperjuangkan nasib pasien cucu darah.

Keputusannya untuk cangkok ginjal juga menginspirasi banyak pasien. Sampai malam menjelang hari ‘H’ Tony masih melayani pertanyaan banyak orang seputar transplantasi ginjal.

Dua hari menjelang dilakukannya operasi transplantasi ginjal, Eva sang istri, menuliskan perasaannya di fb.

Postingannya aku forward  hampir ke seluruh akun fb komunitas pasien gagal ginjal. Rata-rata mereka terharu bahkan ada yang menangis. Mereka sangat terkesan dengan ketulusan cinta Eva kepada suaminya.

“…buat ginjal kananku, terima kasih untuk pertolonganmu selama 29 tahun lebih di masa hidupku. Besok kita akan berpisah. Hidup dan bertahanlah di ginjal suamiku. Berikan dia kehidupan baru dan bantulah dia. Dan kamu ginjal kiriku, tolonglah aku. Kuat dan bertahanlah bersamaku melewati masa-masa hidupku. Jadi partner yg kuat bersama organ lain dan aku berjanji tidak akan memberatkan kerjamu…

Besok pukul 06.00 atau 07.00 aku akan menjalani operasi pertama. Saat ginjalku diberikan kepadamu Tony Richard Alexander Samosir suamiku, jagalah itu. Aku tidak memberinya dengan gratis. Balas budi yang harus kamu bayar adalah dengan menjaga ginjal kananku tetap berfungsi selama kamu hidup, menjadi kepala keluarga yang takut akan Tuhan dan membahagiakan keluarga kita…”

Mataku pun basah karena terharu membaca suratnya. Ia perempuan hebat. Susah  menemukan padanannya.

“Itu adalah kekuatan cinta yang bisa mengerakkan Eva untuk membagi ginjalnya kepada suaminya,” ujar Ratih seorang pasien cuci darah dari Bandung ketika mengomentari status EVa di Facebook.

Aku merasa gelisah memikirkan operasi itu. Apakah berjalan lancar? Apakah berhasil ginjalnya dipasangkan ke tubuh Tony? Bagaimana kondisi istrinya?

Perasaan gelisah juga menghinggapi teman-teman Tony lainnya. Sejak dari pagi mereka ingin mendapat kepastian kondisi Tony. “Sebenarnya hari ini beban kerja ku sangat banyak, tapi pikiranku selalu tertuju padanya,” tulis Dony di group WA.

Bu Al juga gelisah. Dia selalu bertanya ke aku bagaimana kabar Opung? Nama Opung telah disematkan kepada Tony. Aku tak tahu awal mula nama itu mendarat di Tony.

Siang harinya aku hubungi Rizki, adik Tony lewat hp. “Pukul 07.00 WIB  bang Tony dan kak Eva sudah masuk ke kamar bedah. Kak Eva dulu yang dioperasi baru kemudian Bang Tony. Belum ada kabar apakah sudah selesai atau belum,” ujarnya.

Sekitar sore hari, aku menghubungi lagi Rizky. Dia bilang abang Tony sudah keluar dari ruang operasi. Ketika keluar dia hanya acungkan jempol dan berucap kata dengan lirih sip. Tony langsung dibawa ke kamar isolasi, belum boleh dikunjungi siapapun.

“Kami sekeluarga langsung mengelar doa bersama,” ungkapnya.

Hampir semua keluarga baik dari Tony dan Eva, hari itu berkumpul di RSCM untuk memberi semangat Tony.

Kabar gembira ini langsung aku posting ke berbagai komunitas penderita GGK. Ucapan selamat mengalir deras  ke Tony. Ternyata mereka menyambut gembira momen ini.

Tony sendiri tidak bisa dihubungi. Hp nya  disita keluarga. “Biar abang Tony beristirahat. Kalau sudah menjelajah dunia maya dia bisa betah berjam-jam, bahkan kadang seharian penuh,” ujar adiknya.

Tony Samosir adalah  admin fanspage KPCDI (Komunitas Pasien Cuci Darah). Dia juga admin group WA KPCDI. Sekarang ini, sedang ada tren yang ingin bergabung menjadi anggota di keduanya sangat tinggi. Untuk fb sudah mencapai 600 orang. Sedangkan wa group sudah mendekati seratus orang. Hampir sepanjang hari di group WA terjadi diskusi. Mereka sangat antusias membicarakan problem yang dialami sesama  pasien cuci darah. Juga menjadi forum saling memperkuat dan mendukung sesama pasien.

Setahun yang lalu, ketika aku dan Tony mendirikan KPCDI, tidak membayangkan akan sebesar ini. Kami hanya berkutat di JKC (Jakarta Kydnei Center)  saja, Setelah membuat akun di fb dan rajin nongol di media, sambutan pasien GGK begitu luas.

Mimpi Itu Terwujud

Hari ini hari Kamis. Ini hari ketiga Tony menjalani operasi cangkok ginjal. Tidak ada postingan dari dia di fb, berarti Tony masih belum boleh memegang hp.

Seperti biasanya aku telpon Rizky adiknya. Dari dia kuperoleh kabar kalau  Tony masih belum bisa ditemui oleh siapapun. “Prof. Endang memberi kabar ke keluarga kalau Tony sudah bisa kencing,” ujar Rizky.

Ya Tuhan, sungguh luar biasa. Tony sudah memasuki hidup baru. Bagi penderita gagal ginjal yang sudah cuci darah tahunan  tentu sangat paham apa arti sudah bisa kencing.

Sebagian besar pasien cuci darah sudah tidak bisa BAK (Buang Air Kecil). Kalaupun  bisa itupun sudah sedikit sekali. Dengan kondisi yang demikian, pantangannya meminum air dalam jumlah banyak. Sangatlah dibatasi. Sekitar 600 ml per hari. Kalau berlebih, tubuh akan tergenang air.

Tentu saja dengan  aturan ini, para pasien cuci darah mengalami siksaan. Kesehariannya, sering harus menahan haus. Akhirnya, air menjadi makanan terlezat bagi mereka.

Ketika mendengar kabar Tony sudah BAK, berarti ginjal ketiganya telah berfungsi. Aku jadi membayangkan Tony bisa minum air sepuasnya. Mungkin dia sedang meminum air segelas penuh. Makyus rasanya air itu mengalir ke tenggorokannya.

Selama ini, Tony dan juga pasien cuci darah tak mungkin meneguk air langsung satu gelas. Aku saja kalau minum obat yang jumlahnya enam buah hanya dengan seteguk air.

Entah perubahan apa lagi yang dia alami. Bila kelak operasinya berhasil secara penuh, dengan ginjal ketiganya akan membuat hidupnya normal kembali.

Kualitas hidupnya meningkat. Ginjal Tony akan memproduksi lagi hormon yang bertugas membentuk sel darah merah. Hb-nya akan meningkat, berarti kebugaran tubuhnya meningkat.

Yang jelas, Tony sudah tidak perlu lagi seminggu tiga kali datang ke tempat cuci darah. Waktu Cuci darah telah merampas sebagian besar waktunya. Dia tidak lagi harus merintih kesakitan karena tusukan jarum. Dia tidak lagi mengalami drop ketika cuci darah.

Perubahan Tony ini karena istrinya dengan sukarela memberikan ginjal kanannya. Setelah hampir satu minggu dirawat di RSCM, Eva pulang ke rumah. Dia dinyatakan sudah pulih

“Wah Feo senang sekali dong,” kataku ke Eva via telpon.

“Dia anak yang hebat. Walau kangen sama papanya, tapi tidak memaksa untuk bertemu,” ujar Eva.

Kini Eva tidak boleh jauh-jauh dari anaknya. Harus dekat di sisinya. Kangen berat dan mungkin takut ditinggal lagi.

Feo, demikian Tony dan Eva memanggilnya. Kalau kita menyaksikan Metro TV hari Kamis, tanggal 17 Maret 2016, dalam acara 360 kemarin, kita akan melihat sosok  anak perempuan  kecil yang lucu dan mengemaskan.

“Dia adalah “malaikat kecil”  yang dikirim Tuhan untuk hadir diantara aku dan Eva. Ini adalah mujizat yang diberikan Tuhan kepada kami,” ujar Tony suatu hari kepadaku.

Sebagai seorang penderita gagal ginjal, mendapat anak adalah karunia. Bahkan baginya, itu adalah mujizat kedua dalam hidupnya.

“Ketika aku mempunyai pasangan hidup,  aku mendapat mujizat pertama. Ternyata ada perempuan  yang mau   membangun rumah tangga denganku, walau aku pasien cuci darah ,” ujarnya dengan menagis.

Dan, hari Selasa tanggal 14 maret kemarin Eva istrinya telah memberikan ginjal  kanannya ke Tony. Kini Tony telah memiliki ginjal  ketiga.

Eva rela kehilangan satu ginjal. Dengan begitu itu ia berharap Feo tidak kehilangan kasih sayang papanya. Kasih sayang dan perhatian papanya akan semakin melimpah kepada keluarga.

Sebuah pemberian yang dilandasi cinta kasih seorang istri kepada suami dan “malaikat kecil”-nya.

*Penulis adalah Sekretaris Jenderal Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI).

Sumber: www.bergelora.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *