Loading...
Kesehatan

Sindrom Nefrotik, Waspadai Gejalanya Pada Anak Anda!

Sindrom nefrotik adalah kondisi akibat adanya gangguan pada organ ginjal. Normalnya, air kencing yang dihasilkan oleh ginjal sudah tidak lagi mengandung protein.

Namun, saat seseorang menderita sindrom nefrotik, akan ditemukan adanya protein pada urin (khususnya albumin) yang dikeluarkan olehnya, bahkan dalam jumlah cukup besar.

Umumnya, kondisi ini diakibatkan oleh rusaknya kelompok pembuluh darah kecil dalam ginjal (glomerulus) yang berfungsi sebagai filter atau penyaring darah.

Saat fungsi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya dalam tubuh, protein dari darah dapat merembes dalam urin dan tersaring keluar tubuh. Akibatnya, beberapa gejala klinis dari sindrom nefrotik berikut, bisa jadi dapat Anda temukan pada anak Anda.

1. Pembengkakan di bagian tubuh tertentu

Anak yang menderita sindrom nefrotik biasanya akan mengalami pembengkakan (edema) di bagian kaki dan sekitar mata. Mata menjadi sembab dan kaki membesar. Pembengkakan abnormal adalah pembengkakan yang tidak keras melainkan lembek ketika kaki dipegang.

2. Kenaikan berat badan secara tiba-tiba

Anak juga akan mengalami kenaikan berat badan yang tidak normal. Namun, kenaikan berat badan tersebut bukan disebabkan oleh nutrisi melainkan adanya cairan yang menumpuk dalam tubuh.

3. Urin berbusa

Adanya kandungan protein yang tinggi pada urin menyebabkan urin yang dikeluarkan anak menjadi berbusa. Waspadai gejala ini, karena urin berbusa adalah indikator utama adanya masalah dalam ginjal.

4. Tidak nafsu makan

Gejala berikutnya ialah terganggunya nafsu makan anak. Seorang ibu harus curiga ketika buah hatinya tidak mau makan karena bisa jadi anak menderita sakit tertentu, misalnya sindrom nefrotik ini.

Sejumlah kondisi medis dapat merusak ginjal, misalnya akibat konsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang atau penyakit tertentu seperti diabetes, lupus, amiloidosis, HIV, hepatitis, dan penyakit ginjal lainnya.

Jika tidak segera ditangani, sindrom nefrotik dapat menyebabkan beberapa komplikasi serius diantaranya berupa malnutrisi, penggumpalan darah; kolesterol, trigliserida dan tekanan darah tinggi; dan gagal ginjal.

Diagnosanya sendiri dapat ditegakkan melalui pemeriksaan urin. Biasanya, urin penderita sindrom nefrotik akan mengandung banyak protein, sedangkan kandungan protein pada darahnya justru sangat rendah.

Sedangkan, pengobatan sindrom nefrotik akan disesuaikan dengan gejala dan keluhan yang terjadi. Dokter bisa jadi memberikan obat untuk mengatasi hipertensi, penggumpalan darah, merangsang pengeluaran cairan dari tubuh (diuretik), dan untuk mengurangi pengeluaran protein dari tubuh.

Meskipun dapat menyerang pada berbagai tingkatan usia, fakta di lapangan menunjukkan bahwa penyakit ini lebih sering menyerang anak-anak dalam rentang usia 18 bulan hingga usia 10 tahun.

Jika buah hati Anda mengalami beberapa gejala dari sindrom nefrotik sebagaimana disebutkan di atas, segeralah berkonsultasi dengan dokter agar diagnosis dapat ditegakkan dan penanganan dapat segera diperoleh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's choice
Skip to toolbar