Loading...
CAPDHemodialisisTips

Managemen Anemia Pada Pasien Gagal Ginjal Kronik

Pada penyakit ginjal kronik, keadaan anemia yang terjadi tidak sepenuhnya berkaitan dengan penyakit ginjalnya. Anemia pada penyakit ginjal kronik dapat dijadikan diagnosis setelah mengeksklusikan adanya defisiensi besi dan kelainan eritrosit lainnya. Evaluasi terhadap anemia dimulai saat kadar hemoglobin ≤ 10% atau hematokrit ≤ 30%.

Berikut manifetasi klinis dan temuan fisik yg sering ditemukan pada penderita gagal ginjal.

Manifestasi klinis yang biasa ditemukan:

  • Kelemahan umum/malaise, mudah lelah.
  • Nyeri seluruh tubuh/mialgia.
  • Gejala ortostatik ( misalnya pusing, dll ).
  • Sinkop atau hampir sincope.
  • Penurunan toleransi latihan.
  • Dada terasa tidak nyaman.
  • Palpitasi.
  • Intoleransi dingin.
  • Gangguan tidur.
  • Ketidakmampuan untuk berkonsentrasi.
  • Kehilangan nafsu makan.

Temuan fisik:

  • Kulit (pucat).
  • Neurovaskular (penurunan kemampuan kognitif).
  • Mata (konjungtiva pucat).
  • Kardiovaskular (hipotensi ortostatik, takiaritmia).
  • Pulmonary (takipnea).
  • Abdomen (asites, hepatosplenomegali).

Berikut beberapa point yang harus diperiksa terlebih dahulu sebelum dilakukan pemberian terapi penambah eritroit.

  • Darah lengkap.
  • Pemeriksaan darah tepi.
  • Hitung retikulosit.
  • Pemeriksaan besi (serum iron, total iron binding capacity, saturasi transferin, serum feritin).
  • Pemeriksaan darah tersamar pada tinja
  • Kadar vitamin B12.
  • Hormon paratiroid.

Pelaksanaan Terapi Eritropoetin

Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk pencapaian kadar Hb > 10 g/dL dan Ht > 30%, baik dengan pengelolaan konservatif maupun dengan EPO. Bila dengan terapi konservatif, target Hb dan Ht belum tercapai dilanjutkan dengan terapi EPO. Dampak anemia pada gagal ginjal terhadap kemampuan fisik dan mental dianggap dan menggambarkan halangan yang besar terhadap rehabilitasi pasien dengan gagal ginjal. Walaupun demikian efek anemia pada oksigenasi jaringan mungkin seimbang pada pasien uremia dengan penurunan afinitas oksigen dan peningkatan cardiac output saat hematokrit dibawah 25 %. Walaupun demikian banyak pasien uremia memiliki hipertensi dan miokardiopati. Karena tubuh memiliki kemampuan untuk mengkompensasi turunnya kadar hemoglobine dengan meningkatnya cardiac output. Selain itu banyak pasien memiliki penyakit jantung koroner yang berat dan walaupun anemia dalam derajat sedang dapat disertai dengan miokardial iskemik dan angina. Terapi anemia pada gagal ginjal bervariasi dari pengobatan simptomatik melalui transfusi sel darah merah sampai ke penyembuhan dengan transplantasi ginjal. Transfusi darah hanya memberikan keuntungan sementara dan beresiko terhadap infeksi (virus hepatitis dan HIV) dan hemokromatosis sekunder. Peran dari transfusi sebagai pengobatan anemi primer pada pasien gagal ginjal terminal telah berubah saat dialisis dan penelitian serologic telah menjadi lebih canggih. Transplantasi ginjal pada banyak kasus, harus menunggu dalam waktu yang tidak tertentu dan tidak setiap pasien dialisis memenuhi syarat.

Variasi terapi anemia pada penyakit ginjal kronik adalah sebagai berukut :

  1. Suplementasi eritropoetin.
  2. Pembuangan eritropoesis inhibitor endogen dan toksin hemolitik endogen dengan terapi transplantasi ginjal ekstra korporeal atau peritoneal dialisis.
  3. Pembuangan kelebihan aluminium dengan deferoxamine.
  4. Mengkoreksi hiperparatiroid.
  5. Terapi Androgen.
  6. Mengurangi iatrogenic blood loss.
  7. Suplementasi besi.
  8. Suplementasi asam folat.
  9. Transfusi darah.

1. Suplementasi eritropoetin

Terapi yang sangat efektif dan menjanjikan telah tersedia menggunakan recombinant human eritropoetin yang telah diproduksi untuk aplikasi terapi. Seperti yang telah di demonstrasikan dengan plasma kambing uremia yang kaya eritropoetin, human recombinant eritropoetin diberikan intravena kepada pasien hemodialisa,telah dibuktikan menyebabkan peningkatan eritropoetin yang drastis. Hal ini memungkinkan untuk mempertahankan kadar Hb normal setelah transfusi darah berakhir pada pasien bilateral nefrektomi yang membutuhkan transfusi reguler. Penelitian membuktikan bahwa, saat sejumlah erotropoetin diberikan IV 3x seminggu setelah setiap dialisa, pasien reguler hemodialisis merespon dengan peningkatan Ht dengan dosis tertentu dalam beberapa minggu. Percobaan menunjukkan bahwa AB yang melawan materi rekombinan dan menghambat terhadap penggunaan eritropoetin tidak terjadi. Efek samping utamanya adalah meningkatkan tekanan darah dan memerlukan dosis Heparin yang tinggi untuk mencegah pembekuan pada sirkulasi ekstra korporial selama dialisis. Pada beberapa pasien, trombosis pada pembuluh darah dapat terlihat.

Peningkatan tekanan darah bukan hanya akibat peningkatan viskositas darah tetapi juga peningkatan tonus vaskular perifer. Komplikasi trombosis juga berkaitan dengan tingginya viskositas darah bagaimanapun sedikitnya satu kelompok investigator terlihat peningkatan trombosit. Penelitian in vitro menunjukkan efek stimulasi human recombinant eritropoetin pada diferensiasi murine megakariosit. Lalu trombositosis mungkin mempengaruhi hiperkoagubilitas. Konsentrasi serum predialisis ureum kreatinin yang meningkat dan hiperkalemia dapat mengakibatkan berkurangnya efisiensi dializer karena tingginya Ht dan peningkatan nafsu makan karena peningkatan keadaan umum. Kecepatan eritropoesis yang dipengaruhi oleh eritropoetin dapat menimbulkan defisiensi besi khususnya pada pasien dengan peningkatan blood loss. Seluruh observasi ini mengindikasikan bahwa recombinant human eritropoetin harus digunakan dengan hati-hati. Hal ini juga memungkinkan bahwa kebanyakan efek samping ini dapat diminimalkan jika nilai Hematokrit tidak meningkat ke normal, tetapi pada nilai 30-35%. Produksi recombinant human eritropoetin merupakan manajemen yang utama pada pasien uremia.

Indikasi dan Kontraindikasi terapi EPO

1. Indikasi:

Bila Hb < 10 g/dL, Ht < 30% pada beberapa kali pemeriksaan dan penyebab lain anemia sudah disingkirkan. Syarat pemberian adalah:

  • Cadangan besi adekwat : feritin serum > 100 mcg/L, saturasi transferin > 20%.
  • Tidak ada infeksi yang berat.

2. Kontraindikasi:

a. Hipersensitivitas terhadap EPO.
b. Keadaan yang perlu diperhatikan pada terapi EPO, hati-hati pada keadaan:

  • Hipertensi tidak terkendali.
  • Hiperkoagulasi.
  • Beban cairan berlebih/fluid overload.

Terapi Eritropoietin ini memerlukan syarat yaitu status besi yang cukup. Terdapat beberapa kriteria pengkajian status besi pada Gagal ginjal Kronis:

a. Anemia dengan status besi cukup.
b. Anemia defisiensi besi:

  • Anemia defisiensi besi absolut : Feritin serum < 100 mcg/L.
  • Anemia defisiensi besi fungsional: Feritin serum > 100 mcg/L.
  • Saturasi Transferin < 20 %.

 

1.1 Terapi Eritropoietin Fase koreksi 2,14

Tujuan:

Untuk mengoreksi anemia renal sampai target Hb/Ht tercapai.

  1. Pada umumnya mulai dengan 2000-4000 IU subkutan, 2-3x seminggu selama 4 minggu.
  2. Target respon yang diharapkan : Hb naik 1-2 g/dL dalam 4 minggu atau Ht naik 2-4 % dalam 2-4 minggu.
  3. Pantau Hb, Ht tiap 4 minggu.
  4. Bila target respon tercapai: pertahankan dosis EPO sampai.
  5. target Hb tercapai (> 10 g/dL).
  6. Bila terget respon belum tercapai naikkan dosis 50%.
    Bila Hb naik >2,5 g/dL atau Ht naik > 8% dalam 4 minggu, turunkan dosis 25%.
  7. Pemantauan status besi: Selama terapi Eritropoietin, pantau status besi, berikan suplemen sesuai dengan panduan terapi besi.

1.2 Terapi EPO fase pemeliharaan 2,14

a. Dilakukan bila target Hb sudah tercapai (>12 g/dL).

  • Dosis 2 atau 1 kali 2000 IU/minggu.
  • Pantau Hb dan Ht setiap bulan.
  • Periksa status besi setiap 3 bulan.

b. Bila dengan terapi pemeliharaan Hb mencapai > 12 g/dL (dan status besi cukup) maka dosis EPO diturunkan 25%

Pemberian eritropoetin ternyata dapat menimbulkan efek samping diantaranya:

a. Hipertensi:

  • Tekanan darah harus dipantau ketat terutama selama terapi eritropoetin fase koreksi.
  • Pasien mungkin membutuhkan terapi antihipertensi atau peningkatan dosis obat antihipertensi.
  • Peningkatan tekanan darah pada pasien dengan terapi eritropoietin tidak berhubungan dengan kadar Hb.

b. Kejang:

  • Terutama terjadi pada masa terapi EPO fase koreksi.
  • Berhubungan dengan kenaikan Hb/Ht yang cepat dan tekanan darah yang tidak terkontrol.

Terkadang pemberian EPO menghasilkan respon yang tidak adekuat. Respon EPO tidak adekuat bila pasien gagal mencapai kenaikan Hb/Ht yang dikehendaki setelah pemberian EPO selama 4-8 minggu.

Terdapat beberapa penyebab respon EPO yang tidak adekwat yaitu:

  1. Defisiensi besi absolut dan fungsional (merupakan penyebab tersering).
  2. Infeksi/inflamasi (infeksi akses,inflamasi, TBC, SLE, AIDS).
  3. Kehilangan darah kronik.
  4. Malnutrisi.
  5. Dialisis tidak adekuat.
  6. Obat-obatan (dosis tinggi ACE inhibitor, AT 1 reseptor antagonis).
  7. Lain-lain (hiperparatiroidisme/osteitis fibrosa, intoksikasi alumunium, hemoglobinopati seperti talasemia beta dan sickle cell anemia, defisiensi asam folat dan vitamin B12, multiple mioloma, dan mielofibrosis, hemolisis, keganasan).

Agar pemberian terapi Eritropoietin optimal, perlu diberikan terapi penunjang yang berupa pemberian14:

  1. Asam folat : 5 mg/hari.
  2. Vitamin B6: 100-150 mg.
  3. Vitamin B12 : 0,25 mg/bulan.
  4. Vitamin C : 300 mg IV pasca HD, pada anemia defisiensi besi fungsional yang mendapat terapi EPO.
  5. Vitamin D: mempunyai efek langsung terhadap prekursor eritroid.
  6. Vitamin E: 1200 IU ; mencegah efek induksi stres oksidatif yang diakibatkan terapi besi intravena.
  7. Pemberian androgen (2-3 x/minggu);
  • Dapat mengurangi kebutuhan EPO.
  • Obat ini bersifat hepatotoksik, hati-hati pada pasien dengan gangguan fungsi hati.
  • Tidak dianjurkan pada wanita.

 

2. Terapi transplantasi ginjal ekstra korporeal atau peritoneal dialisis.

Seluruh terapi pengganti ginjal ekstra korporeal dan peritoneal dialisis pada dasarnya dapat juga mempengaruhi patogenesis anemia pada gagal ginjal, sejak prosedur ini dapat membuang toksin yang menyebabkan hemolisis dan menghambat eritropoesis. Selain itu, pengalaman klinis membuktikan bahwa perkembangannya lebih cepat daripada menggunakan terapi eritropoetin. Ketidakefektivan pada terapi pengganti ginjal merupakan akibat keterbatasan pengetahuan tentang toksin dan cara terbaik untuk menghilangkannya. Pendekatan sederhana untuk meningkatkan terapi detoksifikasi pada uremia dengan meningkatkan batas atas ukuran molekular yang dibuang dengan difusi dan atau transportasi konvektif tidak menghasilkan hasil yang memuaskan. Misalnya, tidak ada data yang membuktikan bahwa hemofiltrasi yang mencakup pembuangan jangkauan molekuler yang lebih besar dibanding hemodialisis dengan membaran selulosa yang kecil, merupakan dua terapi utama dalam mengkoreksi anemia pada gagal ginjal. Selain itu continious ambulatory peritoneal dialysis (CAPD), juga merupakan terapi dengan pembuangan jangkauan molekuler yang besar, ini lebih baik dibandingkan dengan hemodialisis standar dengan membaran selulosa yang kecil. Hal ini masih tidak jelas jika keuntungan CAPD ini hanya karena pembuangan yang lebih baik dari inhibitor eritropoesis. Beberapa penelitian mengindikasikan CAPD meningkatkan produksi eritropoetin, mungkin juga diluar ginjal dan karena oleh itu meningkatkan eritropoesis. Walaupun mekanismenya belum diketahui.13,14

3. Pembuangan kelebihan aluminium dengan deferoxamine.

Sejak inhibitor eritropoesis diketahui, pada kasus intoksikasi aluminium, terapi dapat selektif dan efektif efek aluminium yang memperberat pada anemia dengan gagal ginjal selalu harus diasumsikan ketika terjadi anemia mikrositik dengan normal atau peningkatan feritin serum pada pasien reguler hemodialisis. Diagnosis ditegakkan dengan peningkatan nilai aluminium serum, riwayat terpapar aluminium baik oral maupun dialisat, gejala intoksikasi aluminium seperti ensefalopati, penyakit tulang aluminium, dan keberhasilan percobaan terapi. Terapi utama adalah pemberian chelator deferoxamin (DFO) IV selama satu sampai dua jam terakhir saat hemodialisa atau hemofiltrasi atau CAPD. Range dosis 0,5 – 2,0 gr, 3 kali seminggu. DFO memobilisasi aluminium sebagai larutan yang kompleks, dimana kemudian dibuang dengan terapi dialisis atau prosedur filtrasi. Efek samping utama adalah hipotensi , toksisitas okular, komplikasi neurologi seperti kejang dan mudah terkena infeksi jamur. Efek samping ini berespons terhadap pemberhentian terapi sementara waktu, pengurangan dosis atau pemberhentian terapi. Efek DFO pada anemia dapat berakibat drastis menyebabkan perubahan nilai hemoglobine, feritin serum, dan konsentrasi aluminium, MCV, MCH pada pasien dengan ostemalasia yang berhubungan dengan aluminium. Pada permulaan terapi pasien mengalami anemia mikrositik peningkatan nilai aluminium serum dan feritin. Setelah beberapa bulan terapi dengan DFO, MCV dan MCH pada nilai diatas normal, hemoglobine meningkat secara signifikan dan feritin serum dan aluminium menurun.

4. Mengkoreksi hiperparatiroidisme

Sekunder hiperparatiroid pada anemia dengan gagal ginjal, paratiroidektomi bukan merupakan indikasi untuk terapi anemia. Pengobatan supresi aktivitas kelenjar paratiroid dengan 1,25- dihidroksi vitamin D3 biasanya berhubungan dengan peningkatan anemia.10,14

5. Terapi Androgen

Sejak tahun 1970 an androgen telah digunakan untuk terapi gagal ginjal. Efek yang positif yaitu meningkatkan produksi eritropoetin, meningkatkan sensitivitas polifrasi eritropoetin yang sensitif terhadap populasi stem cell. Testosteron ester (testosteron propionat, enanthane, cypionate), derivat 17-metil androstanes (fluoxymesterone, oxymetholone, methyltestosterone), dan komponen 19 norterstosteron (nandrolone dekanoat, nandrolone phenpropionate) telah sukses digunakan pada terapi anemia dengan gagal ginjal. Responnya lambat dan efek dari obat ini dapat terbukti dalam 4 minggu terapi. Nandrolone dekanoat cukup diberikan dengan dosis 100-200 mg, 1 x seminggu. Testosteron ester tidak mahal tetapi harus dibatasi karena efek sterilitas yang besar. Komponen 19-nortestosteron memiliki ratio anabolik: androgenik yang paling tinggi dan yang paling sedikit menyebabkan hirsutisme serta paling aman untuk pasien wanita. Fluoksimesterone dapat menyebabkan priapismus pada pasien pria. Penyakit Hepatoseluler kolestatik dapat menyebabkan komplikasi pada penggunaan zat ini dan lebih sering pada 17 methylated steroid. Pada keadaan meningkatnya transaminase darah yang progesif dan bilirubin serum yang meningkat, terapi harus dihentikan. Namun, komponen 17- methylated steroid ini memiliki ratio anabolik/ androgen yang baik dan dapat diberikan secara oral. Terapi dengan androgen dapat menimbulkan gejala prostatisme atau pertumbuhan yang cepat dari Ca prostat. Rash kulit, perubahan suara seperti laki-laki, dan perubahan fisik adalah efek samping lainnya pada terapi ini.2,3,10,14

6. Mengurangi iatrogenic blood loss.

Sudah tentu penatalaksanaan anemia pada penyakit ginjal terminal juga termasuk pencegahan dan koreksi terhadap faktor iatrogenik yang memperberat. Kehilangan darah ke sirkulasi darah ekstrakorporeal dan dari pengambilan yang berlebihan haruslah dalam kadar yang sekecil mungkin.

7. Suplementasi besi.

Penggunaan pengikat fosfat dapat mempengaruhi absorpsi besi pada usus. Monitoring penyimpanan besi tubuh dengan determinasi ferritin serum satu atau dua kali pertahun merupakan indikasi. Absorpsi besi usus tidak dipengaruhi oleh uremia, suplementasi besi oral lebih dipilih ketika terjadi defisiensi besi. Jika terapi oral gagal untuk memperbaiki defisiensi besi, penggantian besi secara parenteral harus dilakukan. Hal ini dilakukan dengan iron dextran atau interferon. Terapi IV lebih aman dan nyaman dibanding injeksi intra muskular. Syok anafilaktik dapat terjadi pada 1% pasien yang menerima terapi besi parenteral. Untuk mengurangi kejadian komplikasi yang berbahaya ini, pasien harus di tes dengan 5 menit pertama dengan dosis kecil dari total dosis. Jumlah yang diperlukan untuk replinish penyimpanan besi dapat diberikan dengan dosis terbagi yaitu 500 mg dalam 5-10 menit setiap harinya atau dosis tunggal dicampur dengan normal saline diberikan 5% iron dextran dan diinfuskan perlahan dalam beberapa jam.

Terapi besi fase pemeliharaan:

a. Tujuan : menjaga kecukupan persediaan besi untuk eritropoiesis selama terapi EPO.

b. Target terapi:

  • Feritin serum > 100 mcg/L – < 500 mcg/L.
  • Saturasi transferin > 20 % – < 40 %.

c. Dosis

1.IV :
– iron sucrose : maksimum 100 mg/minggu.
– iron dextran : IV : 50 mg/minggu.
– iron gluconate : IV : 31,25-125 mg/minggu.

2. IM : iron dextran : 80 mg/ 2 minggu.

3. Oral: 200 mg besi elemental : 2-3 x/hari.

4. Status besi diperiksa setiap 3 bulan.

5. Bila status besi dalam batas target yang dikehendaki lanjutkan terapi besi dosis pemeliharaan.

6. Bila feritin serum > 500 mcg/L atau saturasi transferin > 40%, suplementasi besi distop selama 3 bulan.

7. Bila pemeriksaan setelah 3 bulan feritin serum < 500 mcg/L dan saturasi transferun < 40%, suplementasi besi dapat dilanjutkan dengan dosis 1/3-1/2 sebelumnya.

8. Suplementasi asam folat.

Asam folat hilang masuk ke dialisat dari darah. Oleh karena itu, defisiensi asam folat dan anemia makrositik dapat terjadi pada pasien dengan asupan protein yang rendah sejak diet dari pasien dialisis reguler yaitu bebas dan biasanya mengandung asam folat yang cukup, defisiensi asam folat dan kebutuhan untuk suplementasi asam folat oral tidak diperlukan. Akhirnya, dokter harus lebih hati-hati dalam terapi darah ekstrakorporeal yang membawa resiko potensial yang didominasi oleh darah yang terkontaminasi dan kompartemen dialisat seperti logam dan kimia, yang dapat menyebabkan kerusakkan sel darah merah dan hemolisis.

9. Transfusi Darah

Transfusi darah dapat diberikan pada keadaan khusus. Indikasi transfusi darah adalah:

  • Perdarahan akut dengan gejala gangguan hemodinamik.
  • Tidak memungkinkan penggunaan EPO dan Hb < 7 g /dL.
  • Hb < 8 g/dL dengan gangguan hemodinamik.
  • Pasien dengan defisiensi besi yang akan diprogram terapi EPO ataupun yang telah mendapat EPO tetapi respon belum adekuat, sementara preparat besi IV/IM belum tersedia, dapat diberikan transfusi darah dengan hati-hati.

Target pencapaian Hb dengan transfusi darah adalah: 7-9 g/dL (tidak sama dengan target Hb pada terapi EPO). Transfusi diberikan secara bertahap untuk menghindari bahaya overhidrasi, hiperkatabolik (asidosis), dan hiperkalemia. Bukti klinis menunjukkan bahwa pemberian transfusi darah sampai kadar Hb 10-12 g/dL berhubungan dengan peningkatan mortalitas dan tidak terbukti bermanfaat, walaupun pada pasien dengan penyakut jantung. Pada kelompok pasien yang direncakan untuk transplantasi ginjal, pemberian transfusi darah sedapat mungkin dihindari. Transfusi darah memiliki resiko penularan Hepatitis virus B dan C, infeksi HIV serta potensi terjadinya reaksi transfusi.

Mengatasi anemia adalah bagian penting untuk meningkatkan kulaitas hidup dan kesehatan bagi penderita gagal ginjal kronik dan pasien dialisis. Segera bicarakan dengan dokter dan tim perawatan kesehatan anda untuk mempelajari lebih lanjut mengenai pengobatan anemia anda.

Sumber:
1. http://emedicine.medscape.com/article/1389854-overview#showall

2. http://www.davita.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's choice
Skip to toolbar