Pemerintah Didesak Dirikan Lembaga Donor Organ dan Komite Etik

Puluhan komunitas di Yogyakarta menolak jual-beli ginjal dan mendesak pemerintah untuk mendirikan Lembaga Donor Organ dan Komite Etik. Pernyataan itu disampaikan di acara Charity Fun Run dalam rangka Hari Peringatan Ginjal Sedunia di Lapangan GSP UGM, Minggu (13/3/2016) pagi.

Menurut Tika Musfita, ketua panitia sekaligus salah satu penggagas acara itu, lahirnya Lembaga Donor Organ dan Komite Etik di Indonesia akan berdampak positif bagi perkembangan cangkok organ dan jaringan, khususnya organ ginjal.

Lebih lanjut lagi, perempuan muda yang sudah dua tahun cuci darah ini menyatakan, dengan adanya lembaga tersebut proses transplantasi ginjal diatur dengan sebaik mungkin dan akanĀ  menghindari terjadinya perdagangan ginjal.

“Lembaga itu juga akan mengurusi donor ginjal mati. Hal ini akan meningkatkan jumlah organ ginjal untuk cangkok ginjal,” jelas Tika dalam siaran pers yang diterimaSindonews.

Dalam acara tersebut berhasil dihimpun dukungan tanda tangan dari peserta untuk sebuah petisi penolakan jual-beli ginjal dan desakan untuk membangun Lembaga Donor Organ dan Komite Etik.

“Kami akan mengirim petisi ini ke Komisi IX DPR RI sebagai bahan pertimbangan dalam menerapkan regulasi untuk cangkok ginjal,” tegas Tika.

Ketika dimintai komentarnya tentang acara ini, dr Iri Kuswadi, ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PENEFRI) Yogyakarta menyatakan bahwa ini adalah langkah awal yang sangat positif dalam membangun fondasi pemikiran masyarakat dalam hal donor organ ginjal.

Beberapa komunitas yang berpartisipasi dalam terselenggaranya acara ini adalah Indonesian Kidney Donor, Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia, Hidup Ginjal Muda, Klub Peduli Ginjal Jogja, PENEFRI, Asian Medical Students Association, Rampoe UGM, dan Paguyuban CAPD.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *