Pasien BPJS Protes ‘Cost Sharing’, Begini Penjelasan RSCM  

TEMPO.CO, Jakarta – Seorang penderita gagal ginjal dan peserta BPJS atas nama Tony Samosir, 32 tahun, belum bisa melakukan operasi cangkok ginjal di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo lantaran terbebani biaya cost sharing. Dia harus membayar karena RSCM hanya menyediakan kelas VVIP untuk pasien cangkok ginjal.

Menanggapi hal tersebut, Direktur RSCM C.H Soedjono mengatakan pada dasarnya pihaknya bisa melayani pasien cangkok ginjal dari pasien umum dan BPJS. “Untuk pasien BPJS, pasien dilayani sesuai kepesertaannya,” kata dia Jumat 4 Maret 2016.

Jika ingin menaikkan kelas kepesertaannya, maka pasien perlu menyediakan cost sharing atau iuran biaya. Untuk diketahui, pasien BPJS hanya menyelenggarakan untuk kelas I, II dan III.

Soedjono menjelaskan, di RSCM dalam penanganan pasien cangkok ginjal pasca operasi harus dirawat di satu ruangan yang diisi oleh satu pasien. Hal ini untuk menghindari infeksi.

Dalam kasus Tony, dia adalah pemegang BPJS kelas III yang secara aturan mendapat hak satu kamar dengan 6 pasien. “Sehingga untuk merawat satu pasien, maka lima tempat tidur lainnya harus dikosongkan,” kata dia.

Hal ini yang membuat pihak rumah sakit membutuhkan waktu untuk mempersiapkan kamar. “Selain itu diperlukan juga pengaturan waktu pasien yang sudah antri,” kata Soedjono. Meski demikian, dia memastikan tak akan ada perbedaan standar dan mutu pelayanan.

Setelah ada kasus ini, Soedjono mengatakan pihaknya akan segera menyiapkan ruang khusus pasien cangkok ginjal yang menggunakan jaminan BPJS. “Sehingga dapat meminimalkan antrian pasien rawat inap akibat pengurangan tempat tidur,” ujarnya.

Tony sudah mempersiapkan untuk menjalani operasi cangkok ginjal sejak Oktober 2015 di RSCM. Namun, sampai hari ini dia masih harus menunggu karena harus mempersiapkan cost sharing yang jumlahnya mencapai ratusan juta.

Tony yang juga Koordinator Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia ini pun menyampaikan protes ke Komisi Kesehatan DPR RI. Menurut dia, rumah sakit mengarah ke komersialisasi. “Ini seperti menutup pintu bagi warha miskin untuk operasi cangkok ginjal,” ujarnya. Tony sendiri adalah pemegang BPJS PBI (penerima bantuan iuran).

 

Sumber: Tempo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *